Dalam kisah Stefanus di Kisah Para Rasul 7, kita dapat menemukan sebuah kebenaran berharga akibat kematian Stefanus. Darah Stefanus bukan hanya menjadi benih gereja seperti yang dikatakan oleh Bapa Gereja, melainkan juga darah yang mendatangkan perubahan. Menjelang kematiannya, Stefanus berdoa, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis. 7:60). Doa ini seiring dengan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus ketika Tuhan Yesus mengalami aniaya, “ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Kualitas diri Stefanus mencerminkan keserupaan dengan Tuhan Yesus. Sebagai jawaban atas doa ini, pada Kisah Para Rasul 9 kita menemukan bahwa Saulus bertobat. Ketika ia rebah ke tanah, ada suara dari langit berkata: “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapakah Engkau Tuhan?” “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Kis 9:4b-5). Doa dari Stefanus, membuat Saulus—yang bertanggung jawab atas kematian Stefanus tersebut—bertobat. Saulus, yang mengakibatkan Stefanus mati, pada akhirnya bertobat.
Ketika Tuhan memperhadapkan kita dengan orang yang berkesalahan dimana kita menjadi korbannya, hal tersebut sesungguhnya merupakan sebuah proyek. Proyek ini adalah sebuah proyek perubahan dimana kita diajak untuk menjadi rekan sekerja Tuhan untuk mencerminkan keagungan karakter-Nya. Sering kali cara kita merespons orang yang menjahati kita keliru, sehingga berkat dari Tuhan berlalu begitu saja. “Berkat” di sini tentu tidak merujuk pada berkat rohani, tetapi berkat perubahan hidup. Ketika kita meminta kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh untuk diubahkan, maka Tuhan akan menanggapinya dengan sungguh. Ia akan mendatangkan berkat perubahan dalam hidup kita melalui cara-cara yang tidak selalu nyaman bagi diri kita. Kalau bangsa Israel berbicara mengenai berkat, maka orientasinya pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Tetapi bagi orang percaya yang orientasinya adalah langit baru bumi baru, berkat tersebut adalah menjadi serupa dengan Yesus.
Keagungan sebagai anak-anak Allah harus melalui proses pelatihan dan pendidikan yang Allah berikan. Jadi kalau kita mendapat perlakuan yang tidak adil, kita dijahati, dirugikan, dilukai, dan sebagainya, berarti kita sedang diberi didikan oleh-Nya. “Didikan Allah” di sini memiliki proyeksi kekekalan. Maka, keadaan itu bisa dikatakan sebagai berkat kekal. Keagungan sebagai anak Allah ini tidak bisa kita peroleh secara gratis atau secara otomatis. Memang banyak orang Kristen yang kanak-kanak dan merasa sudah agung karena jadi anak-anak Allah yang dipilih. Namun, Kristen yang dewasa membangun paradigma tentang keagungan diri dari perubahan karakter yang semakin seperti Kristus dan terpancar dari kehidupannya sehari-hari. Tuhan mau agar kita mengikuti jejak-Nya. Kalau kita mengikuti jejak Tuhan, kita akan dibawa di lorong dan jalan yang dijalani oleh Tuhan Yesus. Di antara lorong-lorong itu adalah perlakuan orang yang jahat terhadap kita. Ketika kita dilukai, disakiti, dirugikan, difitnah, didzolimi, di-bully, maka sekarang kita harus memandangnya ini sebagai berkat.
Jadi ketika Yesus berkata, “jadikan semua bangsa murid-Ku,” artinya “mereka harus belajar hidup seperti hidup yang Kujalani. Dan kalau mereka belajar hidup seperti hidup yang Kujalani, mereka harus memasuki lorong yang juga Kujalani, jalan-jalan yang juga Kujalani; jalan terjal yang Aku jalani, mereka juga harus menjalaninya. Sebab, hanya dengan cara demikian Aku bisa mengajarkan hidup-Ku.” Setiap kita dipanggil untuk menghidupi jalan yang juga dijalani oleh Tuhan. Tidak ada jalan atau cara lain dalam hal ini. Tuhan membawa kita di ombak kehidupan ini karena kita mau dilatih menjadi seperti Yesus.
Ketika kita diperlakukan tidak adil, dijahati, dilukai orang, kodrat di dalam diri kita ini pada umumnya bereaksi marah. Selanjutnya, memang sudah menjadi kodrat manusia pada umumnya untuk membalas. Akan tetapi sebaliknya, kita sebagai orang Kristen diajar untuk tidak membalas, melainkan mengampuni.