Telah dijelaskan pada bab sebelumnya yang membahas Roma 5:1-2, bahwa orang percaya yang dibenarkan oleh iman dapat memiliki persekutuan yang harmoni dengan Allah. Tentu saja hal ini tidak terjadi atau berlangsung secara otomatis. Hendaknya kita tidak berpikir bahwa jika seseorang dengan pikiran atau nalar menyatakan percaya (beriman) bahwa Yesus Juruselamat, maka dengan sendirinya (secara otomatis) dapat memiliki hubungan dengan Allah secara harmonis. Iman seperti ini bukanlah iman yang dimaksud oleh Alkitab. Ingat roh-roh jahat pun percaya ada Allah yang esa. Percaya atau beriman bukan hanya mengakui sesuatu, tetapi menyerahkan diri kepada yang dipercaya untuk melakukan kehendak-Nya.
Sesungguhnya, iman bukan hanya berarti percaya dalam pikiran, tetapi tindakan yang konkret seperti iman Abraham yang ditunjukkan atau dinyatakan dalam tindakan. Tindakan yang dibutuhkan atau dilakukan orang percaya adalah hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, sehingga dapat hidup dalam kesucian Allah. Hidup dalam kesucian artinya berkarakter seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, sehingga orang percaya dapat hidup dalam persekutuan yang harmoni dengan Allah. Roh-roh jahat pun percaya bahwa Allah ada dan esa, tetapi mereka tidak menuruti kehendak Allah, mereka tidak berkarakter seperti Bapa dan tidak serupa dengan Yesus. Orang yang mengaku percaya kepada Yesus harus berkarakter seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Jika belum, harus bergumul terus.
Manusia bisa memiliki persekutuan yang harmonis dengan Allah hanyalah karena kasih karunia, artinya tanpa adanya korban Tuhan Yesus di kayu salib tidak akan pernah terwujud sebuah hubungan bagaimanapun dengan Allah, apalagi harmoni. Dengan demikian, kasih karunia ini hanya ada pada orang percaya, tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan umat Perjanjian Lama dan orang-orang di luar gereja. Itulah sebabnya harus tegas dikatakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus. Keselamatan yang dimaksud di sini adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan semula, sehingga manusia dapat hidup dalam persekutuan dengan Allah secara harmoni.
Dengan kasih karunia ini orang percaya dapat bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan (Rm. 5:2). Kemuliaan itu harus dialami sekarang sejak hidup di bumi, yaitu sebuah kehidupan dalam persekutuan yang harmoni dengan Allah dan nanti setelah dunia ini berakhir menerima kuasa pemerintahan bersama dengan Tuhan Yesus di dalam Kerajaan-Nya. Dalam hal ini orang percaya yang benar, yaitu mereka yang memiliki persekutuan yang harmoni dengan Allah sehingga diperkenankan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.
Kata bermegah di dalam Roma 5:2-5 dalam bahasa aslinya adalah kaukhaomai (καυχάομαι), yang bisa berarti bersukacita atau memberi penghargaan, yang sama dengan memuliakan. Itulah sebabnya dalam bahasa Inggris kata ini diterjemahkan rejoice atau to glory. Sukacita atau memberi penghargaan tersebut ditujukan kepada kehidupan yang bersekutu secara harmoni dengan Allah atau kemuliaan yang akan diperoleh orang percaya pada kehidupan yang akan datang bersama dengan Tuhan Yesus. Dari hal ini dapat diteguhkan bahwa kasih karunia yang diberikan kepada orang percaya akhirnya bermuara pada kemuliaan yang diterima orang beriman yang benar, baik dalam kehidupan sekarang di bumi maupun di dalam Kerajaan Surga nanti.
Selanjutnya, Paulus meneruskan penjelasannya dalam Roma 5:3-5, Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
Kata bermegah dalam Roma 5:3 juga menggunakan kata kaukhaomai, artinya orang percaya harus bersukacita dalam kesengsaraan atau penderitaan yang harus dialaminya.