Dalam kehidupan umat Perjanjian Baru, kesucian atau kebenaran masing-masing individu adalah berbeda. Ini berarti kesempurnaan bisa relatif jika ditinjau dari obyek si pelaku kehidupan. Ini juga berarti setiap orang dihakimi menurut porsi yang diberikan oleh Allah kepada masing-masing individu. Ini bukan berarti kesempurnaan Allah relatif secara subyektif. Subyek kesucian adalah Allah sendiri. Ini berarti kesempurnaan ditinjau menurut subyeknya yang adalah Allah sendiri , bersifat mutlak dan absolut. Semua yang sesuai dengan keinginan Allah adalah kesempurnaan. Dalam hal ini kesempurnaan berpijak dan berangkat dari keinginan dan kehendak Allah. Hal ini sama dengan bahwa kesempurnaan berorientasi dari diri Allah sendiri, yaitu pada pikiran dan perasaan Allah yang merupakan segala sesuatu yang menyenangkan hati-Nya. Dari hal ini sangat dapat dimengerti mengapa Paulus mengatakan bahwa yang diusahakan adalah mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Selanjutnya, Paulus berusaha untuk berkenan kepada Allah, sebab kehidupan setiap orang diperhadapkan kepada penghakiman-Nya.
Jika suatu sikap atau tindakan tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak Allah, maka itu bukanlah kesempurnaan, walau hal tersebut nampaknya baik dan tidak melanggar norma umum manusia. Adapun kalau dikatakan bahwa kebenaran menjadi relatif jika ditinjau dari obyek pelaku kebenaran dalam hal ini manusia, sebab setiap orang memiliki tugas masing-masing yang berbeda dari Tuhan. Setiap orang memikul atau memuat kehendak Allah yang khusus dan berbeda satu dengan yang lain. Jadi masing-masing individu memiliki kesempurnaannya sendiri di mata Allah. Karena hal ini, maka penghakiman hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri.
Kebenaran Allah mutlak, tetapi pengenaannya kepada masing-masing individu bisa relatif, berhubung masing-masing orang memiliki keberadaan yang berbeda. Itulah sebabnya dalam suatu kesempatan Tuhan Yesus mengatakan: Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Luk. 12:48).
Dalam Perjanjian Lama ada orang-orang yang dikatakan oleh Alkitab tidak bercela, seperti misalnya Nuh (Kej. 6:9) dan Ayub (Ay. 1:8). Kata tidak bercela dalam Kejadian 6:9 adalah tamim (םימִתָּ). Juga dalam Ayub 1:8, Ayub dikatakan tidak bercela. Kata tidak bercela dalam dua ayat tersebut berakar sama. Tamim bisa diterjemahkan sempurna. Dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris diterjemahkan perfect. Tentu kesempurnaan yang dimaksud dalam teks tersebut tidak sama dengan kesempurnaan yang telah dicapai oleh Tuhan Yesus (Ibr. 5:7-9). Kesempurnaan kesucian yang telah dicapai oleh Tuhan Yesus tentu berbeda dengan kesucian yang dapat dicapai oleh orang percaya. Tidak ada yang dapat menyamai kesempurnaan kesucian yang telah dicapai dan dimiliki oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus satu-satunya Pribadi istimewa yang tiada duanya.
Diibaratkan sebuah soal ulangan, Tuhan Yesus menerima pertanyaan atau tugas paling banyak atau paling berat. Kalau dimisalkan jumlah, Tuhan Yesus menerima 1000 soal pertanyaan atau tugas, adapun untuk manusia berbeda, misalnya Rudi menerima 90 pertanyaan atau tugas, sementara Endang 110 soal atau tugas, dan lain sebagainya. Tuhan Yesus telah menyelesaikan setiap soal atau tugas dengan baik, dan Ia telah lulus yang sama artinya dengan menang. Demikian pula masing-masing individu juga harus lulus menyelesaikan soal dan tugasnya serta menang seperti Tuhan Yesus juga menang mencapai kesempurnaan (Ibr. 5:7-9). Dalam hal ini kesempurnaan masing-masing individu berbeda kualitasnya. Tetapi yang penting adalah bahwa masing-masing telah lulus atau menang dalam menyelesaikan soal atau tugas dalam kehidupannya sendiri.