Kalau mengikut TuhanYesus, kita harus hidup seperti Dia hidup. Ini merupakan suatu kemutlakan yang tidak bisa ditawar. Pada umumnya, banyak orang masih egois dan duniawi, yaitu masih mau menikmati dunia sama seperti anak-anak dunia menikmati dunia ini. Banyak orang merasa bahwa apa yang dimilikinya adalah milik mereka sendiri. Padahal, setelah kita menerima penebusan dari Tuhan Yesus, berarti kita telah menyerahkan seluruh milik kita. Dia yang menebus kita berhak sepenuhnya atas diri kita. Kita tidak lagi memiliki diri kitasendiri. Jadi, kalau seseorang sudah memberi diri ditebus, kebahagiaannya harus tidak lagi dunia ini. Jika masih menjadikan dunia sebagai kebahagiaannya, kitaakan gagal menerima keselamatan yang Tuhan sediakan dan berikan.
Orang Kristen yang tidak menyadari dan tidak menerima bahwa seluruh miliknya adalah milik Tuhan, maka ia pasti menggunakan semua harta kekayaannya secara semena-mena tanpa memedulikan kehendak dan rencana Allah. Hal ini juga berarti bahwamereka tidak memerhatikan perasan Allah Bapa. Biasanya orang-orang seperti ini merasa bahwa kesempatan hidup hanya satu kali di bumi ini.Setelah hidup di dunia ini, tidak adakejelasan atau kepastian adanya kehidupan lain. Ini pikiran fasik yang sangat berpotensi membinasakan manusia, termasuk di dalamnya orang-orang Kristen. Orang-orang seperti ini akan sangat menyesal ketika ternyata kehidupan yang sesungguhnya yang dirancang kembali oleh Allah adalah kelakdi langit yang baru dan bumi yang baru.
Suatu saat nanti banyak orang Kristen akan sangat menyesal, sebab ternyata sebenarnya mereka memiliki Allah yang juga adalah Bapa yang tidak terbatas yang memiliki segala kemuliaan, kerajaan, dan kuasa yang tidak terbatas. Allah Bapa telah menyediakan suatu Kerajaan untuk dinikmati setelah perjalanan perjuangan menjadi utusan Kristus. Yesus berkata,“Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”(Luk. 12:32). Selama masih hidup di bumi, iniadalah kesempatan untuk melayani Bapa, meneruskan karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus. Segala pengurbanan yang kita lakukan untuk meneruskan karya keselamatan tersebut diperhitungkan kekal oleh Bapa. Sebenarnya, apa pun yang kita lakukan untuk Dia, tidak sebanding dengan apa yang telahDia lakukan untuk kita.
Allah semesta alam yang Mahamulia sebenarnya tidak membutuhkan apa-apa. Diasebenarnya juga tidak membutuhkan kita sama sekali. Namun, kalau Allah Bapa berkenan melibatkan kita dalam rencana-rencana-Nya—seperti Bapa melibatkan Putra Tunggal-Nya—adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Di sini, kita menemukan kehormatan sebagai anak-anak Allah untuk bisa menanggung beban bersama Putra Tunggal-Nya. Oleh sebab itu, sudah saatnya bukan kita yang menuntut Allah untuk memberkati dengan berkat-berkat jasmani dan memuaskan kita dengan segala kesenangan versi kita sendiri. Kita mestinyatidak lagi memberi persembahan dengan catatan demi memperoleh balik berlipat kali ganda. Sudah saatnya gereja tidak lagi sibuk dengan persembahan perpuluhan, persembahan buah sulung, janji iman berupa uang dan sejenisnya. Sekaranglah saatnya, gereja mengarahkan jemaat dan para pelayan Tuhan untuk menjadi dewasa, yaitu memikul salib bersama-sama dengan Yesus.
Menjadi Kristen itu berarti harus menjadi seperti Kristus, yaitu menjadi anak-anak Allah yang mengerti kehendak Bapa untuk dilakukan dan rencana-Nya untuk diselesaikan. Dari hal ini, seseorang dapat mengerti dan memahami bagaimana menghayati kehadiran Allah secara tepat. Dalam kehidupan yang menghayati kehadiran Allah melalui mempelajari Alkitab, melalui perjumpaan dengan Allah setiap hari dalam doa, dan melalui pengalaman hidup, Allah mendewasakan kita. Kita pasti memiliki kecerdasan rohani. Kecerdasan rohani adalah ketepatan bertindak untuk melalukan apa yang menyukakan hati Allah. Kita pasti tidak akan melukai orang lain. Kita juga tidak mungkin merugikan sesama.