Di saat jumlah kasus COVID-19 melonjak tajam dan pembatasan wilayah mulai diberlakukan di beberapa daerah pada Maret 2020, sekolah-sekolah di penjuru Indonesia pun harus memasuki ranah baru. Sekolah harus ditutup, kegiatan belajar-mengajar terpaksa pindah ke ruang virtual.
Dalam suasana yang serba tak pasti, pihak sekolah, orang tua dan murid mencoba memahami ranah baru bernama pembelajaran jarak jauh (PJJ). Perpindahan mendadak ke ruang maya tak jarang membuat orang tua merasa kewalahan dalam mendampingi anak belajar di rumah, sementara para murid mengeluhkan rasa bosan serta kelelahan akibat terus-menerus memandangi layar gawai. Kondisi ini masih diperparah oleh kesenjangan digital di Indonesia.
Kekurangan infrastruktur atau ketersediaan gawai berarti murid kehilangan kesempatan untuk belajar. Dalam survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia yang dilakukan di trimester kedua tahun 2020 di seluruh negeri, jumlah pengguna internet terbesar berada di Pulau Jawa, yakni 56 persen, diikuti oleh Sumatra (22,1 persen). Angka ini semakin merosot di belahan timur Indonesia, yaitu Sulawesi (7 persen), Bali-Nusa Tenggara (5,2 persen), dan Maluku-Papua (3 persen).
Untuk menghindari terjadinya lebih banyak kehilangan kemampuan dan pengalaman belajar (learning loss), pada Januari lalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai mengizinkan sekolah-sekolah untuk mengadakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas seiring dengan tetap diberlakukannya PJJ.
Dalam episode keenam Pojok PINTAR, pembawa acara Jerry Arvino berbincang dengan Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd., Direktur Sekolah Dasar, Ditjen PAUD Kemdikbud, serta Merryen Silalahi, Manager Program PINTAR Tanoto Foundation, tentang apa yang perlu diketahui orang tua mengenai aktivitas belajar di sekolah dalam masa pandemi COVID-19.
a. Apa itu pembelajaran tatap muka terbatas
b. Apa yang perlu disiapkan orang tua dalam membantu anak kembali ke sekolah
c. Pentingnya membina kerja sama antara orang tua, guru dan murid