Pusat pusaran kebenaran atau episentrum kebenaran adalah Perjanjian Baru. Semua yang diajarkan dalam Alkitab mengarah kepada apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan mengarah kepada Pribadi-Nya. Oleh sebab itu, kalau kita menyoroti kehidupan tokoh-tokoh Alkitab, harus dirujuk pada jiwa atau spirit Perjanjian Baru dan pribadi Yesus sendiri. Dalam hal ini, umat Perjanjian Baru harus berpikir dengan alam Perjanjian Baru, dan berpikir serta berperasaan seperti yang terdapat pada Yesus. Banyak pembicara mengutip ayat-ayat dalam Perjanjian Lama atau kisah-kisah dalam Perjanjian Lama yang memuat pelajaran-pelajaran rohani untuk dikenakan bagi umat Perjanjian Baru. Hal ini bisa membangun bangunan pemikiran yang salah, sebab standar hidup umat Perjanjian Baru adalah Yesus, bukan siapa pun. Hal ini bukan berarti kita membuang Perjanjian Lama, melainkan kita harus memahaminya dalam bingkai pemikiran umat Perjanjian Baru. Oleh sebab itu, kalau kita mengambil ayat-ayat Perjanjian Lama atau kisah-kisahnya, harus dikaitkan dengan Perjanjian Baru, khususnya pribadi Yesus sebagai rujukannya.
Kalau kita belajar tentang Abraham, kita harus fokus pada percayanya Abraham kepada Yahweh dan jiwa kemusafirannya yang ternyata sinkron dengan Tuhan Yesus yang mengatakan, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat. 8:20). Dalam hal ini, hendaknya kita tidak menganggap penting kekayaan materi Abraham. Yesus tidak pernah menyinggung berkat Abraham yang dikaitkan dengan materi. Sejatinya, berkat Abraham adalah Yesus Kristus, yaitu keselamatan bagi semua bangsa (Kej. 12). Banyak pembicara hari ini yang sering menyinggung mengenai berkat Abraham yang fokusnya adalah kelimpahan materi. Dikesankan secara terang-terangan atau pun terselubung bahwa orang percaya (umat Perjanjian Baru) berhak memiliki berkat-berkat seperti yang dimiliki oleh Abraham. Hal ini menggiring fokus pemikiran orang Kristen kepada berkat jasmani, sehingga banyak orang Kristen menjadi duniawi.
Kalau kita berbicara tentang Ishak, kita melihat kerelaan Ishak untuk dikurbankan tanpa memberontak. Dalam kisah ini, yang seharusnya menjadi pusat perhatian bukan hanya Abraham, melainkan juga Ishak yang memiliki kesediaan menjadi kurban bakaran. Kita menemukan dua sosok hebat, pertama Abraham yang merelakan anaknya sebagai kurban bakaran, yang mana hal ini bisa menunjuk kepada Allah Bapa yang rela memberikan Putra Tunggal-Nya. Kedua, Ishak yang rela memberikan dirinya sebagai kurban bakaran. Ishak menjadi gambaran Anak Tunggal Bapa. Kisah ini dapat memberi inspirasi kepada kita mengenai kesediaan Anak Allah yang tulus memberi diri menjadi kurban pendamaian bagi umat manusia. Dengan hal ini, kita dapat meneladani hidup-Nya.
Berbicara tentang Daud, kita melihat kasihnya yang begitu kuat dan mendalam kepada Allah. Ia memiliki hati yang berkenan di hadapan Allah. Hati seperti ini juga ditunjukkan oleh Yesus dalam mengasihi Bapa yang dengan rela mengurbankan diri-Nya. Yesus taat kepada Bapa sampai mati di kayu salib. Hati Daud seperti inilah yang harus menjadi fokus perhatian kita. Kita melihat bahwa Allah mengajarkan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Hendaknya, kita tidak terperangkap oleh hal-hal yang bersifat minor dari kehidupan Daud, seperti yang dikemukakan banyak orang Kristen hari ini, yaitu puji-pujian dan tari-tarian yang dilakukan oleh Daud. Banyak orang ketika berbicara mengenai Daud selalu dikaitkan dengan hal-hal tersebut, sehingga hal yang lebih prinsip dari kehidupan Daud tidak dikemukakan. Harus diingat, bahwa Daud tidak menari setiap hari atau menyanyi seperti biduan setiap hari. Dalam hal ini, kita harus bisa menemukan hal-hal yang prinsip (major issue) untuk memberi pelajaran rohani bagi kita sebagai umat Perjanjian Baru, dan tidak terperangkap dengan hal-hal yang tidak prinsip (minor issue).