Kalau Allah benar-benar ada dan hidup, pasti Dia memenuhi apa yang dijanjikan bahwa Dia menyertai kita sampai kesudahan zaman. Dia beserta kita, maka mestinya Dia bisa kita nikmati dan keadaan kita mestinya baik-baik. Walaupun tentu ada pergumulan, persoalan, kesulitan, atau masalah, tetapi mestinya jiwa kita tetap teduh, tetap tenang, dan menikmati apa yang juga dijanjikan oleh Tuhan Yesus, bahwa damai sejahtera yang diberikan Tuhan kepada kita tidak sama dengan damai sejahtera yang diberikan dunia. Artinya, damai sejahtera atau suasana nyaman, teduh, tenang, bahagia, tanpa dipengaruhi oleh situasi lingkungan di sekitar kita. Dengan kalimat lain, Allah ingin bisa kita nikmati dan tentu saja Allah ingin bisa menikmati kita.
Orang tua yang baik, pada akhirnya, tidak mengingini apa-apa kecuali melihat anaknya dewasa, mandiri, bahagia, sukses. Tuhan lebih dari itu. Seberapa kita memercayai Tuhan bahwa Tuhan itu baik? Tuhan tidak memanipulasi, memanfaatkan dan mengintimidasi kita. Jangan membayangkan Tuhan seperti ilah banyak dewa dalam banyak agama. Allah kita adalah pencipta langit dan bumi. Kasih adanya; Maha Kasih, Maha Baik. Dia hanya ingin kita berkeadaan baik-baik. Tanpa menuntut apa-apa, sebenarnya. Dia menciptakan kita bukan untuk mengintimidasi, memanfaatkan, mengeksploitasi, mengisap kita. Tetapi ada hukum yang tidak bisa dilanggar dan tidak bisa dibatalkan, ditolak, atau diganti, bahwa keadaan umat ciptaan akan baik-baik kalau di dalam persekutuan yang benar dengan Khaliknya.
Manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah. Manusia itu makhluk sosial; tidak bisa hidup sendiri, berarti membutuhkan orang lain untuk bersosialisasi, berinteraksi, ber-fellowship. Allah juga ternyata Pribadi yang mau ber-fellowship. Dia punya anak-anak, malaikat-malaikat; ada makhluk-makhluk surgawi. Dengan mereka, Allah ber-fellowship. Allah menciptakan manusia—anak istimewa yang ditaruh di bumi, yang diciptakan sungguh amat baik—supaya Allah bisa ber-fellowship. Itulah sebabnya dikatakan di dalam firman Tuhan, “Tuhan Allah berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk.” Jadi, Tuhan juga hadir di Taman Eden untuk ber-fellowship. Tuhan mau kita ber-fellowship dengan Dia. Masalahnya, apakah fellowship kita dengan Dia sudah benar?
Tuhan mau keadaan kita baik-baik. Walaupun banyak masalah, tetap kita baik-baik. Bahkan ketika masalah yang kita hadapi itu akibat kesalahan, keputusan yang keliru, keserakahan, atau liarnya pikiran yang kita lakukan tanpa minta petunjuk-Nya, Tuhan tetap mau bersama dengan kita, memberikan kekuatan dan penghiburan. Mulai hari ini mari kita benar-benar mempersoalkan apakah fellowship kita dengan Tuhan itu sudah benar atau belum? 2 Korintus 6:17, “Sebab itu: keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan, demikianlah firman Tuhan, Yang Maha Kuasa.”
Kalimat “keluarlah kamu dari antara mereka” bisa berarti secara fisik agar kita jangan dekat bergaul dengan orang yang meracuni pikiran, dan memengaruhi gaya hidup kita. Walau tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari pertemanan dengan orang-orang di sekitar kita. Namun, jangan hidup sama seperti mereka yang tidak atau bukan umat pilihan. Itulah sebabnya menjadi hal yang sangat penting, untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita untuk kita lakukan setiap saat. Penting untuk memperkarakan hidup kita di hadapan Tuhan, apakah jalan kita sudah diperkenan Dia atau tidak. Masing-masing kita punya usia rohani yang berbeda. Tentu apa yang dikehendaki oleh Allah dalam hidup kita masing-masing pun berbeda. Namun, prinsipnya yaitu jangan serupa dengan dunia ini supaya kita mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2).
“Yang baik” tentu ini ukuran secara umum.