
Sign up to save your podcasts
Or


Info Pekan ini
Lansiran Blow.streetvoice.com
~ Taiwan - Indonesia Metalhead, sebarkan musik metal via komunitas musik di Taiwan.
Nur Khozin adalah salah satu pendiri klub “ Taiwan-Indonesia Metalheads” yang mengaku alasannya mendirikan klub ini adalah dalam rangka mendukung pendukung para metalhead Indonesia di Taiwan. saat di dirikan pada tahun 2018 lalu bersamaan dengan sebuah festival Rock Taiwan yang bernama Shan hai Tun kebetulan mengundang sebuah band metal asal Kalimantan-Indonesia yang bernama Kapital, selang beberapa bulan kemudian, Dead Squad asal indonesia juga turut meriahkan skema musik metal di Taiwan dengan mengisi pertunjukkan di Live House Revolver Taipei.
Khozin yang telah tinggal dan menetap di Taiwan selama 5 tahun, mendirikan klub tersebut untuk menjadikan klub ini sebagai sebuah wadah dan mengumpulkan serta menjadi sebuah tempat untuk berkomunitas bersama para pecinta musik metal bagi warga Indonesia di Taiwan. beberapa penggemar musik mulai mengunjungi ke beberapa pertunjukkan musik metal lokal untuk menjelajahi band grup favorit. Nur Khozin menyebutkan bahwa band lokal yang paling di gemari pada saat ini antara lain adalah : The Shining, Flesh Juicer, Orchid Knife, dan Stupid Ass yang di kenal dengan slamming Death Metal.
Artikel ini adalah Karya : “ Working Voices Indonesian Migrant Worker’s Music Scene and Singing Communication.” yang bekerjasama dengan Trans/voices Project and Cultural Taiwan Foundation pada tahun 2022. judul aslinya adalah “ Bukan tentang pop, bukan Dangdut, kami ini Metalhead.” pada tanggal 17 Juli 2022, tepatnya minggu siang, alunan musik yang menggelegar terdengar dari kejauhan di sekitaran taman budaya dan kreatif Tainan, ruang pameran ini dapat menampung kapasitas penonton sebanyak 250 orang, dimana vokalis yang meraung di atas panggung, dentuman tabuhan suara drum yang cepat, di iringi dengan deru gitar yang sarat dengan distorsi. Penonton tampak ikut menikmati lagu-lagu yang di nyanyikan di atas panggung, semua serba hitam, melompat mengikuti musik dan saling memukul tubuh mereka sendiri sebagai tanda sebuah dukungan dan apresiasi kepada lagu yang di lantunkan.
Ini adalah penampilan dari “ Om2 Berisik @Tainan yang di bawakan oleh band Jubah Hitam yang di ikuti oleh Nur Khozin dalam Trans/Voices Project. The Black Robe Band adalah band Indonesia yang berbasis di Taiwan, grup ini sebagian besar terdiri dari sekelompok pekerja Migran Indonesia yang berdomisili di Chiayi. pertunjukkan ini tidak hanya menampilkan Black Robe, turut di ramaikan dengan Southern Riot dan duo pop Jawa Firman & Dawer dari Tainan.
Acara Noisy Uncle In Fucheng - 府城吵鬧大叔 berhasil di gelar dengan sukses, berkat banyak pekerja migran yang menyukai dan mendukung para pengisi acara yang juga turut berkontribusi akan suksesnya kegiatan ini, tempat ini seakan hidup kembali. Menurut pengakuaan Satrio, seorang pekerja Migran asal Jawa tengah yang saat ini bekerja di Taichung, “ selama bertahun-tahun, tidak ada seorang pun di Taiwan yang mengadakan acara yang berfokus pada musik Punk dan Metal bagi Imigran Indonesia. “
Satrio sangat terkesan dengan kegiatan band musik Hardcore bagi PMI, bagi dirinya yang adalah seorang fans setia musik Punk dan Metal betul betul merasakan kehangatan tersendiri, sebelumnya juga sudah ada acara musik yang di sediakan bagi para PMI, kebanyakan yang bermain tetap fokus pada musik Pop, Rock, Dangdut, Orkes Melayu atau musik tradisional lokal seperti Tarling. sekarang sudah saatnya kita punya tempat untuk berkeringat.
~ Band Jubah Hitam
Taiwan sebagaian besar band atau musisi Imigran yang tampil di atas panggung akan fokus kepada genre yang di gemari oleh kalangan luas, misal musik Dangdut, musik Pop, lagu Pop, atau Dangdut, hanya ada segelintir band atau musisi yang memainkan musik Underground, karena itu Black Robe menjadi Outlier di kancah musik keras di Taiwan bagi PMI.
Band Black Robe saja tidak semerta merta langsung terjun ke dalam genre Metal pada awalnya, pada tahun 2019 ketika member awal dari Black Robe Dedy, David, Erwin, Fandi memulai band ini dengan memainkan lagu lagu pop indonesia pada tahun 80-an, seperti lagu-lagu dari Iwan Fals dan Nike Ardila.
Pada saat band ini berkumpul kembali untuk kedua kalinya, terjadi perubahan besar pada format band ini, semua anggotanya pergi kecuali David yang berniat untuk merekrut member baru, saat ini Black Robe beranggotakan 6 orang, antara lain : David ( GT ) , Roby ( VC ) , Andy ( GT), Dion ( BS ), Feri ( DR ) dan Harry ( SYNTH ).
Gitaris asal propinsi lampung - Sumatera yang bernama David menjabarkan bahwa “ kami berkumpul bersama karena musik Metal, bahkan semua orang sudah mulai gemar dengan musik metal sebelum datang ke Taiwan.”
~ Pertumbuhan Musik Metal Lokal
Musik Metal adalah genre yang cukup baru di Indonesia, hanya beberapa tahun setelah kebangkitan musik metal secara global, skema musik Metal yang muncul di Indonesia pada akhir 1980-an, di bandingkan dengan musik Rock yang cukup pesat perkembangannya serta dengan mudah di apresiasi oleh warga dengan cukup cepat pada awal tahun 1970-an, perbedaan yang cukup signifikan antar kedua genre ini adalah, Metal memiliki ritme yang lebih cepat.
Sama seperti halnya musik barat genre lainnya, pertama kali muncul di kota-kota besar di Indonesia seperti : Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan di Sumatera, dan Bali. band-band pelopor asal Jakarta seperti Roxx, Rotor, dan Suckerhead bisa di sebut sebagai pelopor musik Metal di Indonesia.
Metal berkembang menjadi banyak Subenre, misalnya Thrash di tahun 80-an dengan band-band ikonik dan melegenda hingga saat ini, nama-nama seperti Metallica dan Megadeth tentu sudah tidak asing lagi di telinga MetalHead.
Belakangan ini berbagai subgenre berkembang tanpa batas, seperti Black Metal dengan lirik lagu yang cukup gelap, Grindcore dengan ritme yang jauh lebih cepat, Death Metal dengan momentum yang brilian dan Metal yang lebih melodik dan variasi ritme yang memperkaya aransemen sebuah lagu ( Metal Core ) .
Uniknya, meskipun musik Metal dimulai di kota-kota besar, namun segera menjadi populer di daerah, tidak heran apabila David dan Satrio mulai mendengarkan musik Metal sejak dini. Sepanjang arsip yang saya telusuri terkait musik Independen di Indonesia, musik Metal merupakan jenis musik Underground yang dengan cepat di serap oleh daerah bahkan ke pelosok. apabila di bandingkan dengan genre lain seperti Punk dan SKa yang tidak begitu menarik perhatian bagi warga-warga lain di luar dari kota besar. Indie Pop bahkan jauh lebih cepat di terima warga yang tinggal di kabupaten yang berbeda ataupun daerah pinggiran kota, hal ini membuktikan bahwa, Indonesia memiliki apresiasi dan preferensi musik yang cukup luas dan beragam, khalayak ramai baik tua dan muda punya selera masing-masing yang sangat luas.
simak terus yows..
By Ipung Chandra, RtiInfo Pekan ini
Lansiran Blow.streetvoice.com
~ Taiwan - Indonesia Metalhead, sebarkan musik metal via komunitas musik di Taiwan.
Nur Khozin adalah salah satu pendiri klub “ Taiwan-Indonesia Metalheads” yang mengaku alasannya mendirikan klub ini adalah dalam rangka mendukung pendukung para metalhead Indonesia di Taiwan. saat di dirikan pada tahun 2018 lalu bersamaan dengan sebuah festival Rock Taiwan yang bernama Shan hai Tun kebetulan mengundang sebuah band metal asal Kalimantan-Indonesia yang bernama Kapital, selang beberapa bulan kemudian, Dead Squad asal indonesia juga turut meriahkan skema musik metal di Taiwan dengan mengisi pertunjukkan di Live House Revolver Taipei.
Khozin yang telah tinggal dan menetap di Taiwan selama 5 tahun, mendirikan klub tersebut untuk menjadikan klub ini sebagai sebuah wadah dan mengumpulkan serta menjadi sebuah tempat untuk berkomunitas bersama para pecinta musik metal bagi warga Indonesia di Taiwan. beberapa penggemar musik mulai mengunjungi ke beberapa pertunjukkan musik metal lokal untuk menjelajahi band grup favorit. Nur Khozin menyebutkan bahwa band lokal yang paling di gemari pada saat ini antara lain adalah : The Shining, Flesh Juicer, Orchid Knife, dan Stupid Ass yang di kenal dengan slamming Death Metal.
Artikel ini adalah Karya : “ Working Voices Indonesian Migrant Worker’s Music Scene and Singing Communication.” yang bekerjasama dengan Trans/voices Project and Cultural Taiwan Foundation pada tahun 2022. judul aslinya adalah “ Bukan tentang pop, bukan Dangdut, kami ini Metalhead.” pada tanggal 17 Juli 2022, tepatnya minggu siang, alunan musik yang menggelegar terdengar dari kejauhan di sekitaran taman budaya dan kreatif Tainan, ruang pameran ini dapat menampung kapasitas penonton sebanyak 250 orang, dimana vokalis yang meraung di atas panggung, dentuman tabuhan suara drum yang cepat, di iringi dengan deru gitar yang sarat dengan distorsi. Penonton tampak ikut menikmati lagu-lagu yang di nyanyikan di atas panggung, semua serba hitam, melompat mengikuti musik dan saling memukul tubuh mereka sendiri sebagai tanda sebuah dukungan dan apresiasi kepada lagu yang di lantunkan.
Ini adalah penampilan dari “ Om2 Berisik @Tainan yang di bawakan oleh band Jubah Hitam yang di ikuti oleh Nur Khozin dalam Trans/Voices Project. The Black Robe Band adalah band Indonesia yang berbasis di Taiwan, grup ini sebagian besar terdiri dari sekelompok pekerja Migran Indonesia yang berdomisili di Chiayi. pertunjukkan ini tidak hanya menampilkan Black Robe, turut di ramaikan dengan Southern Riot dan duo pop Jawa Firman & Dawer dari Tainan.
Acara Noisy Uncle In Fucheng - 府城吵鬧大叔 berhasil di gelar dengan sukses, berkat banyak pekerja migran yang menyukai dan mendukung para pengisi acara yang juga turut berkontribusi akan suksesnya kegiatan ini, tempat ini seakan hidup kembali. Menurut pengakuaan Satrio, seorang pekerja Migran asal Jawa tengah yang saat ini bekerja di Taichung, “ selama bertahun-tahun, tidak ada seorang pun di Taiwan yang mengadakan acara yang berfokus pada musik Punk dan Metal bagi Imigran Indonesia. “
Satrio sangat terkesan dengan kegiatan band musik Hardcore bagi PMI, bagi dirinya yang adalah seorang fans setia musik Punk dan Metal betul betul merasakan kehangatan tersendiri, sebelumnya juga sudah ada acara musik yang di sediakan bagi para PMI, kebanyakan yang bermain tetap fokus pada musik Pop, Rock, Dangdut, Orkes Melayu atau musik tradisional lokal seperti Tarling. sekarang sudah saatnya kita punya tempat untuk berkeringat.
~ Band Jubah Hitam
Taiwan sebagaian besar band atau musisi Imigran yang tampil di atas panggung akan fokus kepada genre yang di gemari oleh kalangan luas, misal musik Dangdut, musik Pop, lagu Pop, atau Dangdut, hanya ada segelintir band atau musisi yang memainkan musik Underground, karena itu Black Robe menjadi Outlier di kancah musik keras di Taiwan bagi PMI.
Band Black Robe saja tidak semerta merta langsung terjun ke dalam genre Metal pada awalnya, pada tahun 2019 ketika member awal dari Black Robe Dedy, David, Erwin, Fandi memulai band ini dengan memainkan lagu lagu pop indonesia pada tahun 80-an, seperti lagu-lagu dari Iwan Fals dan Nike Ardila.
Pada saat band ini berkumpul kembali untuk kedua kalinya, terjadi perubahan besar pada format band ini, semua anggotanya pergi kecuali David yang berniat untuk merekrut member baru, saat ini Black Robe beranggotakan 6 orang, antara lain : David ( GT ) , Roby ( VC ) , Andy ( GT), Dion ( BS ), Feri ( DR ) dan Harry ( SYNTH ).
Gitaris asal propinsi lampung - Sumatera yang bernama David menjabarkan bahwa “ kami berkumpul bersama karena musik Metal, bahkan semua orang sudah mulai gemar dengan musik metal sebelum datang ke Taiwan.”
~ Pertumbuhan Musik Metal Lokal
Musik Metal adalah genre yang cukup baru di Indonesia, hanya beberapa tahun setelah kebangkitan musik metal secara global, skema musik Metal yang muncul di Indonesia pada akhir 1980-an, di bandingkan dengan musik Rock yang cukup pesat perkembangannya serta dengan mudah di apresiasi oleh warga dengan cukup cepat pada awal tahun 1970-an, perbedaan yang cukup signifikan antar kedua genre ini adalah, Metal memiliki ritme yang lebih cepat.
Sama seperti halnya musik barat genre lainnya, pertama kali muncul di kota-kota besar di Indonesia seperti : Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan di Sumatera, dan Bali. band-band pelopor asal Jakarta seperti Roxx, Rotor, dan Suckerhead bisa di sebut sebagai pelopor musik Metal di Indonesia.
Metal berkembang menjadi banyak Subenre, misalnya Thrash di tahun 80-an dengan band-band ikonik dan melegenda hingga saat ini, nama-nama seperti Metallica dan Megadeth tentu sudah tidak asing lagi di telinga MetalHead.
Belakangan ini berbagai subgenre berkembang tanpa batas, seperti Black Metal dengan lirik lagu yang cukup gelap, Grindcore dengan ritme yang jauh lebih cepat, Death Metal dengan momentum yang brilian dan Metal yang lebih melodik dan variasi ritme yang memperkaya aransemen sebuah lagu ( Metal Core ) .
Uniknya, meskipun musik Metal dimulai di kota-kota besar, namun segera menjadi populer di daerah, tidak heran apabila David dan Satrio mulai mendengarkan musik Metal sejak dini. Sepanjang arsip yang saya telusuri terkait musik Independen di Indonesia, musik Metal merupakan jenis musik Underground yang dengan cepat di serap oleh daerah bahkan ke pelosok. apabila di bandingkan dengan genre lain seperti Punk dan SKa yang tidak begitu menarik perhatian bagi warga-warga lain di luar dari kota besar. Indie Pop bahkan jauh lebih cepat di terima warga yang tinggal di kabupaten yang berbeda ataupun daerah pinggiran kota, hal ini membuktikan bahwa, Indonesia memiliki apresiasi dan preferensi musik yang cukup luas dan beragam, khalayak ramai baik tua dan muda punya selera masing-masing yang sangat luas.
simak terus yows..