Blitz Musik

Blitz Musik - 2023-04-18


Listen Later

Sekarang harus mixing Atmos? ( Part 2 ) 

Meskipun Dolby Atmos Music sudah tersedia untuk para pelanggan seri premium di platform Tidal dan Amazon, Sony juga tidak mau kalah dalam merilis teknologi 360 Reality Audio, nampaknya tidak banyak menarik banyak perhatian para Audiophile. Keputusan Apple untuk menghadirkan Atmos kepada publik tidak hanya menyudutkan pesaing layanan streamin untuk mengubah administrasi pembayaran langganannya, di lain sisi juga meminta para pengguna untuk kembali mencari sepasang headphone berkabel atau seperangkat Audio yang di pandu sistem Atmos untuk mencari tahu terkait hingar-bingar para pelaku di industri musik ini.

Apakah Dolby Atmos akan menjadi sebuah format baru secara de facto dalam proses perilisan sebuah musik ? apakah para artis dan produser sudah siap untuk merilis hasil karya dalam bentuk atmos?

Atmos adalah sebuah teknologi yang sangat cocok dengan pembuatan film, dimana penyampaian cerita akan dapat di sampaikan dengan sebaik mungkin dengan kapasitas yang dapat mencakup berbagai macam ide kreatif, atmos dapat bekerja atau bermain melawan perspektif visual yang di tampilkan oleh layar, menghasilkan pengalaman sinematik dengan penuh variasi, dari hiper-naturalistik hingga realitas yang membingungkan.

Namun penerapan format atmos ke dalam musik masih terasa sebagai sesuatu yang masih sangat asing dan di rasa memiliki beberapa kendala dalam potensinya. apakah sistem stereo pada jaman sekarang dalam dunia musik sudah mencapai titik jenuh hingga perlu di dongkrak dengan sistem atmos. publik masih terasa nyaman untuk mendengarkan lagu dengan sistem stereo.

~ Audio Spasial Apple adalah sebuah revolusi musik, tapi cobalah untuk mendapatkan sensasinya sendiri.

Sejarah telah menunjukkan bahwa setiap kali ada perubahan dan kemajuan dalam sebuah sistem/teknologi, pasti ada saja pro dan kontra antar perubahan tersebut.

Ambil contoh dimana sistem Mono yang banyak di adopsi sebelum tahun 1930, pada awal 1931 Alan Dower Blumlein adalah seorang sarjana elektronik yang telah berhasil mempatenkan sebuah sistem Suara Binaural, atau Stereo sistem yang kita kenal seperti saat ini, dengan bantuan suara pada film hitam putih yang dapat melacak percakapan antar para aktor sesuai dengan posisi yang terdapat di depan layar.

Sebelum tahun 1931, semua rekaman lagu yang di rilis di publik menggunakan sistem mono, dimana semua signal lagu di keraskan dan fokus kepada 1 sistem pengeras suara, meskipun suara mono terasa lebih jujur dan riil, namun banyak sekali kekurangan dalam segi kualitas suara. terkadang terkesan membingungkan, berantakan, instrumen yang tidak memiliki rongga untuk berekspansi, ngumpul jadi satu, DLL.

Kemudian lahirlah sebuah sistem stereo, dimana lebih mirip dengan pendengaran Binaural manusia yang dapat memungkinkan peletakan setiap instrumen sesuai dengan penataan yang di lakukan oleh seorang produser di dalam studio, ekspansi akan sebuah ruang 2 dimensi yaitu kiri-kanan, atas-bawah, dengan mudahnya dapat memberikan berbagai keunggulan sebuah elemen yang lebih baik dalam merepresentasikan hasil karya.

Setelah periode Limbo dalam dunia permusikan pada tahun 60-an, banyak sekali artis yang harus merilis lagu mereka dalam 2 versi yang berbeda, mono dan stereo demi memuaskan publik, tentu tidak semua artis akan selalu menyetujui kedua format ini. dan kondisi ini di perparah oleh ketika headphone pribadi mulai mencuat menjadi trend anak muda pada jaman tersebut dengan perilisan Walkman dari Sony.

Lahirlah sebuah paten baru yang sering kali membuat publik menjadi gempar dan para produser musik ketar-ketir, seperti Quadrophonic pada tahun 70-an dan audio 5.1 yang selalu di gemborkan sebagai masa depan musik. dimana hal ini tidak berlangsung lama dan trend ini harus di hadapkan oleh gang buntu dengan alasan banyak studio musik enggan untuk mengikuti trend ini dengan alasan investasi dana yang terlampau besar hanya untuk mendapatkan sebuah monitor yang dapat mendesain suara menjadi dimensi 3D untuk kenyamanan para pendengar yang lebih imersif. apabila di kembalikan kepada posisi pembeli/penikmat musik, maukah anda membeli Soundbar Dolby Atmos hanya untuk mendengarkan sebuah album The Darkside of the moon yang di rilis dalam format Quadraphonis?

Tidak seperti teknologi Quad atau 5.1, Dolby Atmos dapat lebih mudah mengatasi keengganan publik untuk berinvestasi pada sebuah perangkat pengeras suara, karena sebagian warga akan memiliki layanan streamin musik yang langsung akan mendapatkan layanan atmos juga tanpa biaya tambahan. Selain itu teknologi Atmos lebih berbasis kepada objek ketimbang harus bergantung pada saluran diskrit, hingga 118 objek suara yang dapat di replikasikan pada sistem apapun yang tentunya memiliki applikasi rendering digital untuk memutarkan Dolby Atmos. baik itu bioskop dengan 64 Speaker, Soundbar 7.1.2, Echo Studio, ataupun sepasang Headphone yang terhubung ke Iphone. secara alami pengalaman ini tentu akan sangat bervariasi dan tergantung sepenuhnya kepada pengaturan pemutaran suara yang di miliki setiap orang.

~ apakah Studio musik siap rilis Atmos?

Tentu hal ini akan menyuguhkan sesuatu yang lebih berbeda bagi para pendengar, opsi terbaru bagi pecinta musik. tapi apakah menonton sebuah pertunjukkan lebih enak di dengarkan di depan panggung, ketika tawaran sebuah opsi Atmos yang dapat membuat seakan para pendengar berada di tengah-tengah panggung,  misal ada suara terompet dan gitar di balik punggung pendengar?

~ butuh biaya banyak bagi produser untuk dapat merilis sebuah album atmos, tambahan speaker monitor yang harganya tidak murah, sebuah sistem digital rendering yang dapat memetakan semua letak suara via speker yang terpasang dalam sebuah ruang. misal 15.1, sembari menunggu perubahan dan trend dari pasar, maka dari itu hingga saat ini masih belum dapat di jabarkan bahwa Atmos akan menjadi sebuah trend terbaru yang dapat di implementasikan bagi sektor dunia industri musik, mungkin tahun depan, mungkin juga satu dekade lagi, biar pasar yang menentukan arah terkait Atmos. 

 

Pantau terus yows.. 

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Blitz MusikBy Ipung Chandra, Rti