
Sign up to save your podcasts
Or


Apakah betul teknologi telah merusak cara manusia menikmati musik? ( part 2 )
Bayangkan betapa gemparnya dunia ketika Founder perusahaan teknologi dunia Steve Jobs memperkenalkan perangkat pemutar musik digital untuk pertama kali, tepat 20 tahun yang lalu, Ipod Apple pertama kali dirilis dan mulai menjadi bibir omongan para warga pada saat itu, sebuah teknologi yang sangat fantastis. Pada masa itu, tidak sedikit dari kita yang mulai menggunakan berbagai perangkat pemutar musik secara digital yang hanya memiliki kapasitas terbatas. Tanpa sadar rilisan Ipod pertama membuat warga terlena dan bersedia menukar kualitas suara demi kenyamanan dalam membawa seluruh koleksi musik mereka di dalam saku. Tidak heran apabila Ipod dapat digolongkan sebagai sebuah perangkat pemutar musik mutakhir ketika pertama kali dirilis pada bulan Oktober 2001. Begitupun juga dunia Video, para penonton dapat dengan mudahnya menikmati sebuah acara dengan kualitas 4K dalam menonton berbagai film favorit atau acara televisi, bahkan perangkat televisi dengan kualitas gambar yang rendah pun menjadi sukar untuk dicari di masa ini.
Ponsel yang merupakan sebuah perangkat yang paling intim dengan manusia di zaman sekarang pun telah mengalami berbagai fase perubahan. Termasuk sebuah fungsi pengambilan gambar dan video dengan kualitas terbaik. Namun ada satu yang tidak berubah hingga saat ini, yaitu mikrofon internal yang hampir tidak di perbaharui dalam rilisan smartphone terbaru, demikian juga ceritanya dengan layanan streaming musik online seperti Spotify yang menyediakan musik terkompres versi digital kepada pendengarnya di seluruh dunia.
Ini bukanlah sebuah cerita yang baru, atau pembahasan yang baru muncul di tengah perkembangan teknologi canggih di era abad 21. Neil Young seorang penyanyi terkenal asal Kanada yang telah berhasil meraih berbagai penghargaan ajang dunia, salah satunya adalah Grammy dan Juno Awards. Kontribusi dirinya dalam perkembangan musik dunia bukanlah kaleng-kaleng, bahkan tidak tanggung-tanggung Young sering mengecam Apple dengan menuduh MacBook Pro memiliki kualitas audio yang mirip dengan mainan bayi. Dengan dalih inilah bahkan seorang Steve Jobs pernah dengan sesumbar membalas pesan dari seorang penyanyi kondang dengan sebuah pernyataan : “ kami membuat produk untuk konsumen, bukan Kualitas “. selama bertahun-tahun Young tidak segan dalam memberikan kritik kepada perusahaan penyedia layanan jasa streaming dan mengatakan dalam sebuah wawancara dengan The New York Times bahwa : “ saat anda mendengarkan musik sungguhan, anda akan tersesat didalamnya. Kendati demikian Spotify terus memutar kualitas suara yang terdengar seperti suara kipas angin listrik yang dibeli dari toserba”. Ini adalah sebuah pernyataan yang sangat terkenal dari sang Neil Young : “ Steve Jobs adalah seorang pionir digital ternama, tapi ketika dirinya pulang kerumah, dirinya tetap memutar Vinyl”.
Komunitas Audiophile ( adalah seseorang yang sangat tertarik dengan reproduksi suara kualitas tinggi ) telah lama mengungkapkan rasa tidak puas mereka terhadap kualitas audio Spotify. Banyak data suara yang tidak sesuai dengan lagu asli, bahkan terdengar sedikit lebih rendah ketimbang data asli dari lagu yang telah dirilis, Lossy Audio dan Fidelitas yang rendah. Yang sangat kentara ketika didengarkan melalui sepasang headphone nirkabel sejati dari ponsel cerdas. Namun bukan hanya itu saja, sikap manusia dalam mendengarkan musik secara keseluruhan juga telah berubah, terlebih dalam proses penciptaan sebuah hasil karya.
Intro sebuah lagu ?
Intro sebuah lagu adalah perkenalan pertama bagi pendengar musik, bagai seseorang yang akan memperkenalkan dirinya sendiri di dalam ruang lingkup sosial, berbagai cara yang dirasa akan memiliki keunikan tersendiri bagi setiap individu. Banyak dokumentasi terkait pembuatan musik dari berbagai platform, dimana sebuah band yang sedang membuat hasil karyanya di dalam sebuah studio musik. Misal The Beatles : Get Back, sebuah dokumentasi penuh dari Disney Plus yang sedang meliput proses dan cara band dunia ini bekerja dibalik tirai. Langkah kreatif yang diambil di masa tersebut dalam membuat sebuah lagu dan intro dianggap sebagai sebuah harta karun bagi para pecinta Beatles. Kemudian kreativitas dari sebuah lagu pun berubah seiring perubahan zaman, hal yang dianggap sebagai ide organik akan dimasukkan kedalam sebuah intro lagu, tanpa ada kesepakatan atau rumus dari pembuatan sebuah lagu, dunia menerima sebuah kenyataan bahwa sebuah lagu itu butuh intro yang tepat untuk lagunya.
Lalu ketika musik menjadi lebih portable dan banyak orang menggantikan sebuah album menjadi daftar lagu, tanpa disadari pendengar musik jaman sekarang telah mengubah cara pembuatan lagu populer. Cobalah lihat kembali lagu-lagu favorit anda dari satu dekade yang lalu, anda akan melihat bahwa intro sebuah lagu dengan emosi yang dibangun secara perlahan dalam fase perkenalan sebelum beranjak ke bagan lagu yang lebih mendalam. Sebaliknya apa yang terjadi pada zaman sekarang? Lagu-lagu yang beredar di pasaran mayoritas akan dimulai dari sebuah hook ataupun sebuah bagan Reff. perilaku ini didukung oleh para pendengar, maka tidak heran apabila penulis lagu, artis, musisi memilih metode ini agar dapat diterima oleh para pendengarnya dengan metode “ to the point”. Tidak ada lagi lagu yang bertele-tele di bagian perkenalan, bahkan terdengar seperti sedang menunda demi sebuah durasi. Ini adalah perubahan yang sangat krusial.
Pantau terus yows, bersambung di pekan depan..
By Ipung Chandra, RtiApakah betul teknologi telah merusak cara manusia menikmati musik? ( part 2 )
Bayangkan betapa gemparnya dunia ketika Founder perusahaan teknologi dunia Steve Jobs memperkenalkan perangkat pemutar musik digital untuk pertama kali, tepat 20 tahun yang lalu, Ipod Apple pertama kali dirilis dan mulai menjadi bibir omongan para warga pada saat itu, sebuah teknologi yang sangat fantastis. Pada masa itu, tidak sedikit dari kita yang mulai menggunakan berbagai perangkat pemutar musik secara digital yang hanya memiliki kapasitas terbatas. Tanpa sadar rilisan Ipod pertama membuat warga terlena dan bersedia menukar kualitas suara demi kenyamanan dalam membawa seluruh koleksi musik mereka di dalam saku. Tidak heran apabila Ipod dapat digolongkan sebagai sebuah perangkat pemutar musik mutakhir ketika pertama kali dirilis pada bulan Oktober 2001. Begitupun juga dunia Video, para penonton dapat dengan mudahnya menikmati sebuah acara dengan kualitas 4K dalam menonton berbagai film favorit atau acara televisi, bahkan perangkat televisi dengan kualitas gambar yang rendah pun menjadi sukar untuk dicari di masa ini.
Ponsel yang merupakan sebuah perangkat yang paling intim dengan manusia di zaman sekarang pun telah mengalami berbagai fase perubahan. Termasuk sebuah fungsi pengambilan gambar dan video dengan kualitas terbaik. Namun ada satu yang tidak berubah hingga saat ini, yaitu mikrofon internal yang hampir tidak di perbaharui dalam rilisan smartphone terbaru, demikian juga ceritanya dengan layanan streaming musik online seperti Spotify yang menyediakan musik terkompres versi digital kepada pendengarnya di seluruh dunia.
Ini bukanlah sebuah cerita yang baru, atau pembahasan yang baru muncul di tengah perkembangan teknologi canggih di era abad 21. Neil Young seorang penyanyi terkenal asal Kanada yang telah berhasil meraih berbagai penghargaan ajang dunia, salah satunya adalah Grammy dan Juno Awards. Kontribusi dirinya dalam perkembangan musik dunia bukanlah kaleng-kaleng, bahkan tidak tanggung-tanggung Young sering mengecam Apple dengan menuduh MacBook Pro memiliki kualitas audio yang mirip dengan mainan bayi. Dengan dalih inilah bahkan seorang Steve Jobs pernah dengan sesumbar membalas pesan dari seorang penyanyi kondang dengan sebuah pernyataan : “ kami membuat produk untuk konsumen, bukan Kualitas “. selama bertahun-tahun Young tidak segan dalam memberikan kritik kepada perusahaan penyedia layanan jasa streaming dan mengatakan dalam sebuah wawancara dengan The New York Times bahwa : “ saat anda mendengarkan musik sungguhan, anda akan tersesat didalamnya. Kendati demikian Spotify terus memutar kualitas suara yang terdengar seperti suara kipas angin listrik yang dibeli dari toserba”. Ini adalah sebuah pernyataan yang sangat terkenal dari sang Neil Young : “ Steve Jobs adalah seorang pionir digital ternama, tapi ketika dirinya pulang kerumah, dirinya tetap memutar Vinyl”.
Komunitas Audiophile ( adalah seseorang yang sangat tertarik dengan reproduksi suara kualitas tinggi ) telah lama mengungkapkan rasa tidak puas mereka terhadap kualitas audio Spotify. Banyak data suara yang tidak sesuai dengan lagu asli, bahkan terdengar sedikit lebih rendah ketimbang data asli dari lagu yang telah dirilis, Lossy Audio dan Fidelitas yang rendah. Yang sangat kentara ketika didengarkan melalui sepasang headphone nirkabel sejati dari ponsel cerdas. Namun bukan hanya itu saja, sikap manusia dalam mendengarkan musik secara keseluruhan juga telah berubah, terlebih dalam proses penciptaan sebuah hasil karya.
Intro sebuah lagu ?
Intro sebuah lagu adalah perkenalan pertama bagi pendengar musik, bagai seseorang yang akan memperkenalkan dirinya sendiri di dalam ruang lingkup sosial, berbagai cara yang dirasa akan memiliki keunikan tersendiri bagi setiap individu. Banyak dokumentasi terkait pembuatan musik dari berbagai platform, dimana sebuah band yang sedang membuat hasil karyanya di dalam sebuah studio musik. Misal The Beatles : Get Back, sebuah dokumentasi penuh dari Disney Plus yang sedang meliput proses dan cara band dunia ini bekerja dibalik tirai. Langkah kreatif yang diambil di masa tersebut dalam membuat sebuah lagu dan intro dianggap sebagai sebuah harta karun bagi para pecinta Beatles. Kemudian kreativitas dari sebuah lagu pun berubah seiring perubahan zaman, hal yang dianggap sebagai ide organik akan dimasukkan kedalam sebuah intro lagu, tanpa ada kesepakatan atau rumus dari pembuatan sebuah lagu, dunia menerima sebuah kenyataan bahwa sebuah lagu itu butuh intro yang tepat untuk lagunya.
Lalu ketika musik menjadi lebih portable dan banyak orang menggantikan sebuah album menjadi daftar lagu, tanpa disadari pendengar musik jaman sekarang telah mengubah cara pembuatan lagu populer. Cobalah lihat kembali lagu-lagu favorit anda dari satu dekade yang lalu, anda akan melihat bahwa intro sebuah lagu dengan emosi yang dibangun secara perlahan dalam fase perkenalan sebelum beranjak ke bagan lagu yang lebih mendalam. Sebaliknya apa yang terjadi pada zaman sekarang? Lagu-lagu yang beredar di pasaran mayoritas akan dimulai dari sebuah hook ataupun sebuah bagan Reff. perilaku ini didukung oleh para pendengar, maka tidak heran apabila penulis lagu, artis, musisi memilih metode ini agar dapat diterima oleh para pendengarnya dengan metode “ to the point”. Tidak ada lagi lagu yang bertele-tele di bagian perkenalan, bahkan terdengar seperti sedang menunda demi sebuah durasi. Ini adalah perubahan yang sangat krusial.
Pantau terus yows, bersambung di pekan depan..