Blitz Musik

Blitz Musik - 2024-01-09


Listen Later

Cuma buruh yang bisa demo? Musisi juga! ( part 2 ) 

Program radio yang sangat mengandalkan rekaman merasa kesulitan untuk terus memperkenalkan musik baru kepada pendengarnya, dilansir dari WIKI Martin Block sebagai pembawa acara kondang dengan acaranya Make Believe BallRoom WNEW. menghindari larangan tersebut dengan meminta teman-teman dan rekan kerja yang berada di Inggris untuk mengirimkan versi rekaman yang diproduksi di tanah Inggris, dimana larangan dan aksi mogok para musisi Amerika tidak berlaku disana. Ini adalah cara yang sangat jitu lagi pintar, namun Martin Block terpaksa harus menghentikan praktik ini setelah orkestra rumah stasiun radio mendapatkan serangan dengan alasan bahwa WNEW setuju untuk tidak menyiarkan rekaman yang dibuat setelah 1 Agustus 1942. Satu-satunya organisasi musik terkemuka yang tidak terpengaruh oleh aksi pemogokan ini adalah Boston Symphony Orchestra, dikarenakan mereka tidak tergabung dalam serikat pekerja. Maka dari itu kerjasama inilah yang akan menjadi sebuah awalan dari serangkaikan konser radio BSO live di perusahaan rekaman CBS. 

~ fase berakhirnya aksi mogok

Beberapa perusahaan rekaman yang lebih kecil tentu tidak memiliki akses dan persediaan lagu yang besar, maka dari itu setelah setahun berlalu banyak perusahaan rekaman dengan skala menengah kebawah mulai menyelesaikan berbagai permintaan dari serikat musisi demi mencapai kemufakatan. Decca Records dan anak perusahaannya World Broadcasting System pada bulan September 1943 setuju untuk melakukan pembayaran langsung kepada serikat pekerja dengan kelas pembayaran yang dikategorikan sebagai “ Dana bantuan “ kepada serikat pekerja. Cara ini nampaknya dapat membuat semua pihak puas, maka dari itu tidak lama setelah hal itu terjadi, Capitol Records yang baru saja didirikan pada tanggal 11 Oktober 1943 turut memberikan “ Dana Bantuan “ tersebut agar dapat beroperasi dengan mudah. 

Tampaknya tidak semua perusahaan rekaman memilih untuk menggunakan cara ini demi mencapai kata mufakat, tidak sedikit perusahaan lain yang terus melayangkan berbagai gugatan dan melanjutkan kasus ini ke Dewan Hubungan Perburuhan Nasional dan Dewan Buruh Perang Nasional, dengan permintaan agar WLB dapat memonitor serta mengawasi AFM untuk dapat mencabut larangan terhadap rekaman musisi untuk perusahaan rekaman. 

Ketika AFM ( Asosiasi Musisi ) menolak untuk mematuhinya, masalah tersebut bahkan menjadi lebih gempar. Sontak menjadi cukup viral dan akhirnya permasalahan ini dirujuk kepada kuasa tertinggi yaitu Presiden Amerika Serikat pada saat itu, Franklin D Roosevelt. Respon dari presiden pun langsung ditujukan kepada kepala Asosiasi Musisi yaitu James Petrillo dengan isinya antara lain : 

Di negara yang menyukai pemerintahan demokratis dan menyukai persaingan yang ketat berdasarkan aturan main, pihak-pihak yang bersengketa harus mematuhi keputusan dewan. Meskipun salah satu pihak mungkin menganggap keputusan tersebut salah atau memberatkan. Oleh karena itu demi kepentingan pemerintahan yang tertib dan demi menghormati keputusan Dewan yang telah dipertimbangkan, saya meminta serikat pekerja anda untuk menerima perintah serta arahan dari Dewan Buruh Perang Nasional. Apa yang anda anggap sebagai kerugian tentu akan menjadi keuntungan bagi negara anda. Itulah bunyi telegram yang dilayangkan langsung kepada Petrillo oleh presiden pada tanggal 4 Oktober 1944. 

Lalu apakah Asosiasi menerima hal tersebut dengan hati yang terbuka dan lapang dada? Tentu tidak. 

Ribuan anggota serikat pekerja yang menolak untuk mengalah, dan perusahaan pesaing yang telah membuat rekaman baru selama lebih dari setahun. Begitupun juga dengan RCA Victor dan Columbia yang akhirnya turut menyerah menggunakan metode berbayar seperti ini dan menyetujui persyaratan secara substansial sama dengan perusahaan rekaman lainnya. Pada tanggal 11 November 1944, kontrak baru dengan AFM yang mencakup pelepasan artis dari kontrak rekaman eksklusif jika serikat pekerja menyerang perusahaan-perusahaan tertentu. Beberapa jam setelah penandatanganan kontrak baru, RCA Victor meminta Vaughn Monroe dan timnya untuk merekam dua lagu dari film musikal Metro Goldwyn Mayer yang baru, tanpa tedeng aling-aling rekaman tersebut berhasil di rekam, dicetak dan akhirnya dirilis dipasaran. 

Hal ini dapat digolongkan sebagai sebuah momen bahwa aksi mogok sudah tiada, namun kata kunci yang menjadi permasalahan semua musisi dan Asosiasi nampaknya bukan disitu. Melainkan perselisihan royalti, ketika televisi dimulai, muncul pertanyaan terkait musisi dan royalti dari media baru ini. Pemogokan serupa yang lebih singkat dilakukan pada tahun 1948 yang berlangsung hampir satu tahun. Apabila menilik hal ini, nampaknya pembagian dari hasil kerja keras yang tidak merata bagi musisi tidak terjadi belakangan ini. Ini adalah catatan sejarah yang mengacu kepada sebuah pendapatan yang tidak pantas bagi sebuah golongan. Lalu konsekuensinya apa? 

Dalam jangka panjang, perusahaan rekaman tidak dirugikan oleh aksi mogok tersebut. Pada tahun 1941 terdapat 127 juta rekaman yang terjual oleh perusahaan rekaman. Pada tahun 1946 tepatnya setelah 2 tahun aksi pemogokan ternyata jumlah omset penjualan perusahaan rekaman meningkat sebanyak 275 juta dan melonjak lebih tinggi lagi pada tahun 1947 menjadi 400 juta. 

Nampaknya aksi mogok musisi hanya akan menghentikan bisnis antara label rekaman besar dan musisi yang terikat kontrak dengan mereka. Ketika peralatan dan perangkat rekaman yang menganggur pada masa aksi mogok berlangsung, para promotor musik, distributor rekaman, dan pemilik toko yang memiliki koneksi khusus untuk mengambil sebuah kesempatan demi memulai label kecil seperti Savoy ( 1942 ), Apollo ( 1943-1944 ) yang dapat memenuhi kebutuhan pasar di industri musik tanpa harus berbelit dengan hukum yang berlaku dan mencari musisi-musisi yang tidak terikat dengan kontrak. 

Terkadang musisi yang memerlukan uang tambahan ataupun gaji pada waktu aksi mogok berlangsung, akan tetap bekerja dan merekam namun dengan satu pengecualian yaitu bahwa kredit dan nama sang musisi akan disamarkan dengan nama lain. Model bisnis tersebut berhasil untuk pasar di kota-kota besar seperti New York, Chicago, Los Angeles dimana pasar yang terkonsentrasi memungkinkan keuntungan yang cukup dari distribusi lokal. 

Tidak sedikit rekaman Jazz dan R&B penting secara historis yang terhitung dari pertengahan tahun 1940-an ternyata berasal dari label kecil dengan rilisan yang luar biasa nikmat untuk didengarkan, dan kredit lagu di dalam album tersebut bahkan disamarkan demi sebuah fenomena pada zaman itu. Rilisan dari perusahaan rekaman kecil-kecilan ini ternyata memiliki potensi yang cukup besar secara historikal seperti awal tahun 1944 “ Woody N You “ yang dirilis oleh Apollo yang diisi oleh musisi ternama seperti Coleman Hawkins dan Dizzy Gillespie yang sering disebut-sebut sebagai rekaman formal pertama dalam dunia Jazz Bebop. Meski terdengarnya tidak dapat memberikan keuntungan yang optimal bagi para musisi yang merekam, namun dapat sepakati bahwa label kecil ini memberikan sebuah kesempatan yang besar bagi para musisi, bahkan momen ini dikenal sebagai sebuah batu loncatan yang baik yang terkadang berujung pada kontrak dengan label yang lebih mapan dan besar. 

 

Pantau terus yows.. 

 

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Blitz MusikBy Ipung Chandra, Rti