
Sign up to save your podcasts
Or


Curhatan seorang musisi zaman sekarang ( Part 2 )
Wall of Sound juga menawarkan sebuah sistem Delay yang revolusioner, sebuah sistem yang dapat menyeragamkan frekuensi suara yang datang dari speaker yang berbeda demi memastikan bahwa suara tersebut dapat menjangkau setiap pendengar pada waktu yang sama, terlepas dari posisi mereka di dalam arena konser, sistem ini memanfaatkan teknologi mutakhir di era ini, termasuk juga sebuah amplifier yang dibuat khusus dan desain speaker unik yang dapat mengurangi distorsi demi meningkatkan kualitas audio.
Secara total, Wall of Sound terdiri dari 600 unit pengeras suara dengan berbagai ukuran, 26.000 watt daya yang siap dihantarkan dengan bobot total seberat 75 ton. Ini adalah sebuah perangkat raksasa yang memerlukan tim khusus yang terdiri dari 21 orang yang siap untuk membangun dan membongkar semua perangkat ini dalam setiap pertunjukkan yang digelar di beberapa kota yang berbeda. Dapat kita bayangkan 75 ton peralatan yang harus dipasang dan dibongkar di setiap panggung pertunjukkan di berbagai kota yang tersebar di seluruh daratan Amerika. Beban biaya demi sebuah pertunjukan Grateful Dead adalah sebuah budget yang luar biasa besarnya apabila di bandingkan dengan band lain pada saat itu, maka dari itu tidaklah heran apabila tim mereka memerlukan waktu dengan durasi yang lebih lama dan tim yang lebih besar ketimbang band lainnya.
Meskipun dapat memberikan sebuah pengalaman mendengarkan konser yang berbeda, namun ukuran dan kompleksitas dari Wall of Sound menghadirkan sebuah tantangan logistik yang akhirnya harus dihentikan di tahun 1974, namun perlu kita ingat bahwa kontribusi mereka dalam teknologi live performance tidak dapat kita lupakan.
Banyak teknisi suara dan penggemar audio masa kini yang masih tetap terngiang dan memberikan acungan jempol kepada Wall of Sound, karena pada saat itu belum ada satupun band lain yang dapat menawarkan kualitas audio suara dengan spesifikasi tinggi dalam mendengarkan sebuah pertunjukkan.
~ Noise Canceling Microphones
Ini adalah sebuah inovasi yang sangat membantu telinga para audiens terlebih pada saat menonton sebuah pertunjukkan live, sudah tidak asing lagi ditelinga penonton terpekik dengan suara melengking yang diakibatkan oleh faktor dunia astral. Mungkin sudah terbiasa atau pendengar sendiri menantikan pada saat-saat feedback lengkap dengan gaung yang berlebihan, hal ini penting sekali karena dapat mengganggu kelancaran sebuah pertunjukkan.
Kita semua harus berterima kasih kepada band Grateful Dead yang selalu mencari dan berpikir keras demi menciptakan sebuah kesempurnaan audio yang membawa mereka pada perjalanan untuk mengembangkan sebuah mikrofon peredam kebisingan yang revolusioner lagi penting untuk sistem suara yang megah dari band ini. Tim teknisi audio dari band ini dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, kontribusi mereka sangat besar dan sudah sepantasnya diangkat karena memiliki latar belakang yang menarik.
Kunci keajaiban dari mikrofon ini adalah teknik audio yang disebut dengan cancellation - fase tolak, metode yang cerdik ini bertumpu pada gagasan untuk menggunakan dua mikrofon di saat yang bersamaan. Dimana fungsi dari kedua mikrofon ini adalah untuk menangkap suara penyanyi dan mic lainnya berfungsi untuk menangkap suara sekitar. Dengan memanipulasi audio dengan cerdik antar kedua sinyal mikrofon yang berbeda ini, teknisi Grateful Dead mampu mengisolasi vokal dan menghilangkan feedback serta gema yang tidak diinginkan. Menurut teknisi dari Grateful Dead, Dan Healy menjabarkan bahwa penggunaan dua mikrofon ini akan berfokus kepada pola yang sangat sempit dan akurat.
Teknologi dibalik mikrofon ini merupakan sebuah terobosan canggih pada saat itu, seperti yang dijelaskan oleh sejarawan audio Howard Massey “ pembatalan fase adalah teknik yang sebagian besar belum dijelajahi dalam teknologi penangkapan suara, terlebih dalam sebuah pertunjukan live, hingga pada akhirnya Grateful Dead muncul.”
Penggunaan teknologi ini secara otomatis menjadi sebuah landasan baru bagi rekayasa suara yang telah menginspirasi generasi profesional audio di masa mendatang untuk mendorong batas-batas atau inovasi terbaru apakah yang akan segera terjadi.
Lalu mikrofon ini fungsinya apa? Selain dari meredam suara-suara yang tidak diinginkan atau gema yang berlebihan, selain itu mikrofon ini memainkan peran penting dalam menghantarkan suara vokal yang anggun dan jernih, bahkan di tengah gempuran suara sonik dari Wall of Sound. Dengan mengembangkan teknologi mikrofon ini, Grateful Dead telah mencapai tujuan mereka untuk memberikan pengalaman musik live yang tidak tertandingi.
Saat ini, teknologi mikrofon peredam kebisingan atau Noise Cancelling Mic telah berkembang dengan pesat, namun akarnya dapat kembali ditelusuri hingga kembali kepada karya yang dirintis oleh Grateful Dead. saat teman-teman tengah menikmati suara vokal yang jernih dan kencang dari sebuah konser, ingatlah untuk memberikan sebuah rasa hormat kepada band yang mengawali semua ini, bahkan inovasi dari GD terkait kesempurnaan audio telah meninggalkan sebuah legasi yang tidak dapat dihapuskan dari dunia live musik.
~ Revolusi musik digital
Ketika dunia mulai memasuki abad ke-21, dunia menyaksikan angin topan di dunia teknologi yang luar biasa besar, dan hal ini berdampak bagi semua umat di bumi. Revolusi digital yang tengah berjalan lancar dari berbagai sektor sontak merasakan kesibukan terbaru dan harus beradaptasi dengan semua perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam industri musik, khususnya para penggiat karya harus beradaptasi dengan cepat terkait perubahan teknologi yang siap melanda mereka.
Mari kita bahas Napster, sebuah gagasan dari Shawn Fanning dan Sean Parker yang telah mengirimkan sebuah gagasan baru dalam industri musik, tim duo ini telah melahirkan sebuah wadah atau platform yang akan mengubah cara kita dalam mengkonsumsi musik, ini adalah percikan api pertama yang siap membakar dunia musik versi digital.
Bersambung di pekan depan, pantau terus yows..
By Ipung Chandra, RtiCurhatan seorang musisi zaman sekarang ( Part 2 )
Wall of Sound juga menawarkan sebuah sistem Delay yang revolusioner, sebuah sistem yang dapat menyeragamkan frekuensi suara yang datang dari speaker yang berbeda demi memastikan bahwa suara tersebut dapat menjangkau setiap pendengar pada waktu yang sama, terlepas dari posisi mereka di dalam arena konser, sistem ini memanfaatkan teknologi mutakhir di era ini, termasuk juga sebuah amplifier yang dibuat khusus dan desain speaker unik yang dapat mengurangi distorsi demi meningkatkan kualitas audio.
Secara total, Wall of Sound terdiri dari 600 unit pengeras suara dengan berbagai ukuran, 26.000 watt daya yang siap dihantarkan dengan bobot total seberat 75 ton. Ini adalah sebuah perangkat raksasa yang memerlukan tim khusus yang terdiri dari 21 orang yang siap untuk membangun dan membongkar semua perangkat ini dalam setiap pertunjukkan yang digelar di beberapa kota yang berbeda. Dapat kita bayangkan 75 ton peralatan yang harus dipasang dan dibongkar di setiap panggung pertunjukkan di berbagai kota yang tersebar di seluruh daratan Amerika. Beban biaya demi sebuah pertunjukan Grateful Dead adalah sebuah budget yang luar biasa besarnya apabila di bandingkan dengan band lain pada saat itu, maka dari itu tidaklah heran apabila tim mereka memerlukan waktu dengan durasi yang lebih lama dan tim yang lebih besar ketimbang band lainnya.
Meskipun dapat memberikan sebuah pengalaman mendengarkan konser yang berbeda, namun ukuran dan kompleksitas dari Wall of Sound menghadirkan sebuah tantangan logistik yang akhirnya harus dihentikan di tahun 1974, namun perlu kita ingat bahwa kontribusi mereka dalam teknologi live performance tidak dapat kita lupakan.
Banyak teknisi suara dan penggemar audio masa kini yang masih tetap terngiang dan memberikan acungan jempol kepada Wall of Sound, karena pada saat itu belum ada satupun band lain yang dapat menawarkan kualitas audio suara dengan spesifikasi tinggi dalam mendengarkan sebuah pertunjukkan.
~ Noise Canceling Microphones
Ini adalah sebuah inovasi yang sangat membantu telinga para audiens terlebih pada saat menonton sebuah pertunjukkan live, sudah tidak asing lagi ditelinga penonton terpekik dengan suara melengking yang diakibatkan oleh faktor dunia astral. Mungkin sudah terbiasa atau pendengar sendiri menantikan pada saat-saat feedback lengkap dengan gaung yang berlebihan, hal ini penting sekali karena dapat mengganggu kelancaran sebuah pertunjukkan.
Kita semua harus berterima kasih kepada band Grateful Dead yang selalu mencari dan berpikir keras demi menciptakan sebuah kesempurnaan audio yang membawa mereka pada perjalanan untuk mengembangkan sebuah mikrofon peredam kebisingan yang revolusioner lagi penting untuk sistem suara yang megah dari band ini. Tim teknisi audio dari band ini dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, kontribusi mereka sangat besar dan sudah sepantasnya diangkat karena memiliki latar belakang yang menarik.
Kunci keajaiban dari mikrofon ini adalah teknik audio yang disebut dengan cancellation - fase tolak, metode yang cerdik ini bertumpu pada gagasan untuk menggunakan dua mikrofon di saat yang bersamaan. Dimana fungsi dari kedua mikrofon ini adalah untuk menangkap suara penyanyi dan mic lainnya berfungsi untuk menangkap suara sekitar. Dengan memanipulasi audio dengan cerdik antar kedua sinyal mikrofon yang berbeda ini, teknisi Grateful Dead mampu mengisolasi vokal dan menghilangkan feedback serta gema yang tidak diinginkan. Menurut teknisi dari Grateful Dead, Dan Healy menjabarkan bahwa penggunaan dua mikrofon ini akan berfokus kepada pola yang sangat sempit dan akurat.
Teknologi dibalik mikrofon ini merupakan sebuah terobosan canggih pada saat itu, seperti yang dijelaskan oleh sejarawan audio Howard Massey “ pembatalan fase adalah teknik yang sebagian besar belum dijelajahi dalam teknologi penangkapan suara, terlebih dalam sebuah pertunjukan live, hingga pada akhirnya Grateful Dead muncul.”
Penggunaan teknologi ini secara otomatis menjadi sebuah landasan baru bagi rekayasa suara yang telah menginspirasi generasi profesional audio di masa mendatang untuk mendorong batas-batas atau inovasi terbaru apakah yang akan segera terjadi.
Lalu mikrofon ini fungsinya apa? Selain dari meredam suara-suara yang tidak diinginkan atau gema yang berlebihan, selain itu mikrofon ini memainkan peran penting dalam menghantarkan suara vokal yang anggun dan jernih, bahkan di tengah gempuran suara sonik dari Wall of Sound. Dengan mengembangkan teknologi mikrofon ini, Grateful Dead telah mencapai tujuan mereka untuk memberikan pengalaman musik live yang tidak tertandingi.
Saat ini, teknologi mikrofon peredam kebisingan atau Noise Cancelling Mic telah berkembang dengan pesat, namun akarnya dapat kembali ditelusuri hingga kembali kepada karya yang dirintis oleh Grateful Dead. saat teman-teman tengah menikmati suara vokal yang jernih dan kencang dari sebuah konser, ingatlah untuk memberikan sebuah rasa hormat kepada band yang mengawali semua ini, bahkan inovasi dari GD terkait kesempurnaan audio telah meninggalkan sebuah legasi yang tidak dapat dihapuskan dari dunia live musik.
~ Revolusi musik digital
Ketika dunia mulai memasuki abad ke-21, dunia menyaksikan angin topan di dunia teknologi yang luar biasa besar, dan hal ini berdampak bagi semua umat di bumi. Revolusi digital yang tengah berjalan lancar dari berbagai sektor sontak merasakan kesibukan terbaru dan harus beradaptasi dengan semua perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam industri musik, khususnya para penggiat karya harus beradaptasi dengan cepat terkait perubahan teknologi yang siap melanda mereka.
Mari kita bahas Napster, sebuah gagasan dari Shawn Fanning dan Sean Parker yang telah mengirimkan sebuah gagasan baru dalam industri musik, tim duo ini telah melahirkan sebuah wadah atau platform yang akan mengubah cara kita dalam mengkonsumsi musik, ini adalah percikan api pertama yang siap membakar dunia musik versi digital.
Bersambung di pekan depan, pantau terus yows..