
Sign up to save your podcasts
Or


Curhatan seorang musisi zaman sekarang ( part 3 )
Kedatangan Napster benar-benar seperti sebuah ledakan sonik, awal mula dari keberadaan mereka hampir ditolak oleh berbagai perusahaan musik, bahkan industri pun tidak melirik terkait inovasi baru ini. Warga pecinta musik pada saat itu masih terlalu sibuk meng-copy atau menggandakan data MP3 yang akan diberikan kepada relasi, teman terdekat, pasangan, dan lain lain. Warga masih terbuai oleh kenikmatan dalam memberikan sebuah stik USB kepada kekasih atau orang tercinta mereka, menemukan musik baru yang enak di dengar menjadi sebuah nostalgia langka terlebih di tahun 2024.
Sebuah revolusi itu butuh perjuangan, tumpah darah, baku pukul dengan komunitas atau suku lain demi membuktikan siapa yang paling kuat dan benar. Sama halnya seperti revolusi dunia musik tradisional yang harus bergulat dengan kenyataan bahwa sebuah inovasi baru menjadi sebuah ancaman bagi metode lama dan harus diruntuhkan agar dapat segera digantikan oleh teknologi baru. Ketika MP3 menjadi populer, ditambah lagi dengan teknologi ponsel yang semakin canggih membuat banyak perusahaan teknologi terdepan yang tengah menciptakan sebuah revolusi pintar dalam ponsel. Ternyata fungsi perangkat MP3 juga dapat dimasukkan ke dalam sebuah ponsel, disinilah fungsi Napster sebagai wadah penyedia lagu yang berbasis internet meledak dalam waktu yang sangat singkat. Siapa sangka penjualan kaset, CD, Vinyl, atau berbagai produk yang dijual oleh perusahaan rekaman. Kering, layu, dan akhirnya mati di terpa pancaran digital yang sangat terik.
Dunia kaget, kacau akibat pengaruh warisan Napster yang menjadi cikal bakal metode utama dari para pendengar musik di seluruh dunia zaman sekarang. Tidak dapat disangkal bahwa Napster menjadi salah satu pengaruh terbesar yang menjadi sebuah katalis bagi peningkatan konsumsi masif dalam era konsumsi musik digital. Pintu ini berisikan arus keras layanan streaming dan platform online, salah satu yang paling kita kenal saat ini antara lain : Spotify, Youtube Music, Apple Music, DLL. ini adalah percikan yang memicu era baru dalam dunia musik digital. Apakah produk fisik dari sebuah perusahaan musik akan kembali lagi, hingga saat ini masih belum ada jawaban pasti, namun dunia digital dan analog pasti akan saling berkaitan satu dengan yang lain.
Intinya, ketika kita sedang merenungkan awal lahirnya Napster dan dampaknya yang sangat besar terhadap dunia musik, mau tidak mau kita merasakan sedikit nostalgia akan perubahan tersebut. Tidak heran banyak dari kita di zaman sekarang yang turut menjadi saksi dalam perubahan ini, patut pula digaris-bawahi bahwa Napster telah membuka jalan bagi masa depan musik selamanya, bahkan kita sebagai penikmat pun harus mengikuti perubahan ini, ups salah, kita sebagai penikmat musik di zaman sekarang juga tengah terbuai oleh seberapa efisien dan ringkasnya kebiasaan manusia dalam menikmati musik, kapanpun dan dimanapun bebas sesuai dengan keinginan kita.
~ Format musik digital
MP3 adalah sebuah inovasi canggih juga dalam dunia musik, sederhana, cepat dan efisien. Tidak pernah terpikir bahwa sebuah format audio terkompresi yang dapat memasukkan keseluruhan lagu ke dalam satu floppy disk. Iya floppy disk ( Gen Z zaman sekarang mungkin hampir tidak pernah melihat benda purba ini ). Tidak butuh waktu lama format musik Mp3 menjadi sebuah standar baru dalam kolam musik, dunia lagu yang baru ternyata lahir dari sebuah terobosan Moving Picture Experts Group ( MPEG ) dalam dunia teknologi visual. Akan tetapi Mp3 menggunakan model psikoakustik demi menghilangkan suara yang dianggap tidak terdengar oleh telinga manusia, misal dari frekuensi 20.000 Hz Hingga ke 48.000 Hz, hasilnya adalah ukuran file yang lebih kecil tanpa harus kehilangan kualitas audio yang signifikan. Mungkin ada populasi di dunia yang memiliki pendengaran yang dapat mendengarkan frekuensi suara di atas dari 20.000 Hz mungkin tidak akan suka dengan format lagu yang disajikan dalam data Mp3, tapi seberapa banyak kah jumlah orang seperti ini di dunia?
Mari kita bereksperimen sejenak, carilah beberapa lagu di Youtube dengan format lagu yang berbeda, lalu dengarkan dengan seksama apakah teman-teman dapat mengenali perbedaan dari lagu yang disuguhkan dalam format Mp3, Flac, AAC, atau bahkan format WAVE.
Kepergian Napster dari dunia streaming telah melahirkan cikal bakal baru yang telah menjadi anak didik dalam dunia berbagi data ini, misal LimeWire, Kazaa dan BitTorrent yang masing-masing developer menambahkan sedikit perbedaan ke dalam produk mereka. Awal tahun 2000-an jumlah populasi netizen yang sangat minim merasakan sebuah godaan untuk dapat menikmati banyak lagu, dengan metode yang sangat mudah, unduh, copy, dan bagikan. Betul-betul sebuah metode gratis lagi cepat. Iya, gratis! Hayu ngaku, saat kalian mendengarkan Mp3 di zaman itu siapa yang mengeluarkan dokat demi mendengarkan sebuah lagu?
Ketika hiruk-pikuk berbagi data telah mencapai klimaksnya, teknologi pun turut berkembang secara bersamaan. Dengan begitu sejumlah perangkat lunak yang dapat memenuhi selera pecinta musik digital yang tak terpuaskan menjadi begitu frontal, hampir bulannya muncul sebuah produk musik digital baru yang hampir tidak kita kenal. Berbagai aplikasi yang ramah dan tampak CANGGIH seperti Winamp dan iTunes mulai bermunculan. Perangkat lunak ini memudahkan kita untuk memutar, menghentikan, mengoleksi lagu dalam format Mp3 dengan mudah dan murah. Keajaiban ini menjadi kebutuhan pokok bagi setiap pecinta musik, apakah komputer PC kalian di zaman itu punya perangkat Winamp? Siapa yang tidak punya?
Tidak butuh waktu lama bahwa format Mp3 perlahan menjadi benda purba lagi usang, penantang lainnya dengan format yang lebih gagah dan tampan dengan cepat memasuki pasar ini. Format seperti Advanced Audio Coding ( AAC ) dan Free Lossless Audio Codec (FLAC) mulai menampakkan diri dan masing-masing memiliki fitur unggulan tersendiri. AAC bertujuan untuk memberikan kualitas suara yang lebih baik pada jumlah bit data yang sama apabila dibandingkan dengan Mp3, sementara FLAC menawarkan metode kompresi Lossless yang menjaga setiap detil di rekaman asli dari sebuah lagu. Seiring kemajuan teknologi, format ini menemukan tempatnya di kalangan audiophile yang tengah dalam sebuah misi demi mencari sebuah petualangan pencarian data lagu terbaik.
Dalam sejekap mata, dunia musik benar-benar telah berubah, didorong ke era baru yang berani dengan perpaduan kuat antara kecanggihan teknologi, inovasi berani, dan rasa penasaran yang tidak terpadamkan akan sebuah teknolgi terbaik.
Pantau terus yows..
By Ipung Chandra, RtiCurhatan seorang musisi zaman sekarang ( part 3 )
Kedatangan Napster benar-benar seperti sebuah ledakan sonik, awal mula dari keberadaan mereka hampir ditolak oleh berbagai perusahaan musik, bahkan industri pun tidak melirik terkait inovasi baru ini. Warga pecinta musik pada saat itu masih terlalu sibuk meng-copy atau menggandakan data MP3 yang akan diberikan kepada relasi, teman terdekat, pasangan, dan lain lain. Warga masih terbuai oleh kenikmatan dalam memberikan sebuah stik USB kepada kekasih atau orang tercinta mereka, menemukan musik baru yang enak di dengar menjadi sebuah nostalgia langka terlebih di tahun 2024.
Sebuah revolusi itu butuh perjuangan, tumpah darah, baku pukul dengan komunitas atau suku lain demi membuktikan siapa yang paling kuat dan benar. Sama halnya seperti revolusi dunia musik tradisional yang harus bergulat dengan kenyataan bahwa sebuah inovasi baru menjadi sebuah ancaman bagi metode lama dan harus diruntuhkan agar dapat segera digantikan oleh teknologi baru. Ketika MP3 menjadi populer, ditambah lagi dengan teknologi ponsel yang semakin canggih membuat banyak perusahaan teknologi terdepan yang tengah menciptakan sebuah revolusi pintar dalam ponsel. Ternyata fungsi perangkat MP3 juga dapat dimasukkan ke dalam sebuah ponsel, disinilah fungsi Napster sebagai wadah penyedia lagu yang berbasis internet meledak dalam waktu yang sangat singkat. Siapa sangka penjualan kaset, CD, Vinyl, atau berbagai produk yang dijual oleh perusahaan rekaman. Kering, layu, dan akhirnya mati di terpa pancaran digital yang sangat terik.
Dunia kaget, kacau akibat pengaruh warisan Napster yang menjadi cikal bakal metode utama dari para pendengar musik di seluruh dunia zaman sekarang. Tidak dapat disangkal bahwa Napster menjadi salah satu pengaruh terbesar yang menjadi sebuah katalis bagi peningkatan konsumsi masif dalam era konsumsi musik digital. Pintu ini berisikan arus keras layanan streaming dan platform online, salah satu yang paling kita kenal saat ini antara lain : Spotify, Youtube Music, Apple Music, DLL. ini adalah percikan yang memicu era baru dalam dunia musik digital. Apakah produk fisik dari sebuah perusahaan musik akan kembali lagi, hingga saat ini masih belum ada jawaban pasti, namun dunia digital dan analog pasti akan saling berkaitan satu dengan yang lain.
Intinya, ketika kita sedang merenungkan awal lahirnya Napster dan dampaknya yang sangat besar terhadap dunia musik, mau tidak mau kita merasakan sedikit nostalgia akan perubahan tersebut. Tidak heran banyak dari kita di zaman sekarang yang turut menjadi saksi dalam perubahan ini, patut pula digaris-bawahi bahwa Napster telah membuka jalan bagi masa depan musik selamanya, bahkan kita sebagai penikmat pun harus mengikuti perubahan ini, ups salah, kita sebagai penikmat musik di zaman sekarang juga tengah terbuai oleh seberapa efisien dan ringkasnya kebiasaan manusia dalam menikmati musik, kapanpun dan dimanapun bebas sesuai dengan keinginan kita.
~ Format musik digital
MP3 adalah sebuah inovasi canggih juga dalam dunia musik, sederhana, cepat dan efisien. Tidak pernah terpikir bahwa sebuah format audio terkompresi yang dapat memasukkan keseluruhan lagu ke dalam satu floppy disk. Iya floppy disk ( Gen Z zaman sekarang mungkin hampir tidak pernah melihat benda purba ini ). Tidak butuh waktu lama format musik Mp3 menjadi sebuah standar baru dalam kolam musik, dunia lagu yang baru ternyata lahir dari sebuah terobosan Moving Picture Experts Group ( MPEG ) dalam dunia teknologi visual. Akan tetapi Mp3 menggunakan model psikoakustik demi menghilangkan suara yang dianggap tidak terdengar oleh telinga manusia, misal dari frekuensi 20.000 Hz Hingga ke 48.000 Hz, hasilnya adalah ukuran file yang lebih kecil tanpa harus kehilangan kualitas audio yang signifikan. Mungkin ada populasi di dunia yang memiliki pendengaran yang dapat mendengarkan frekuensi suara di atas dari 20.000 Hz mungkin tidak akan suka dengan format lagu yang disajikan dalam data Mp3, tapi seberapa banyak kah jumlah orang seperti ini di dunia?
Mari kita bereksperimen sejenak, carilah beberapa lagu di Youtube dengan format lagu yang berbeda, lalu dengarkan dengan seksama apakah teman-teman dapat mengenali perbedaan dari lagu yang disuguhkan dalam format Mp3, Flac, AAC, atau bahkan format WAVE.
Kepergian Napster dari dunia streaming telah melahirkan cikal bakal baru yang telah menjadi anak didik dalam dunia berbagi data ini, misal LimeWire, Kazaa dan BitTorrent yang masing-masing developer menambahkan sedikit perbedaan ke dalam produk mereka. Awal tahun 2000-an jumlah populasi netizen yang sangat minim merasakan sebuah godaan untuk dapat menikmati banyak lagu, dengan metode yang sangat mudah, unduh, copy, dan bagikan. Betul-betul sebuah metode gratis lagi cepat. Iya, gratis! Hayu ngaku, saat kalian mendengarkan Mp3 di zaman itu siapa yang mengeluarkan dokat demi mendengarkan sebuah lagu?
Ketika hiruk-pikuk berbagi data telah mencapai klimaksnya, teknologi pun turut berkembang secara bersamaan. Dengan begitu sejumlah perangkat lunak yang dapat memenuhi selera pecinta musik digital yang tak terpuaskan menjadi begitu frontal, hampir bulannya muncul sebuah produk musik digital baru yang hampir tidak kita kenal. Berbagai aplikasi yang ramah dan tampak CANGGIH seperti Winamp dan iTunes mulai bermunculan. Perangkat lunak ini memudahkan kita untuk memutar, menghentikan, mengoleksi lagu dalam format Mp3 dengan mudah dan murah. Keajaiban ini menjadi kebutuhan pokok bagi setiap pecinta musik, apakah komputer PC kalian di zaman itu punya perangkat Winamp? Siapa yang tidak punya?
Tidak butuh waktu lama bahwa format Mp3 perlahan menjadi benda purba lagi usang, penantang lainnya dengan format yang lebih gagah dan tampan dengan cepat memasuki pasar ini. Format seperti Advanced Audio Coding ( AAC ) dan Free Lossless Audio Codec (FLAC) mulai menampakkan diri dan masing-masing memiliki fitur unggulan tersendiri. AAC bertujuan untuk memberikan kualitas suara yang lebih baik pada jumlah bit data yang sama apabila dibandingkan dengan Mp3, sementara FLAC menawarkan metode kompresi Lossless yang menjaga setiap detil di rekaman asli dari sebuah lagu. Seiring kemajuan teknologi, format ini menemukan tempatnya di kalangan audiophile yang tengah dalam sebuah misi demi mencari sebuah petualangan pencarian data lagu terbaik.
Dalam sejekap mata, dunia musik benar-benar telah berubah, didorong ke era baru yang berani dengan perpaduan kuat antara kecanggihan teknologi, inovasi berani, dan rasa penasaran yang tidak terpadamkan akan sebuah teknolgi terbaik.
Pantau terus yows..