Ternyata, pelayanan yang dipahami oleh banyak pejabat yang disahkan sinode—seperti pendeta dan pengurus sinode hari ini—lebih mengarah kepada teknis pelayanan dan sistem berorganisasi, bukan pelayanan yang benar sesuai yang dimaksud oleh Tuhan. Tekanan kegiatan pelayanan yang pada umumnya dilakukan oleh gereja dan sinode, lebih pada kemasan atau kendaraannya saja, bukan muatan atau isi yang seharusnya dibawa. “Kemasan” di sini maksudnya adalah hal-hal yang hanya menyangkut yang kelihatan; seperti mengatur organisasi dalam gereja, menyelenggarakan pelayanan pastoral, diakonia, mengajar Alkitab dalam berbagai media dan bentuk, memimpin puji-pujian, misi ke daerah, pendidikan umum, pendidikan teologi, dan lain sebagainya. Dengan demikian, maksud dan tujuan pelayanan tidak memenuhi visi dan misi yang harus ditunaikan oleh orang percaya sebagai utusan Kristus.
Banyak pejabat gereja atau mereka yang mengaku sebagai pelayan Tuhan merasa ada dalam kancah pelayanan pekerjaan Tuhan, padahal mereka hanya hanyut dan tenggelam dengan kesibukan yang tidak benar-benar menyelamatkan manusia. Inilah yang disebut sebagai pelayanan palsu. Tetapi kenyataannya, sangat sedikit orang yang menyadari kesalahan ini. Sebenarnya, kegiatan-kegiatan pelayanan tersebut adalah kendaraan yang sangat dibutuhkan untuk mewujudkan keselamatan bagi umat manusia, tetapi kalau tidak diisi dengan isi atau muatan yang benar dan tidak diselenggarakan oleh orang yang sudah mengalami perubahan kodrat, maka semua kegiatan tersebut menjadi sia-sia. Kendaraannya memang baik, tetapi kalau isinya atau muatannya salah atau kosong, maka sia-sia semua kegiatan tersebut.
Sejatinya, pelayanan adalah pengabdian yang sungguh-sungguh sampai pada tingkat pengorbanan tanpa batas yang berisi atau memuat usaha untuk mewujudkan keselamatan dalam kehidupan seseorang. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Jadi, pelayanan pada dasarnya adalah kegiatan yang berorientasi pada perubahan manusia. Perubahan itu adalah perubahan kodrat, dari manusia yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Ini berarti, setiap orang yang menjadi objek pelayanan harus mengalami perubahan diri sehingga sempurna seperti Bapa atau menjadi serupa dengan Yesus.
Jika suatu kegiatan tidak berorientasi pada hal ini, maka itu bukanlah pelayanan. Dengan demikian, kegiatan dalam lingkungan gereja belum tentu sebuah pelayanan; dan sebaliknya, kegiatan di luar lingkungan gereja tidak berarti bukan pelayanan. Kegiatan apa pun—di dalam maupun di luar lingkungan gereja—bisa disebut pelayanan jika menjadi dukungan dan berperan dalam usaha mengubah manusia; apa pun kegiatan tersebut selama tidak melanggar etika kehidupan. Kegiatan di lingkungan gereja bisa dikatakan bukan pelayanan kalau tidak berdaya guna mengubah manusia sesuai dengan maksud keselamatan diberikan oleh Allah. Kegiatan di lingkungan gereja yang tidak berdaya guna mengubah manusia ini, pasti sarat dengan agenda pribadi yang menguntungkan pribadi-pribadi pejabat gereja dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Keuntungan tersebut bisa berupa materi atau sebuah penghargaan dan penghormatan dari manusia. Sehingga, pelayanan pekerjaan Tuhan menjadi kegiatan bisnis terselubung bagi para rohaniwan.
Ciri dari kehidupan pendeta dan gereja yang telah kehilangan visi dan misi dari Tuhan tampak dengan adanya perebutan kekuasaan dalam gereja. Perebutan kekuasaan terjadi di dalam gereja lokal sampai sinode. Dalam gereja lokal, terjadi pertikaian antara majelis jemaat dan pendeta, antar majelis, antar pendeta dan antara aktivis atau antar pengerja gereja. Pertikaian yang terjadi di tataran para pemimpin gereja pasti merembet ke jemaat, sehingga jemaat ikut bertikai, dan mengakibatkan perpecahan serta kepahitan antar jemaat. Perebutan kekuasaan juga terjadi dalam tubuh para pemimpin gereja, yaitu dalam tubuh sinode. Pemilihan ketua sinode sering diwarnai dengan pertikaian,