Setiap orang percaya harus sungguh-sungguh mengalami dan membuktikan bahwa Allah adalah Pribadi yang hidup dan benar-benar nyata. Kalau seseorang percaya bahwa Allah ada, hidup dan bisa nyata, ia mestinya dapat mengalami Allah yang hidup dan nyata tersebut secara riil. Dengan hal ini, seseorang dapat memiliki kesaksian dalam batin, bahwa Allah itu hidup, nyata, dan dapat dialami secara riil. Bagaimana kita dapat membuktikan bahwa Allah adalah Allah yang hidup? Membuktikan bahwa Allah ada dalam kehidupan pribadi itu dilakukanbukan karena mengalami kuasa mukjizat-Nya. Terkait dengan kuasa dan mukjizat, Iblis pun sanggup melakukannya. Oleh karena itu, terkait dengan hal ini, ada beberapa bukti yang membuat seseorang dapat membuktikan bahwa Allah itu ada, hidup, dan bisa dialami secara riil.
Pertama, ketika seseorang mengalami perubahan karakter. Perubahan karakter ini semakin membuatnya berkodrat ilahi. Semakin hari iadapat merasakan betapa luar biasa keagungan kepribadian yang diajarkan oleh Allah kepadanya. Kalau menengok tahun-tahun sebelum seseorang bersungguh-sungguh belajar kebenaran, ia dapat melihat perbedaan yang sangat mencolok antara kehidupan dahulu dengan sekarang. Kita merasakan dan menghayati betapa hebat kuasa Allah yang bekerja di dalam dirikita agar kita mengalami perubahan. Dari hal ini, kita memiliki kesaksian dalam batin bahwa Allah ituada, hidup, dan bisa dialami riil. Dengan kehidupan seperti ini, kita barulah dapat menjadi berkat bagi semua orang. Dalam hal ini, kita barulah bisa mengerti bagaimana menjadi saksi Kristus.
Kedua, perasaan damai sejahtera yang sangat kuat, melebihi kesenangan dan kebahagiaan oleh apapun dan siapapun. Perasaan damai sejahtera dan bahagia tersebut belum pernah kita alami sebelumnya. Semakin hari, damai sejahtera tersebut akan semakin kuat. Hal itu membuat kita tidak terikat oleh suatu keinginan, kesenangan, atau kebahagiaan apapun. Orang-orang yang dapat menikmati damai sejahtera Allah secara benar dan proporsional tidak mungkin dapat tertawan oleh percintaan dunia. Mereka dapat memenuhi yang dikatakan dalam Firman Allah “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1Tim. 6:8).Mereka bisa mengikut Yesus dengan prinsip:“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”(Luk. 9:58). Hanya orang-orang seperti ini yang dapat mewujudkan Firman Allah untuk mengumpulkan harta di surga dan memindahkan hati ke dalam Kerajaan Surga. Mereka barulah dapat dikatakan sebagai orang yang “bukan berasal dari dunia ini,melainkanberasal dari surga” (bnd. Yoh. 17:14).
Ketiga, perasaan tidak takut menghadapi apapun. Hal ini tidak pernah terpikir sebelumnya, sebab kitabelum pernah mengalaminya. Saatmengalaminya, kita sendiri akanmenjadi kagum, bahwa ternyatakita bisa menjadi begitu kuat dan kokoh menghadapi segala keadaan. Kita bukan saja tidak takut menghadapi ancaman dan keadaan yang paling genting sepertibagaimana pun, bahkan kita tidak bisa menjadi takut. Keberanian yang paling menakjubkan adalah ketika kita tidak takut menghadapi kematian. Kematian yang merupakan “momok” yang menakutkan malahan menjadi hari atau saat yang dinanti-nantikan. Kematian bukanlah bencana atau malapetaka, melainkan“jembatan emas” untuk menuju kemuliaan bersama dengan Allah Yesus.
Keempat, perasaan mengasihi Allahyang sangat kuat. Perasaan cinta itubelum pernah kita alami. Perasaan cinta kasih ini mendorong kita untukmelepaskan segala sesuatu yang kita miliki demi kepentingan-Nya. Pelayanan pekerjaan Allah tidak lagi menjadi “kewajiban,” tetapi menjadi seperti “kebutuhan.”Denganhal itu, kita barulah bisa memahami pernyataan Yesus,“Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Bagi orang yang mengasihi Allah dengan benar, kebutuhannya adalah menolong sesama demi kemuliaan Allah. Hal ini mendorong kita untukmengasihi orang di sekitar kita dengan tulus dan dengan hati...