
Sign up to save your podcasts
Or


Episode ini mengulas Kekasih Musim Gugur, buku karya Laksmi Pamuntjak yang merupakan sekuel dari novel Amba. Ulasan menyoroti perang batin dua tokoh sentralnya, Siri dan Dara. Keduanya adalah feminis, yang alirannya berlawanan namun berkaitan.
Buku ini berisi kritik sosial seorang pemuda desa terhadap kaum urban. Lewat bukunya, Berton memotret pembangunan ala kota yang business-oriented dan membuat manusia menjadi individualistis. Berton menawarkan paradigma alternatif, agar manusia kembali pada fitrahnya sebagai mahkluk sosial, yang berkomunitas dan berbagi. Dia juga menyoroti isu lingkungan serta kesetaraan gender.
Di podcast ini, saya me-review buku legendaris, karya filsuf besar Immanuel Kant berjudul Kritik Atas Akal Budi Murni (Critique of Pure Reasons). Saya mengulas pandangan Kant tentang alam empiris dan alam transenden. Kedua alam itu menjadi tempat bersarang keyakinan yang populer di masa sekarang, yaitu sains dan agama. Apakah sains dan agama bisa dipercayai sekaligus? Dengan menggunakan paradigma Kant, keduanya bisa dipelajari dan dipercayai sekaligus.
Kita pasti pernah mengalami penderitaan, mengalami hal negatif. Kita merasa gagal, kalah, lemah dan hal negatif lainnya. Itu bisa membuat kita sangat terpuruk. Podcast ini menawarkan paradigma yang bisa kamu terapkan, untuk memperkuat diri mengatasinya. Bahkan, sebaliknya, kamu bisa terus berjalan dalam kebahagiaan, sekalipun bersinggungan dengan penderitaan.
Podcast ini membahas sisi ekonomi-politik dari kericuhan Omnibus Law atau RUU Cipta Kerja. Kenapa serikat buruh protes? Kita tahu, presiden Jokowi dan DPR RI memandang RUU Cipta Kerja sebagai sarana pembangunan ekonomi negara. Dengan RUU Cipta Kerja atau ciptaker, diharapkan investasi, bisnis dan UKM bisa berkembang pesat karena izinnya dipermudah.
Lantas, serikat buruh protes. Ciptaker atau omnibus law dianggap tidak merepresentasikan kepentingan buruh. Dilema ini menjadi arena pertentangan kelas, antara kelas buruh dan investor. Unjuk rasa ditempuh, judicial review ke MK menanti. Para aktivis pasang badan. Tak sedikit yang mendapat kekerasan atau ditangkap oleh kepolisian.
Setidaknya ada tiga poin penting dalam podcast ini: Menerima diri sendiri, belajar dari masa lalu dan membulatkan tekad. Tujuannya? Agar kita bisa lebih menikmati hidup.
Kita hidup dalam semesta cerita. Ada cerita di setiap titik yang kita ketahui. Jika kita membayangkan seluruh dunia sebagai kumpulan titik, maka setiap titik memiliki cerita yang terwujud ketika terhubung dengan titik lain. Setiap titik memiliki banyak cerita.
Kita mampu menyaksikan jalinan ceritanya. Cerita itu muncul dalam imajinasi lalu kita ungkapkan atau pikirkan sejenak. Jumlahnya tak terhingga. Jumlah cerita tergantung pada titik semesta yang terbayangkan.
Titik semesta mana yang kita pilih? Itu menentukan semuanya. Contoh sederhananya saat menentukan defenisi diri. Jawaban untuk pertanyaan "Siapakah aku (Who am I)?" tergantung pada titik yang kita pilih.
Contohnya, kita memilih titik profesi. Saya adalah seorang pekerja kreatif. Lalu kita hubungkan dengan titik lain, saya mencari duit dengan menulis. Terjalin cerita saya adalah seorang creative writter. Ingatan kita akan beradaptasi dengan cerita yang terjalin. Ingatan kita akan melengkapi detailnya dengan titik semesta yang lain.
Titik buruk lebih berpotensi menjalin cerita buruk. Pilihan kembali ke kita. Kita lebih menginginkan cerita yang baik atau buruk?
Di sekitar kita, orang-orang senantiasa menghadirkan cerita. Bisa jadi tanpa niat dipercaya, tapi tetap menyampaikan cerita. Mereka meluapkan kisah yang terlintas di benaknya. Cerita itupun memasuki imajinasi orang lain dan berpotensi untuk diyakini.
Seorang ekstrovert mampu menyampaikan cerita dengan cepat lewat berbicara. Suka terkoneksi dengan orang lain secara gamblang dan bisa bercerita tanpa henti. Ngalor-ngidul dengan siapapun dan kapanpun.
Seorang introvert kesulitan menyampaikan cerita secara gamblang. Cerita terpendam dan bersarang di imajinasi. Cenderung kaya akan cerita namun sulit bercerita. Perlu belajar untuk menyampaikan cerita, misalnya lewat karya atau teknik bercerita.
Kita harus memilih. Cerita yang berlebihan dapat membuat pusing. Mengamati terlalu banyak hal, mengganggu fokus pada cerita yang diyakini. Cerita mana yang tergolong realita? Cerita mana yang membenarkan tindakan kita? Cerita mana yang benar?
Setiap cerita yang kita pikirkan selalu mendesak untuk diterjunkan ke realita baik sebagai fakta, opini maupun karya. Kita menghadapi desakan itu setiap saat. Jika terpenuhi, kita bahagia. Kebahagiaan itu kemudian menjalin cerita baru. Melahirkan desakan baru.
Ini yang membuat manusia tak akan pernah puas. Didesak oleh cerita yang muncul terus-menerus. Semesta cerita mengendalikan kita.
Untungnya, di samping itu, kita turut mengendalikan semesta cerita. Kita mampu memilih titik semesta yang pantas dipedulikan. Kita mampu mengabaikan titik buruk dan bertahan pada titik baik. Kita biarkan titik itu menjalin cerita baik. Kita biarkan cerita baik terwujud agar hidup menjadi lebih baik.
Saya selalu mengingat satu quote, entah oleh siapa, yang menyatakan, "Jika ingin abadi, menulislah." Sebuah quote yang sangat powerful. Terkesan melebih-lebihkan tapi setelah dipikir-pikir benar adanya.
From the publisher's feed