Truth Daily Enlightenment

Catatan dalam Genggaman


Listen Later

Pernahkah kita membayangkan seandainya kita menghadap takhta pengadilan Kristus lalu Tuhan bertanya: “Apa yang ada dalam genggamanmu itu?” Mungkin genggaman kita seperti tidak ada apa-apa, tetapi di dalam genggaman itu ada catatan kita. Catatan itu memuat apa yang kita sayangi, kita kasihi, kita nikmati, yang mengikat kita sampai kita meninggal dunia. Anda dan saya meninggal tidak membawa apa-apa. Tetapi, goresan catatan itu ada dalam genggaman tangan kita, ada dalam telapak tangan kita, dan tidak ada yang dapat kita sembunyikan, ataupun tidak bisa kita hapus. Jadi, pada waktu kita meninggal, kita mencoba menghapus catatan itu, tidak bisa. Sudah tertulis di situ. Belum lagi dosa-dosa yang dinikmati yang belum terselesaikan.
Betapa mengerikan keadaan ketika kita harus berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus dengan catatan di kedua telapak kita. Mengerikan sekali! Kita ingin bisa membuangnya, tapi tidak bisa. Mestinya, selagi kita hidup di dunia ini adalah kesempatan membuang semua catatan itu, sehingga ketika kita meninggal nanti, tidak ada yang kita genggam lagi. Pada waktu kita menutup mata, kedua lengan kita bersih. Ada satu kalimat lagu yang penulis gubah, kalimatnya begini: “Saat kupulang menghadap Bapa, hanya Engkau yang kumiliki…” Jadi, catatan yang kita miliki cuma satu: Yesus.
Ada perjuangan untuk menghapus catatan itu karena jiwa kita terlanjur melekat dengan catatan tersebut. Bahkan dalam stadium tertentu, orang sampai tingkat kecanduan. Makanya ketika kita menyenangkan diri kita dengan suatu kesenangan, kesenangan itu menggores di dalam jiwa. Dipuaskan lagi, lebih menggores. Kalau terus-menerus dilakukan secara berlarut-larut dalam waktu yang lama, goresannya makin dalam sampai tidak bisa dihapus lagi. Misalnya orang senang disanjung dan ia mencari sanjungan. Setiap kali disanjung, ia menikmati itu menjadi goresan. Ia kecanduan untuk mencari sanjungan itu. Dia berusaha ini, dia berusaha itu, dia melakukan banyak hal yang intinya dia ingin memperoleh sanjungan. Akhirnya, kita tidak lagi mampu menghapus goresan tersebut, sampai goresan tersebut menjadi goresan yang abadi.
Sampai tingkat ini sudah berat, sudah tidak bisa dihapus, dan ini musibah. Benar-benar celaka ketika seseorang menghadap takhta pengadilan Kristus, dia tidak boleh masuk surga karena orang yang masuk surga harus hanya memiliki satu harta, yaitu Yesus. Tuhan mengatakan, “Kamu tidak bisa mengabdi pada dua tuan,” artinya harus hanya mengabdi pada Tuhan; tidak bisa mengabdi pada yang lain. Menghapus catatan itu tidak mudah karena sudah menyatu dalam diri kita. Tetapi oleh karena kebenaran Firman Tuhan yang kita dengar, kita bisa menghapus goresan itu. Dan Tuhan akan mengizinkan kita mengalami banyak persoalan yang melalui pergumulan hidup tersebut, kita diubahkan Tuhan menjadi seseorang yang berkenan di hadapan Tuhan. Kita diubahkan Tuhan dengan peristiwa-peristiwa hidup yang kita alami dan perubahan tersebut akan membuat kita sampai tidak mengingini apa pun dan siapa pun selain Tuhan.
Seperti pemazmur mengatakan, “selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi,” kita harus memiliki perasaan takut. Takut ketika menghadap Tuhan, apakah masih ada sesuatu yang kita genggam. Ketika Tuhan bertanya: “Apa yang kamu genggam?” Tidak ada lagi. Dan Tuhan tahu, ketika yang kita genggam ini hanya nama-Nya, dan kita baru bisa dikatakan sebagai perawan suci. Dikatakan sebagai “perawan suci” itu artinya perawan yang tidak ternoda. Ini tidak bicara mengenai seks, tidak bicara mengenai keperawanan dalam arti harfiah, melainkan orang yang hatinya tidak ternoda oleh keinginan-keinginan dunia. Orang yang hatinya hanya tertuju pada Tuhan Yesus, pasti dalam genggamannya hanya ada satu nama, yaitu nama Yesus; tidak ada nama lain.
Untuk menghapus keinginan-keinginan dunia, bukanlah sesuatu yang mudah. Tuhan tidak memberikan mukjizat atau kasih karunia sehingga kita bisa dengan mudah menghapus ikatan-ikatan kita dengan dunia ini.
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings