Kita bersyukur menjadi orang Kristen atau menjadi orang percaya yang memiliki Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Yang telah melewati proses panjang, yang dapat dibuktikan kebenarannya dari berbagi aspek dan perspektif. Kita percaya bahwa pengetahuan yang benar tentang Allah dan penciptaan alam semesta ini, mula-mula diberikan oleh Allah kepada Musa pada sekitar tahun 1500 SM. Ini sama dengan 1500 tahun sebelum adanya agama Kristen; atau sekitar 2100–2200 tahun sebelum ada agama Islam.
Dari kitab Perjanjian Lama yang kita miliki hari ini—yang sebenarnya merupakan kitab sucinya orang Yahudi—bisa dikenali siapa Allah yang benar. Dalam Alkitab Perjanjian Lama, kita menemukan bagaimana Allah menyatakan diri dengan tindakan-tindakan-Nya yang spektakuler, yang luar biasa untuk bangsa Israel yang peradabannya belum maju. Karena mereka telah hidup sebagai budak selama 320 tahun di Mesir. Kalau ditinjau dari sudut rohani, bangsa Israel adalah bangsa yang belum matang atau belum dewasa. Sebab, mereka hanya mengenal Allah dari tindakan-tindakan Allah secara lahiriah yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Dari apa yang dikemukakan dalam Alkitab Perjanjian Lama, kita bisa mengenal siapa Allah yang benar. Allah yang benar adalah Allah Israel.
Di dalam kitab Perjanjian Lama, Allah yang benar tersebut menyatakan diri-Nya dengan pernyataan: “Aku Allah Israel, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.” Allah atau Elohim yang proper name-nya adalah Yahweh adalah satu-satunya Allah yang benar. Bangsa Israel adalah saksi di bumi ini untuk menunjukkan siapa Allah yang benar dari banyak ilah yang ditawarkan oleh banyak agama. Itulah sebabnya, bangsa Israel—yang termasuk bangsa kuno di antara bangsa-bangsa di Kanaan—tetap eksis sampai hari ini. Sementara bangsa-bangsa kuno lainnya nyaris punah, atau bahkan punah. Bangsa Israel yang selama sekitar 2500 tahun tidak memiliki kerajaan dan tanah air—yaitu sejak Yehuda runtuh di tangan bangsa Babel tahun 586 SM—mereka bisa kembali ke Israel dan membangun sebuah negara. Ini adalah perbuatan tangan Allah yang besar. Kalau bukan Allah yang besar dan kuat, tidak mungkin bangsa itu bisa membangun kembali negara mereka.
Kalau kita membaca Alkitab, kita harus percaya dan menerima bahwa semua yang ditulis di dalam Alkitab bukan fiksi dan bukan dongeng. Semua yang ditulis itu adalah kejadian yang nyata, catatan sejarah dari fakta empiris yang benar-benar terjadi atau pernah berlangsung. Bukti-bukti arkeologinya pun dapat ditemukan dengan jelas. Seperti misalnya, ditemukannya alat-alat perang, senjata, kereta kuda di bawah Laut Kolsom. Ini menunjukkan bahwa pernah terjadi suatu peristiwa tenggelamnya pasukan atau tentara. Dan Alkitab mencatat peristiwa tersebut, yaitu Firaun dan tentaranya yang ditenggelamkan di Laut Kolsom sekitar tahun 1500 SM. Setelah 3500 tahun terhitung dari saat ini, masih ada sisa-sisanya, yang membuktikan bahwa kisah perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan itu bukanlah dongeng. Demikian pula dengan tulah-tulah yang Allah berikan kepada bangsa Israel, bukan dongeng. Tentu saja Laut Kolsom yang terbelah, Manna yang diturunkan dari langit, Tembok Yerikho yang roboh, semua itu merupakan fakta historis, fakta sejarah, atau fakta empiris. Dan kita harus percaya dan menerima fakta tersebut. Betapa hebat kisah-kisah tersebut.
Kita bersyukur karena Tuhan memiliki jejak-jejak yang dari dalamnya kita dapat menemukan kebesaran Allah, keagungan Allah untuk membuktikan siapa Allah yang benar itu. Dengan demikian, kita dapat mengerti betapa berharganya Alkitab, betapa bergunanya Alkitab bagi kita. Oleh sebab itu, jangan kita tidak membacanya. Ketika kita membaca Alkitab, kita seperti masuk sebuah pergumulan, pergulatan hebat orang-orang yang bersentuhan dengan Allah. Dari hal itu, kita dapat membangun kehidupan bagaimana bersentuhan dengan Allah secara benar.