
Sign up to save your podcasts
Or


Kita tidak bisa mengatur waktu, kita hanya bisa mengatur prioritas. Waktu akan tetap satu hari sama dengan 24 jam. Mau kamu denied kek, mau kamu diemin kek, mau kamu sibuk ngurus satu negara kek, dia ga bakal berkurang ataupun bertambah.
Kerja itu penting. Don’t get me wrong. Kalau ga kerja, ga bisa bayar cicilan bulanan atau tagihan bulanan ye kan? Tapi bukan berarti (nyanyi rihana – work) work.. work..work.. work.. work.. kemudian ko op.. op.. opname.
Bahwa akhirnya yang namanya menyeimbangkan kehidupan diantara rehat dan kerja itu penting!
Kritik itu penting sebenarnya untuk membangun kitorang punya hidup menjadi lebih baik. Hanya saja bila itu diberikan terus-menerus ke torang punya diri, akhirnya hal-hal tersebut malah lebih kitorang “imani” menjadi kualitasnya torang. Bayangkan ketika ko lakukan ini terus-menerus buat ko punya diri: dalam jangka panjang, ko yang akan menjadi toxic untuk ko punya diri.
Ko pernah kah tidak punya teman yang sudah dibilangin bolak balik untuk keluar dari hubungannya yang toxic tapi pada akhirnya de kembali dalam hubungan tersebut? Padahal kamorang sudah sampai bentak, batariak dia, sampai de curhat ke kamorang sampai menangis keluar ingus sampai ingus kembali masuk ke hidung tapi pada akhirnya de balik ke hubungan toxic tersebut. Ada yang namanya Trauma bonding. Ketika tindak pelecehan dan kekerasan dipadukan dengan kebaikan serta keintiman yang pada akhirnya menjadi lingkarang setan untuk seseorang sampai de tra bisa keluar dari sebuah hubungan yang toxic.
Bagaimana jika kitalah yang menjadi korban dari emosi orang lain yang meledak-ledak? Emosi yang meledak ini bisa dalam bentuk kekerasan secara fisik, verbal atau hal-hal tidak mengenakan yang ber-efek ke well being kita. Apakah kita memilih diam lalu menelan setiap kekerasan tersebut yang akhirnya mengerdilkan diri kita atau apakah kita memilih untuk melepas, membereskan dan sembuh dan keluar dari hal-hal yang menyakitkan itu?
Emosi ketika hormon kita tidak seimbang atau kondisi tertentu yang buat kita sampai marah itu wajar. Cuma lama kelamaan yah kalau emosi kita itu kumatnya setiap hari dan setiap saat, kita perlu nge-cek deh jangan-jangan ada yang tidak beres. Kalau sampai emosi kita yang akhirnya mengendalikan diri kita, siap-siap deh kamu bakal sering nyakitin orang lain. Tra usah jauh-jauh. Ko bisa gampang nyakitin orang tua, kekasih, atau sahabat ketika emosi yang mengendalikan ko mengambil keputusan.
Ngebacot itu enak banget deh di sosmed. Dan kalau dilihat, postingan bacot paling gampang banget naik jadi FYP. Cuma ditengah dunia perbacotan dan digital ini orang yang sakit mental makin banyak lho. Gampang kan skarang anana milenial ngomong “kena mental lu” tapi sebenarnya ada hal-hal serius yang emang bener-bener serius untuk diperhatikan.
Episode 49 ini mari kitorang bercerita tentang kenapa barang yang de pu nama malas ini paling senang skali muncul. Apa yang bisa dilakukan eh biar tong bisa lawan rasa malas ini. Karna kalau ko malas untuk hal yang kecil, lama-lama tatumpuk juga akan jadi barang yang besar yang di kemudian hari bisa susahkan ko diri!
Ada pepatah yang mengatakan bahwa mata adalah jendela hati. Tapi sebenarnya seberapa signifikan yah mata itu. Padahal sebenarnya sepele lho. Mungkin hanya sebersit memandang. Tapi tahukah teman-teman bahwa mata juga bisa menjadi sumber masalah-masalah serius dalam hidup ini. Seperti pornografi ataupun shopaholic. Semua berasal dari mata.
Kalau teman-teman perhatikan yah dengan seksama banyak kasus yang viral itu berawal hanya dari kata ataupun tulisan di sosmed yang diposting. Ketika kita tidak dapat mengendalikan jari maupun kata kita, itu bisa mendatangkan masalah serius buat diri kita sendiri bahkan sampai melukai orang-orang di sekeliling kita. Ini juga memberikan kita pelajaran pentingnya untuk mengontrol mulut dalam perkataan. Karena kata-kata pun adalah doa.
From the publisher's feed