Kita harus menjaga diri untuk tidak hanyut dalam berbagai kesibukan atau apa pun juga, sehingga tidak memerhatikan kehidupan rohani secara benar. Kita harus sungguh-sungguh selalu mengoreksi diri, apakah kita sudah layak menjadi anak-anak Allah. Jangan sampai pada waktu menutup mata, Yesus menolak dan berkata: “Aku tidak kenal kamu.” Adalah hal yang paling mengerikan kalau seseorang meninggal dunia, kemudian menghadap takhta pengadilan Kristus, dan ternyata tidak diakui sebagai anak Allah. Tidak ada bencana yang lebih besar dari hal ini. Ini adalah kengerian yang tiada tara. Sebab, kalau seseorang tidak diakui sebagai anak Allah, berarti dia terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya. Orang-orang yang diperkenankan masuk Kerajaan Allah adalah orang-orang yang memiliki keadaan yang mulia, seperti keadaan Yesus, Putra Tunggal Bapa, yang penuh kemuliaan.
Banyak orang Kristen berpikir bahwa apa pun keadaannya, ia pasti masuk surga dengan alasan bahwa keselamatan diperoleh bukan karena perbuatan baik. Ini suatu penyesatan yang telah merusak banyak orang Kristen dan gereja di seluruh dunia. Alkitab jelas mengatakan bahwa hanya orang-orang kudus yang diperkenan masuk Yerusalem Baru. Tidak mungkin Allah membawa masuk orang yang keadaannya tidak layak, ada di tempat yang kudus. Sama seperti seorang raja atau bangsawan yang mengadopsi seorang “gembel” atau “pengemis” di pinggir jalan untuk menjadi anggota keluarga kerajaan. Keluarga kerajaan harus terlebih dahulu mengubah pola hidup gembel tersebut agar dapat hidup dalam keagungan sebagai anggota keluarga kerajaan.
Oleh sebab itu, orang percaya harus berusaha membangun kebiasaan hidup yang agung sebagai anggota keluarga Kerajaan. Doa Bapa Kami adalah format kehidupan yang dapat membentuk atau mengubah hidup seseorang, dari seorang manusia yang berkodrat dosa, menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Kalimat-kalimat yang termuat dalam Doa Bapa Kami sangat berkuasa mengubah seseorang, selama orang itu mau benar-benar bertekun menggumulinya. Dengan demikian, Doa Bapa Kami adalah format kehidupan yang mempersiapkan seseorang menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah yang mulia. Dari format kehidupan yang termuat di dalam Doa Bapa Kami tersebut, seseorang dapat memiliki ciri-ciri sebagai anggota keluarga Kerajaan. Ciri-ciri tersebut antara lain:
Pertama, kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Hal ini berat dan sukar dicapai, tetapi ini hal yang paling penting. Hanya orang yang hidup tidak bercacat dan tidak bercela yang layak masuk ke dalam persekutuan dengan Allah Bapa dan Tuhan Yesus di dalam Kerajaan-Nya nanti. Seberat apa pun tanggung jawab untuk mencapai kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela—kalau hal ini merupakan sesuatu yang mutlak penting—maka kita akan berusaha untuk mencapainya. Kedua, tidak memiliki perasaan takut menghadapi segala keadaan. Kalau seseorang masih memiliki perasaan takut, berarti ia tidak memuliakan Allah dan tidak menghormati kebesaran-Nya. Hal ini memang tidak mudah, tapi kita tidak boleh takut menghadapi apa pun. Karena kalau kita takut menghadapi sesuatu, berarti kita mengecilkan Allah, Bapa kita. Tidak mudah untuk memiliki perasaan tidak takut menghadapi apa pun. Tetapi kalau kita percaya kebesaran Allah dan kita menghormati Dia, kita dapat menghalau semua perasaan takut. Harus diingat bahwa perasaan takut terhadap sesuatu yang tidak patut kita takuti berarti mengecilkan Allah Bapa. Bagaimana kita bisa berkata “dipermuliakan nama-Mu” kalau kita masih hidup di dalam ketakutan?
Ketiga, tidak memandang dunia sebagai keindahan. Betapa miskinnya kita kalau masih memandang dunia itu indah dan mengharapkan kebahagiaan dari padanya. Keindahan dunia tidak ada artinya dibanding kemuliaan Kerajaan Surga yang akan diwariskan kepada Yesus dan semua orang percaya yang serupa dengan Dia. Betapa sulitnya melepaskan diri dari keterikatan dunia. Tetapi demi Kerajaan Surga, kita harus melepaskannya dengan sukacita.