Pembawa Renungan : RP. John Laba, SDB
Timor Leste
Peringatan Wajib. St. Yustinus
Mrk. 12:18-27
Lectio:
Pada suatu hari datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!"
Demikianlah Injil Tuhan kita
Terpujilah Kristus
Renungan:
Aku percaya akan Allah orang hidup!
Hari ini tanggal 1 Juni, seluruh Gereja Katolik merayakan peringatan St. Yustinus, Martir. Orang kudus ini adalah orang asli Palestina, kelahiran Nablus, Samaria pada permulaan abad kedua. Ketika masih kecil ia mendapat pendidikan yang baik. Ia tertarik untuk belajar Filsafat dan Kitab Suci supaya mendapat kepastian tentang diri sebagai manusia dan Tuhan. Setelah selesai belajar, ia dibaptis sebagai pengikut Kristus. Ia kemudian menjadi pembela iman kristiani terkenal. Ia mengajar di tempat-tempat umum dan menjelaskan tentang kebenaran agama kristiani yang percaya pada Yesus Kristus. Ia menulis buku “Dialog dengan Tryphon”. Ia menulis: “Meski kami orang Kristen dibunuh dengan pedang, disalibkan atau dibuang ke moncong-moncong binatang buas, atau pun disiksa dengan belenggu dan api, kami tidak akan murtad dari iman kami. Sebaliknya semakin hebat penyiksaan, semakin banyak orang demi nama Yesus, bertobat dan menjadi orang saleh”. Ia meninggal sebagai martir di Roma tahun 165. Yustinus memilih menjadi martir karena panggilan untuk mewujudkan cintanya kepada Kristus. Ia membuktikan bahwa kuasa yang besar itu hanya ada pada Tuhan yang ia layani. Segala kuasa dunia, kepintaran disingkirkan dan yang ada hanya untuk kemuliaan Tuhan.
Apa kata Sabda Tuhan pada hari ini? Sambil kita merenung tentang hidup dan kemartiran St. Yustinus, Penginjil Markus mengisahkan tentang bagaimana membangun pemahaman yang benar tentang kebangkitan orang mati.
Dikisahkan bahwa ada beberapa orang Saduki yang tidak percaya pada kebangkitan orang mati, datang kepada Yesus lalu mengungkapkan sebuah contoh kasus perkawinan lewirat dan kaitannya dengan kebangkitan orang mati. Perlu diketahui bahwa kaum Saduki adalah bangsawan keturunan Sadok yang menjadi imam pada masa raja Daud. Mereka sangat menghormati Kitab Taurat hingga tidak mau menerima ajaran tentang kebangkitan orang mati yang berasal dari zaman sesudah pembuangan. Mereka hanya mengakui adanya sheol atau dunia bawah, tetapi mereka tetap menolak adanya kebangkitan badan
Perkawinan levirat adalah perkawinan antara seorang janda dengan saudara kandung suaminya yang sudah meninggal dunia berdasarkan adat istiadat dalam masyarakat bersangkutan. Jadi diharapkan bahwa anak yang lahir dari perkawinan itu akan menjadi milik saudara yang sudah meninggal sekaligus sebagai ahli warisnya.