Seseorang dapat menjadi anak Allah dimulai dari pengurbanan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib. Jika tidak pernah ada pengurbanan Yesus di kayu salib, tidak pernah ada orang yang menjadi anak-anak Allah. Tetapi, apakah seseorang benar-benar menjadi anak-anak Allah yang sah atau tidak, itu tergantung dari respons masing-masing individu. Memang Allah yang akan mensahkan atau melegalkan seseorang adalah anak Allah atau tidak, tetapi hal ini juga tergantung dari usaha masing-masing individu untuk menerima penggarapan Allah. Penggarapan Allah akan mengubah hidup seseorang menjadi anak-anak Allah yang modelnya adalah Yesus sendiri.
Apa yang dikemukakan di atas ini terkesan mengandung keangkuhan atau kesombongan manusia, seakan-akan keselamatan atau menjadi anak Allah adalah hasil usahanya sendiri. Bukan demikian maksudnya. Sejatinya, respons kita terhadap anugerah keselamatan yang Allah sediakan yang akan menentukan kita menjadi anak Allah yang sah atau tidak. Harus selalu diingat, bahwa keselamatan dapat diperoleh hanya oleh karena iman. Sedangkan, iman itu adalah tindakan, seperti tindakan Abraham dalam menuruti apa pun yang Allah perintahkan kepadanya. Iman bukan sekadar aktivitas pikiran, melainkan tindakan yang harus kita miliki untuk menerima keselamatan, yaitu melakukan apa pun yang Allah kehendaki dalam hidup ini. Dan yang dikehendaki oleh Allah dalam hidup ini adalah kita menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
Sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus tidak bisa terwujud di dalam hidup kita secara otomatis. Ini adalah hasil respons kita terhadap keselamatan yang Allah sediakan, antara lain: Pertama, penebusan hanya oleh darah Yesus, memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Kedua, belajar kebenaran Firman Tuhan yang dipimpin oleh Roh Kudus, dan yang ketiga, menerima penggarapan Allah melalui segala kejadian yang kita alami setiap hari (Rm. 8:28-29). Pada kenyataannya, banyak orang Kristen yang tidak merespons keselamatan yang Allah berikan tersebut. Mereka sibuk dengan kehidupan sehari-hari seperti manusia wajar lainnya. Padahal, kalau kita menjadi umat pilihan, fokus kita hanyalah bagaimana kita dapat menjadi serupa seperti Yesus yang adalah model kehidupan Anak Allah yang sah di mata Bapa.
Pada akhirnya, kalau seseorang tidak menjadi serupa dengan Yesus—artinya tidak melakukan kehendak Bapa—maka ia akan ditolak oleh Yesus dengan pernyataan keras: “Enyahlah dari pada-Ku, kamu yang tidak melakukan kehendak Bapa” (Mat. 7:21-23), sebab bukan orang yang menyebut atau memanggil Yesus sebagai Tuhan yang masuk Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa. Hal ini jelas sekali mengisyaratkan bahwa seseorang diterima di Rumah Bapa tidak tergantung dari prestasi hidupnya, apakah dia melakukan kehendak Bapa atau tidak; atau mencapai kesucian standar Allah Bapa. Dengan demikian, menjadi anak Allah yang sah adalah hasil dari respons kita terhadap kasih karunia yang Allah sediakan.
Sebenarnya, secara tidak langsung ketika Yesus mengajarkan kita bahwa Allah sebagai Bapa, Yesus memanggil kita untuk memiliki perjuangan mengesahkan diri kita sebagai anak Allah. Hal ini juga dialami atau dilakukan oleh Yesus sendiri. Walaupun Dia adalah Anak—yang artinya Anak Allah—Ia belajar dari apa yang diderita-Nya. Dia berdoa dengan ratap tangis dan keluhan kepada Bapa yang bisa menyelamatkan-Nya dari maut atau yang bisa membangkitkan diri-Nya dari kubur. Alkitab mengatakan karena kesalehan-Nya, Dia didengar; bukan karena Dia Anak Tunggal Allah (Ibr. 5:7-9). Yesus sendiri harus membuktikan bahwa diri-Nya adalah Anak Allah, melalui pergumulan dalam perjuangan yang berat. Jadi bukan sesuatu yang mudah, yang otomatis dapat diraih oleh Yesus.
Harus selalu kita ingat, bahwa Yesus menjadi manusia seratus persen atau dalam segala hal disamakan dengan manusia, bukanlah sebuah sandiwara (Ibr. 2:17). Ia benar-benar menjadi manusia seperti kita dan melakukan perjuangan untuk menunjukkan bahwa diri-N...