Apakah jemaat dapat semakin mendekat pada episentrum kebenaran atau tidak, yang paling berperan adalah pelayan Tuhan, yaitu pemberita Firman atau pengkhotbah dan pemimpin gereja secara organisasi di bumi. Kalau hidup seorang pelayan Tuhan tidak benar, tidak suci, masih materialistis, masih bisa dibahagiakan oleh materi dunia, atau masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, berarti dirinya menjauh dari pusat pusaran kebenaran. Ini adalah kehidupan yang bersahabat dengan dunia. Tentu saja sebagai dampaknya, jemaat yang dilayani terbawa ikut menjauh dari pusat pusaran kebenaran. Hal ini sering tidak disadari, baik oleh pelayan Tuhan tersebut maupun oleh jemaat yang dilayani. Oleh pimpinan Roh Kudus, seseorang bisa menyadari keadaan dirinya yang sebenarnya di hadapan Allah. Dalam hal ini, hanya orang yang dipimpin Roh Kudus yang bisa masuk dalam pusat pusaran kebenaran.
Seorang pelayan Tuhan di mimbar yang tidak ada di pusat pusaran kebenaran, tidak akan dapat menyeret pendengarnya masuk pusat pusaran kebenaran. Bagaimana bisa mengimpartasi atau menularkan spirit yang benar kepada jemaat, kalau dirinya sendiri tidak memilki spirit yang benar? Memang tidak mudah hidup masuk ke dalam pusat pusaran kebenaran, tetapi seorang pelayan Tuhan harus mengusahakannya dengan segenap hidup. Usaha untuk menjadi pelayan Tuhan yang benar bukan hanya menyelesaikan studi di seminari atau sekolah tinggi teologi, tetapi perjalanan hidup setiap hari untuk melepaskan beban, yaitu keterikatan dengan dunia dan ikatan dosa. Jika tidak, ia menjadi penjahat di dalam gereja yang membinasakan banyak orang. Seorang pelayan Tuhan yang tidak semakin masuk dalam pusat pusaran kebenaran pasti mengajarkan kemakmuran duniawi kepada jemaatnya. Orientasinya bukan kepada kesucian hidup, dan fokusnya bukan pada kekekalan di langit baru dan bumi yang baru.
Kalau dalam penggembalaan, gereja hanya mengajarkan pemenuhan kebutuhan jasmani, maka jemaat dijauhkan dari pusat pusaran kebenaran. Kegiatan gereja seperti itu memang masih bisa aktif dengan berbagai program yang kelihatannya rohani, dan mendukung pekerjaan misi, diakonia, atau pelayanan sosial. Mereka memang masih bisa mengadakan kebaktian yang sangat semarak, seakan-akan Allah hadir dalam pertemuan itu dan Allah disukakan hati-Nya karena profesionalisme sebuah penyajian acara kebaktian. Sejatinya, hal seperti itu tidak menyukakan hati Allah. Pada hakikatnya, jemaat tidak mengalami pertumbuhan untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu sempurna seperti Bapa, atau serupa dengan Yesus, sesuai dengan maksud keselamatan diberikan.
Gereja seperti itu, sementara giat dalam kegiatan rohani, sebenarnya ia sedang memarkir hati jemaat di dunia, padahal Tuhan Yesus menghendaki kita memarkir hati di surga (Mat. 6:19-21; Kol. 3:1-3). Dalam kehidupan setiap hari, tampak bahwa mereka tidak merindukan langit baru dan bumi yang baru, hati mereka masih tertambat ke dunia. Jemaat yang tiap minggu mendengar khotbah tentang langit baru bumi baru saja belum tentu dengan mudah bisa memindahkan hati-Nya ke Kerajaan Surga dan merindukan pertemuan dengan Tuhan, apalagi yang hanya mendengar khotbah tentang pemenuhan kebutuhan jasmani dan berbagai nasihat yang tidak lebih dari motivator dunia, pasti tidak penah menjadi “rohani.”
Keadaan gereja yang tidak bertumbuh secara benar disebut sebagai keadaan dalam pasivitas rohani. Memang mereka aktif dalam kegiatan gerejani, tetapi rohaninya pasif. Jadi, tidak heran kalau ada pelayan Tuhan yang dari pernyataan-pernyataannya menunjukkan bahwa ia tidak mengenal Allah dengan benar. Orang yang tidak mengenal Allah dengan benar, tidak dapat mengenal dirinya dengan benar pula. Pengenalan akan Allah sangat menentukan kualitas hidup. Orang yang kurang mengenal Allah, kualitas hidupnya pasti rendah, dan orang yang tidak mengenal Allah kualitas hidupnya pasti rusak.
Pusat pusaran kebenaran sebenarnya adalah Allah pribadi.