Yang paling berharga—tetapi juga paling sukar—dalam hidup ini adalah menyukakan hati Bapa. Ini merupakan hal yang paling berharga. Kalau sampai hati Bapa bisa kita sukakan, itu tidak ternilai harganya. Disukakannya hati Bapa tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Sebanyak apa pun harta seseorang, sesukses apapun karier seseorang, setinggi apa pun gelar atau kedudukan atau kekuasaan seseorang, atau segala kesenangan apa pun, tidak ada artinya dibandingkan dengan bisa menyukakan hati Bapa. Namun, ini merupakan hal yang paling sukar dilakukan dalam hidup ini. Saat ada dalam pergumulan, kita bisa merasa bahwa hal itu tidak mungkin dicapai. Kita bisa merasa putus asa dan lemah seakan-akan kita tidak mungkin bisa mencapainya. Namun, sesuai dengan Firman Allah, Allah mendidik kita supaya kita serupa dengan Yesus untuk dapat menyukakan hati Bapa.Melalui didikan-Nya tersebut, Bapa bisa memberi pernyataan,“Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17). Kerinduan kita adalah Bapa juga memberikan pernyataan tersebut kepada kita sebagai “sertifikat abadi.”
Kalau seseorang berpikir, “Yang penting, saya tidak berbuat dosa” dan itu sudah cukup menyenangkan hati Allah, orang tersebut masih pada taraf defensif. Ini orang itu baru ada dalam taraf tidak melakukan kesalahan secara umum berdasarkan hukum moral secara umum. Mereka sudah merasa cukup puas dengan keadaan tersebut. Memang pada waktu masih baru menjadi orang Kristen, taraf defensif harus dilalui terlebih dahulu. Setelah belajar terus, seseorang harusnaik ke level ofensif. Dalam taraf ini, seseorang bukan saja tidak melakukan pelanggaran moral umum, tetapi sudah berusaha untuk mengerti kehendak Allah dan melakukannya. Dalam taraf ini, seseorang sudah belajar untuk dapat melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Sebenarnya, inilah yang dimaksud dengan “hidup tidak bercacat dan tidak bercela.” Tidak boleh ada kesalahan yang kita lakukan.
Namun fakta ironisnya, untuk taraf defensif saja, banyak orang Kristen masih sering gagal. Seseorang tidak akan sampai pada level ofensif kalau level defensif saja masih gagal. Kita pasti akan selalu mendapatkan kesempatan berbuat dosa dan menyenangkan diri sendiri. Namun, kita harus melawannya dan terus melawannya sampai kita menang. Di level defensif, kita bertarung dengan diri kita sendiri karena kita masih ada dalam kodrat dosa di daging kita ini; jiwa kita juga sudah cemar selama belasan bahkan puluhan tahun. Untuk hidup dalam ketatan yaitu menundukkan diri secara penuh kepada kesucian Tuhan, tidak berbuat kesalahan, itu tidaklah mudah. Dalam pergumulan defensif saja, kita kadang-kadang putus asa. Namun, kalau kita berani melangkah dan berani berjuang, kita akan melihat keniscayaannya, yaitu kemungkinan untuk bisa hidup tidak bercacat dan tidak bercela; masuk perjuangan level ofensif.
Kita harus meneliti setiap kejadian. Tiap kejadian menjadi kesempatan yang tersedia untuk melakukan kesalahan. Kesempatan itu sebenarnya bisa membuat kita melukai Allah, atau sebaliknya, kita bisa menjadikan kesempatan berbuat dosa tersebut menjadi momentum untuk dapat menyenangkan hati Bapa, yaitu dengan menolak untukberbuat dosa. Namun, ini sering masih ada dalam level defensif. Untuk pergumulan di level defensif saja, kita sudah harus berjuang keras, apalagi di level ofensif. Dalam Ibrani 12:1-3, Allah mengajar kita agar kita memandang Yesus yang tekun menanggung bantahan yang hebat. Dalam pergumulan kita melawan dosa, kita belum sampai mencucurkan darah. Artinya, kita belum allout untuk melawan dosa dan belum sehebat yang dialami Yesus yang berdarah-darah.
Kalau kita memandang bahwa menyukakan hati Bapa itu bukan sesuatu yang paling berharga dalam hidup, kita tidak akan allout. “Menyukakan hati Bapa” semestinya bukan hanya merupakan hal yang paling berharga, melainkan satu-satunya halyang berharga. Itu yang baru saya pahami sebagai “ekstrem untuk Bapa.