Dialekkita

Dialekkita

By DialekkitaSociety & Culture
Download on the App Store

Dialekkita episodes

  • Work Life Balance Itu Cerita Fiksi

    Holla! Setelah sekian purnama kita tidak record dan juga berinteraktif melalui kegiatan apapun di sini, akhirnya kita kembali dengan episode terbaru. Kali ini kami akan membahas perihal 'Apakah Work Life Balance Sejatinya Itu Hanya Cerita Fiksi?'.


    Dan di dalam episode ini pula bisa dibilang menjadi sebuah titik temu lagi buat kita, yang di mana dinamika obrolannya pun cukup santai dengan polesan atas alasan serta penjelasan mengapa kita sempat kasih waktu 'jeda' untuk kembali aktif lagi.


    Selengkapnya episode ini bisa kalian dengarkan melalui digital streaming yang tersedia di bio.


    TimeStamp


    (01:56) - Life update


    (13:34) : Work life balance?


    (16:25) : Kok ada cewe2 dikerjaan happy terus?


    (42:18) : Pergossipan kantor


    (51:05) : Paquito

    Dialekkita

    Bahasamu, bahasanya.

    1 hr 8 min
  • Pengangguran Terdata Kesalahan Tertata

    Angka selalu datang lebih dulu daripada cerita. Ia rapi, terukur, dan mudah dikutip. Dalam rilis resmi terbaru, pengangguran di Indonesia berada di kisaran 4,8%, sementara kemiskinan disebut menurun ke sekitar 8,4%. Dua persentase yang tampak menenangkan, seolah negara sedang bergerak ke arah yang benar, perlahan tapi pasti. Statistik pun menutup laporan dengan nada optimistis.


    Namun di luar tabel dan grafik, hidup tidak berjalan dalam persen. Ia berjalan dalam penundaan, antrean, dan kompromi. Mereka yang tidak tercatat sebagai penganggur karena “masih bekerja”, tetap pulang dengan upah yang nyaris tidak cukup disebut hidup. Mereka yang keluar dari garis kemiskinan secara metodologis, masih berada pada satu kenaikan harga dan kembali terperosok.


    Tetapi di sini kami tidak mempertanyakan validitas data, melainkan berdiskusi perihal bagaimana cara data diberi makna, bagaimana pengangguran dipahami sebagai kegagalan personal. Sementara sistem cukup puas dengan penurunan desimal, serta bagaimana juga kemiskinan dibingkai sebagai masalah transisional, padahal ia terus direproduksi secara struktural. Dalam narasi pembangunan, masalah boleh tetap ada, selama angkanya terlihat terkendali.


    Pada akhirnya membaca statistik sebagai teks sosial adalah hal yang patut untuk dimiliki, agar kita paham dengan siapa yang diselamatkan oleh definisi, siapa yang dikeluarkan oleh metodologi, dan siapa yang akhirnya paling tepat untuk dituntut kewajiban-nya.


    Selengkapnya episode ini bisa kalian dengarkan melalui digital streaming yang tersedia di bio.


    Timestamp:


    (00:50) : Mengapa Indonesia menjadi negara dengan angka kemiskinan tertinggi


    (05:25) : Apakah data tersebut bisa divalidasi dengan aktual?


    (12:04) : Apa Definisi Miskin?


    (14:43) : Kemiskinan & Pengangguran salah siapa?


    (42:41) : Apakah 'investasi' menjadi sebuah pelipur lara atau upaya menjajaki hidup yang lebih layak?


    (55:21) : Penutup


    Dialekkita

    Bahasamu, bahasannya.


    57 min
  • Underpaid itu Bernama Kreatif

    Dalam kesempatan kali ini di dalam sub bab dari tema: subjek(di)fitas dalam bekerja, kami bertemu dan berbincang banyak hal mengenai dunia kreatif melalui dua narasumber yaitu Alif dan juga Althof. Banyak pandangan atau insight baru yang kami dapatkan dari keduanya, terutama perihal "Underpaid" itu sendiri.


    Lalu bagaimana tanggapan dan siasat mereka untuk meminimalisir hal tersebut? Selengkapnya bisa kalian dengarkan melalui link yang tertera pada bio.


    Timestamp:

    (01:50) : Kenapa jadi editor?

    (18:00) : Tentang esensi dan makna

    (25:20) : Menghadapi AI

    (30:00) : Tentang emosi dan logika

    (38:25) : Underpaid


    //

    Dialekkita

    Bahasamu Bahasannya

    1 hr
  • RKUHP & RKUHAP: Ketika Hukum Baru Lebih Cepat Datang Daripada Penjelasannya

    Dalam pembahasan Apa Kabar Indonesia kali ini, kami coba membuka bab perihal bagaimana regulasi baru tiba seperti tamu tak diundang—lebih cepat dari penjelasannya.


    Tak sampai di situ, kami juga akan membahas beberapa point dari pasal-pasal yang memang sudah di sahkan dan yang tentunya menimbulkan banyak 'pertanyaan' dari ketetapannya.


    Regulasi memang terus berjalan sangat cepat, sementara partisipasi publik jalannya justru kian kemari kian santai. Ketimpangan ritme yang entah kenapa bisa jadi sebuah 'tradisi' dan dampaknya bagi kita akhirnya hanya bisa bilang 'lho, kok udah jadi aja?'


    Selengkapnya episode ini bisa kalian dengarkan melalui digital streaming yang tersedia di bio.


    Timestamp:


    (02:00) : Penjelasan "apa sih sebenarnya RKUHP & RKUHAP?" dan bagaimana historis serta beberapa point yang direvisi dalam UU tersebut?


    (09:40) : Pembahasan point 1 sampai 2 di dalam proses revisi RKUHP & RKUHAP.


    (28:34) : Pembahasan point 3 sampai 4 di dalam proses revisi RKUHP & RKUHAP.


    (44:30) : Pembahasan point 5 sampai 6 di dalam proses revisi RKUHP & RKUHAP.


    (49:32) : Pembahasan point 7 sampai 8 di dalam proses revisi RKUHP & RKUHAP.


    (54:48) : Pembahasan point 9 (terakhir) di dalam proses revisi RKUHP & RKUHAP.


    Dialekkita

    Bahasamu, bahasanya.


    1 hr 12 min
  • Eps.1 - Malas Nonton: Weapons

    Kali ini, kita mulai dengan pertanyaan yang sering muncul: "Kok bisa sih malas nonton film horor yang sedang hype di beberapa bulan kebelakang, yaitu WEAPONS?"


    Dalam pembahasan episode perdana, kami mencoba untuk membedah film WEAPONS dari sudut pandang yang paling subjektif, tanpa beban harus suka. Buat kalian yang udah nonton, kita kupas tuntas! Buat yang belum, hati-hati kena spoiler.


    Memang cukup penasaran, tapi gimana rasanya nonton film yang dianggap "horor terbaik tahun ini" tapi dengan semangat yang ogah-ogahan? Adapun yang akan kami bahas mengenai plot, jump scare, bahkan dari konspirasi perihal film ini.


    Timestamp:

    (07:10) : Bahas POV Character

    (11:35) : LGBTQ di Film Domestik

    (24:04) : Konspirasi Weapons

    (32:48) : Doktrin di Sineas Film

    (42:28) : Rekomendasi Film Serupa Weapons


    //

    Dialekkita

    Bahasamu Bahasanya

    #malesnonton

    47 min
  • Abstrak - Menjadi Melalui Jalan Terjal

    Abstrak - Menjadi Melalui Jalan Terjal.


    Dalam sesi episode abstrak kali ini kami mencoba untuk sedikit berkontemplasi dengan satu pembahasan perihal metode dan sudut pandang pendidikan; mulai dari 'menghafal atau memahami?'


    Serta bagaimana orientasi dari hal tersebut justru kian kemari malah kian tereduksi dan dirangkum menjadi semata bilangan di dalam arus cepat dengan tolok ukur mutlak.


    Tidak ada yang keliru dalam menandai titik orientasi, sebab asumsi kami tiap-tiap dari kita memang tetap perlu peta langkah untuk tahu ke mana kita harus membuka jalan dalam memulai pengembaraan.


    Namun hemat kami, jangan biarkan itu menjelma menjadi potrait beku — sebuah bingkai sempit yang mengurung makna belajar dan menjadi hanya pada keberhasilan yang bisa dihitung.



    Timestamp:

    (00:10) : Menghafal atau Memahami

    (15:35) : Ironi Civitas Akademik

    (31:00) : Polarisasi IPA dan IPS

    (40:00) : Negara dan Guru Honorer

    (46:00) : Kalo Kita Punya Wewenang untuk Pendidikan


    //

    Dialekkita

    Bahasamu Bahasanya

    #abstrak

    1 hr 4 min
  • Abstrak - Parafrase Keyakinan: Antara Tradisi & Pemikiran Baru (Dekonstruksi Sudut Pandang Keyakinan)

    Jika berbicara perihal keyakinan, mungkin kita semua bisa sama-sama sepakat bahwa hal tersebut selalu hadir menjadi sebuah 'journey' (petualangan) yang tentunya dimiliki oleh setiap individu. Hal demikian pun sepertinya memiliki proses dan pengalaman yang sangat menarik untuk diceritakan.


    Dalam episode kali ini, kami coba berdiskusi mengenai perihal tersebut, selengkapnya bisa kalian dengarkan melalui link pada kanal bio kami.


    Timestamp:

    (01:10) : Kenapa Tidak Pindah Agama?

    (10:16) : Oknum Menghasilkan Krisis Beragama?

    (36:32) : Menimbang dalam Memilih Agama

    (45:18) : Agama dan Budaya

    (48:59) : Kesimpulan


    //Dialekkita

    Bahasamu Bahasannya

    #abstrak


    56 min
  • Akuilah Bahwa Kita Adalah Sebuah Algoritma

    Dewasa ini kita, terutama kelas menengah yang tinggal di kawasan urban, harus mengakui bahwa kita telah menghabiskan banyak waktu kita untuk menggunakan medium digital khususnya ponsel—dibandingkan aktivitas lain, setidaknya selama 9 jam sehari. Bahkan lebih. Berita yang membanjir secara kilat, info apapun dan soal apapun, adalah fakta kehidupan dunia kontemporer, sehingga tidak heran juga bahwa mayoritas dari kita merasa lebih nyaman kalau memiliki akses secara konsisten pada dunia digital.


    Apakah hal tersebut membuat kita bisa lebih menghargai waktu untuk mengikuti siasat modernitas yang ditawarkan? Atau justru malah kita sedang berada dipinggir jurang kebanalan ilusi digital yang mampu merenggut semua hubungan dan koneksi yang sebelumnya kita miliki?


    Dalam episode kali ini, kami coba berdiskusi mengenai hal tersebut, selengkapnya bisa kalian dengarkan melalui kanal pada bio kami.


    Timestamp:

    (02:10) : Apa itu Brainrot?

    (07:50) : Komodifikasi Sosial Media

    (19:27) : Brainrot dan Tiktok

    (31:03) : Apakah kita terdampak Brainrot?

    (40:30) : Brainrot dan Smartphone


    //

    Dialekkita

    Bahasamu Bahasanya

    49 min
  • Risalah Amanah Kurir

    Deskripsi Podcast:

    Kali ini di dalam episode kedua tema "Subjektivitas Dalam Bekerja", kami kedatangan salah satu kawan kami yang bekerja sebagai kurir yaitu Khaerunnas Shahrul Mubarok atau yang akrab disapa sebagai Abul. Menjalani profesi sebagai kurir membuat Abul memiliki banyak pengalaman serta cerita menarik pada perjalanannya.

    Simak selengkapnya melalui situs kami, atau via link in bio.


    Timestamp:

    (06:19) : Alasan Memilih Menjadi Kurir

    (20:20) : Sistem Kerja Kurir

    (31:28) : Suka & Cita Kurir

    (43:43) : Subjek(di)fitas Dalam bekerja


    //

    Dialekkita

    Bahasamu Bahasanya

    1 hr 11 min
  • Menilik Mentalitas Arogansi di Dalam Sosial Modern Hari Ini

    Dalam episode Apa Kabar Indonesia kali ini, kami akan membahas beberapa kasus-kasus yang notabene terjadi karena memiliki latar belakang "arogansi" pada setiap kejadiannya, serta yang tak kalah penting bagi kami yaitu bagaimana menanggapi peranan sosial media hari ini yang menjadi unsur penting atas berbagai tanggapan dan juga perspektif masyarakat untuk menyikapi kasus-kasus tersebut.

    Selengkapnya episode kali ini bisa kalian dengar melalui digital streaming yang tersedia di bio.


    Timestamp:

    (01:27) : Kasus Penganiyaan Dokter Koas Unsri

    (15:00) : Pengusaha Paksa Siswa Sujud & Menggonggong

    (23:07) : GUS MIFTAH

    (30:15) : Penembakan Polisi Terhadap Siswa

     

    ///

    DIalekkita

    Bahasamu Bahasannya

    44 min

About Dialekkita

From the publisher's feed

Bahasamu Bahasannya.