Satu hal yang sangat luar biasa dalam kehidupan orang percaya di zaman Perjanjian Baru adalah terjadinya kelahiran baru dalam kehidupan ini atau manusia dilahirkan oleh Allah (Yoh. 110-13). Pada zaman penggenapan ini Allah hendak melahirkan orang-orang yang menerima Tuhan Yesus supaya menjadi anak-anak Allah. Ini bukanlah proses otomatis, mudah dan sekejap. Kelahiran baru atau dilahirkan oleh Allah bukan suatu kejadian yang otomatis atau dengan sendirinya, hanya karena percaya kepada Tuhan Yesus secara akali atau pikiran. Biasanya orang-orang yang meyakini demikian tidak memiliki perjuangan untuk menjadi anak-anak Allah. Banyak orang Kristen merasa sudah menjadi anak-anak Allah yang benar. Padahal mereka belum benbar-benar menjadi anak-anak Allah. Keberadaan orang-orang seperti ini belum memiliki tanda-tanda atau ciri-ciri sebagai anak-anak Allah.
Kelahiran baru atau dilahirkan oleh Allah adalah proses yang sulit dan menyita seluruh waktu hidup; proses menjadi anak-anak Allah adalah proses sepanjang umur hidup ini. Oleh sebab itu dapat mengerti betapa berharganya waktu hidup yang orang percaya miliki ini. Setiap orang harus memilih, apakah waktu yang ada digunakan untuk mempersiapkan kekekalan yang indah luar biasa dengan mengalami kelahiran baru atau dilahirkan oleh Allah, atau dibenrtuk oleh dunia untuk menjadi anak-anak kegelapan.
Kelahiran Baru hanya terjadi atas umat pilihan Allah yang hidup di zaman Perjanjian Baru. Mereka yang menerima Yesus, artinya mengakui bahwa Logos (Tuhan Yesus) adalah Pencipta langit dan bumi bersama Theos (Bapa), adalah Sang Majikan (Kurios). Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan manusia, yaitu mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Orang yang menerima-Nya diberi kuasa supaya menjadi anak- anak Allah (Yoh. 1:10-13). Kelahiran baru hanya terjadi pada orang yang telah menerima Roh Kudus, karena Roh Kudus menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran. Selanjutnya, Roh Kudus melahirkana baru seseorang dengan sarana kebenaran Firman Tuhan (1Ptr. 1:23-24).
Selanjutnya Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mengubah seseorang agar dapat sempurna seperti Tuhan Yesus. Segala peristiwa kehidupan yang dialami orang yang menerima Tuhan Yesus dan mengasihi Dia dijadikan sarana untuk menyempurnakan pribadinya agar menjadi manusia seperti Yesus. Dalam sejarah manusia tidak ada periode yang luar biasa seperti periode dimana manusia dapat dilahirkan oleh Allah. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa banyak orang benar dan nabi-nabi ingin melihat dan mendengar apa yang dialami murid-murid Yesus pada waktu itu, tetapi mereka tidak beroleh kesempatan mengenal anugerah yang besar ini (Mat. 13:17).
Pada dasarnya, dilahirkan oleh Allah atau kelahiran baru adalah sebuah perubahan dimana seseorang yang tadinya berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Dalam bab ini dibahas salah satu dari ciri yang dominan dari seorang yang benar-benar mengalami Kelahiran Baru. Ciri itu adalah hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kelahiran Baru menjadikan orang percaya menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Dengan keserupaan tersebut seseorang bukan saja diperkenan berstatus sebagai anak-anak Allah, tetapi benar-benar berkeberadaan sebagai anak-anak Allah (Yoh. 1:12; Gal. 3:26; Rm. 8:16-17). Di sini orang percaya bukan saja diberi hak memanggil Allah sebagai Bapa, tetapi juga berhak atas kuasa atau fasilitas untuk menjadi anak-anak Allah, inilah exousia yang dimaksud dalam Yohanes 1:12.
Kalau Alkitab berkata bahwa Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:29), maksudnya adalah, selain Yesus, akan lahir atau tampil atau muncul pula orang- orang yang memiliki karakter seperti Dia. Orang percaya mengalami metamorphouste (seperti ulat menjadi kupu-kupu). Dahulu seseorang seperti ulat yang menjijikkan, tetapi melalui proses Kelahiran Baru ia menjadi seperti kupu-kupu yang indah. Perubahan itu merupakan proses yang harus dijalani dengan ketat.