Firman Tuhan dalam 1 Petrus 4:14 tertulis, “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.” Orang percaya pada gereja mula-mula bukan hanya mengalami penganiayaan, melainkan juga mengalami berbagai penistaan. Namun, mereka merasa terhormat dengan keadaan tersebut. Hal ini berbeda dengan orang-orang Kristen sekarang. Banyak orang beragama Kristen lebih merasa terhormat kalau menjadi pimpinan sinode gereja atau menjadi pendeta yang dihormati orang banyak. Penderitaan apa yang kita alami? Tidak ada. Kalau tidak ada penderitaan, berarti Roh Kemuliaan tidak ada pada orang-orang tersebut. Roh Kemuliaan ini ada pada orang yang menderita karena Kristus. Orang-orang percaya yang benar, yang berusaha hidup dalam kebenaran, pasti mengalami penistaan. Penistaan tersebut justru sering datang bukan hanya dari orang-orang di luar Kristen, tetapi saudara-saudara seiman sendiri.
Sejak Konsili Nicea (thn. 325) yang digagas oleh Kaisar Constantin—yang sebenarnya masih belum dibaptis—lahirlah “spirit” menghakimi saudara seiman. Gereja dan para teolog merasa berhak memiliki otoritas ilahi yang bisa menetapkan orang lain sesat. Pada abad-abad pertengahan, gereja bukan saja bisa menetapkan seseorang sesat, tetapi juga mengutuk, menghukum, mengucilkan, sampai menjatuhkan hukuman mati. Sesuatu yang tidak diajarkan oleh Yesus. Tradisi ini masih dibawa sampai sekarang atas orang-orang yang merasa doktrinnya benar dan menunjuk orang yang tidak sepaham dengan dirinya sebagai sesat. Mengadakan persekusi secara atau melalui medsos dengan berbagai kata-kata yang tidak pantas diucapkan sebagai orang saleh. Perbedaan pendapat sangat mungkin tejadi, merasa diri benar bukan sesuatu yang bisa disalahkan, tetapi tindakan mendzolimi sampai menista orang lain harusnya tidak dilakukan. Tidak sedikit penistaan tersebut berangkat dari ketidakpuasan atau kekecewaan terhadap seseorang, yang disebabkan karena perbedaan pendapat, perasaan iri, dan lain sebagainya. Dari hal ini, mudah dikenali bahwa mereka yang suka menista sesamanya pasti bukan orang percaya yang benar.
Kalau kita dinista, kita tidak perlu tertekan dan menjadi marah. Penistaan-penistaan tersebut sebenarnya merupakan berkat abadi, sebab dengan penistaan-penistaan tersebut justru membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalani hidup dan mengoreksi diri. Kita akan lebih memerhatikan fakta pengadilan Kristus nanti, di mana semua keadaan manusia akan dibuka. Pada waktu itu, akan terbuka dan terbukti orang yang benar-benar anak Allah dan mereka yang palsu. Kiranya Allah menolong setiap kita dan mereka yang suka menista agar disadarkan oleh Allah untuk hidup sebagai anak-anak Allah yang meneladani Yesus. Penderitaan yang kita alami bukan karena kejahatan kita melainkan dijahati oleh orang, dapat menjadi kebahagiaan (1Ptr. 4:15-16).
Kita harus waspada sebab Allah memperhadapkan kita pada ketegasan-Nya, seperti yang dikatakan oleh Petrus, “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?” (1Ptr. 4:17). Maksud kata “dihakimi” di sini adalah “ditampi.” Ini adalah bentuk justifikasinya melalui penderitaan. Penderitaan memurnikan iman dan mendewasakan. Semua itu mendatangkan kebaikan bagi orang percaya, karena untuk masuk Kerajaan Surga bukan sesuatu yang mudah. Petrus dalam suratnya menulis: “Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia” (1Ptr. 4:18).
Mesin anugerah berjalan terus. Kematian Yesus di kayu salib adalah awal mesin itu berputar. Lalu, Allah memberikan Roh Kudus dan Injil.