Alkitab berkata, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol. 3:3). Inilah keadaan yang disebut sebagai “mati sebelum mati.” Sesungguhnya ini merupakan proses yang sangat sulit. Terkait dengan hal ini dalam Efesus 4:25-26tertulis, “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Marah itu tidak salah, jika marah itu dilakukan secara konstruktif (membangun), bukan destruktif (menghancurkan). Namun seseorang senang menikmati kemarahan, ia akan suka marah karena menikmati kemarahan itu. Apalagi kalau merasa kuat, seseorang akan berani memarahi atau memaki orang seenaknya dan sembarangan. Orang percaya harus belajar marah dengan benar.Marah kudus berartimarah untuk membangun (konstruktif), bukan untuk menghancurkan (destruktif).
Orang percaya harus menanggalkan semua yang dapat membuat hati Tuhan tidak nyaman. Firman Allah mengatakan, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Kita mungkin sajamarah, kemudian menegur orang yang salah. Namun setelah setelah itu, kitaharus menganggapnya sudah selesai. Kita tidak menyimpan dendam dan kebencian. Orang yang menyimpan dendam dan kebencian adalah orang yang menggenapi rencana setan. Hal ini akan melahirkan banyak dosa, baik dalam diri orang itu sendiri maupun orang lain. Namun sebaliknya, kebaikan menutupi dosa, dosa dirinya sendiri maupun dosa orang lain. Kita harus optimis bahwa kelemahan dan kekurangan kita juga bisa diubah.
Oleh sebab itu, kita hendaknya tidak menjadi bangga karena memiliki rumah bagus, perhiasan indah, mobil mewah, dan lain-lain. Kebanggaan tersebut bukanlah ciri-ciri karakter anak-anak Allah. Kalau kita mempunyai komitmen untuk mati dari manusia lama kita, kitaharus serius mematikannya. Jika hal ini terjadi dalam hidup kita, itu baru namanya “lahir baru.” Lahir baru itu tidak sederhana. Lahir baru itu adalahkalau kita berkeberadaan benar-benar makin seperti Yesus. Ini tidak mungkin terjadi dalam satu hari. Menjadi manusia yang agung itu membutuhkan waktu yang lama.
Kalau kita melihat Rasul Paulus, sebelum mengenal Tuhan Yesus, ia adalah seorang pembunuh yang ambisius sebagai pemimpin agama yang memiliki jabatan, sehingga dia diberi kuasa untuk membunuh orang-orang Kristen. Setelah menjadi orang percaya, ia sama sekali berbeda. Kita dapat menangkap filosofi dan kesaksian hidupnya melalui tulisan-tulisannya. Luar biasa! Paulus menunjukkan bahwa “dirinya adalah model anak Allah yang benar,” mengikuti teladan Gurunya. Kalau kita membaca tulisan Paulus, dan memiliki nurani yang baik dan spirit yang benar, kita akan bisa merasakan spirit dan gairah hidupnya. Namun, kalau seseorang tidak mempunyai spirityang benar, iapasti tidak akanbisa merasakannya. Kalau kebenaran-kebenaran Alkitab hanya didiskusikan, orang tidak akan menangkap spirit Paulus. Banyak teolog-teolog menjadikan Allah sekadar sebagai objek percakapan, bahan diskusi, tetapi bukan Pribadi yang disentuh, yang dengan-Nya mereka bergaul. Allah seharusnya menjadi Pribadi yang dengan-Nya kita semua bergaul dan benar-benar bersentuhan dengan Dia.
Jadi, “kematian dalam Yesus” menunjuk pada suatu proses perjalanan hidup kekristenan yang normal. Sebelum fisik kita mati dan dikubur, kita harus memasuki kematian manusia lama. Kalau belum, kita harus merasa gusar, segusar-gusarnya. Semakin berumur sesorang, ia harus sudah mulai merasakan kegusaran itu. Proses kematian manusia lama ini mengawali atau mendahului kelahiran baru. Inilah perjuangan untuk merespons anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus. Anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus itu meliputi penebusan-Nya yang membuat kita menjadi milik Dia; pemeteraian Roh Kudus; Injil yang harus kita pelajari; dan penggarapan Allah dalam segala hal demi mendatangkan...