Kita harus memperkarakan di dalam hidup kita dengan sungguh-sungguh: Apakah kita benar-benar sudah menjadi anak Allah? Bagi orang-orang Kristen yang sudah menjadi orang yang beragama Kristen sejak kecil, mereka sudah terbiasa diakui dan mengakui diri sebagai anak-anak Allah. Perasaan sebagai anak-anak Allah sudah melekat di dalam dirinya dan menyatu dalam jiwanya, sehingga tanpa keraguan sama sekali selalu merasa diri sebagai anak-anak Allah. Mereka tidak pernah mengoreksi diri dengan benar dan jujur, apakah mereka sungguh-sungguh pantas disebut anak-anak Allah atau tidak. Harus dipersoalkan dengan sungguh-sungguh, saat kita mengaku Allah sebagai Bapa, apakah Allah mengakui kita sebagai anak-anak-Nya. Jangan sampai terjadi di hadapan Tuhan nanti, Tuhan berkata bahwa Dia tidak mengenal kita. Kita harus berjuang untuk menjadi seorang yang benar-benar dikenal oleh Allah dan diperkenankan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Ini adalah hal yang terpenting dalam hidup lebih dari segala sesuatu.
Doktrin-doktrin yang disusun oleh para teolog pada umumnya mengarahkan pada pemikiran bahwa semua orang Kristen yang mengakui atau percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, pasti selamat masuk surga. Mereka tidak mempersoalkan atau tidak memerkarakan, apa yang dimaksud dengan “percaya kepada Yesus itu,” serta “bagaimana seharusnya pengakuan yang benar” terhadap Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat itu. Tidak heran jika banyak orang Kristen yang sebenarnya belum mengerti apa yang dimaksud dengan “mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat,” serta memercayai Dia. Mereka tidak pernah mempersoalkan, apakah Tuhan yang mereka percayai menerima kepercayaan dan pengakuan mereka.
Harus disadari bahwa banyak pengakuan dan kepercayaan kepada Yesus hanya sebuah ucapan mulut dan pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Padahal, Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh (Yak. 2). Tentu maksud Yakobus di dalam ayat ini adalah bahwa iman bukan sekadar atau tidak cukup dengan pengakuan mulut atau persetujuan pikiran. Iman adalah tindakan dimana seseorang melakukan apa yang Allah perintahkan, bahkan perintah yang paling tidak masuk akal. Seperti Abraham diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri sebagai kurban bakaran, Abraham melakukannya tanpa ragu-ragu sama sekali.
Harus diakui, banyak doktrin yang sangat argumentatif, terkesan sangat alkitabiah sehingga diakui sebagai kebenaran mutlak. Padahal, dokrin tersebut adalah hasil olah pikiran manusia yang tidak membawa manusia ke dalam perubahan sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia. Itu berarti keselamatan tidak pernah terwujud dalam hidup mereka. Sungguh ironis. Berteologi, tetapi tidak selamat; bergereja, tetapi tidak masuk surga; melayani pekerjaan gereja, tetapi ditolak oleh Tuhan; menjadi rohaniwan, tetapi ternyata binasa. Ironis sekali.
Pengakuan dan percaya terhadap Yesus tidak cukup dengan kata-kata dan persetujuan pikiran. Pengakuan dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat harus diperagakan dalam tindakan konkret. Faktanya, banyak orang Kristen dalam kebodohan, merasa sejahtera dengan kualitas hidup yang tidak berbeda dengan anak-anak dunia, dan mereka sangat yakin bahwa mereka sudah menjadi anak-anak Allah yang diberkati dengan berkat jasmani, serta layak masuk Kerajaan Surga. Dengan hal ini, panggilan Allah sebagai Bapa menjadi begitu murahan.
Dalam Kitab Roma 8:14, Firman Tuhan mengatakan bahwa anak-anak Allah adalah mereka yang dipimpin oleh Roh Allah. Ayat ini sudah sangat jelas dan tegas menyatakan bahwa hanya orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Kata “dipimpin” dari teks aslinya adalah ago yang artinya to lead, to bring, to carry, to drive. Tentu saja orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah orang-orang yang berkelakuan sangat agung dan mulia dalam segala aspeknya, dari tutur katanya, sikap terhadap orang-orang yang memusuhinya, beban terhadap penderitaan orang lain,