Malin kundang hanya hidup berdua dengan ibunya, karena sejak kecil ditinggal mati oleh ayahnya.
Ketika sudah dewasa Malin minta ijin kepada ibunya untuk pergi merantau.
Ibunya sangat rindu karena selama bertahun tahun Malin tidak memberi kabar atau pulang menengok ibunya.
Ketika Malin pulang dia bersama istrinya yang cantik dan sudah menjadi orang kaya raya.
Malin tidak mau mengakui ibunya yang sudah tua renta dan miskin.
Perlakuan dan perkataan buruk terhadap ibunya sangat menyakiti hati ibunya sehingga ibunya berdoa mohon keadilan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Doa ibunya terkabul, perahu dan tubuh malin kundang berubah menjadi batu.