Masyarakat Kristen diperhadapkan kepada dua kutub terkait dengan ajaran. Yang pertama, kutub rasionalisme; yang kedua, kutub mistisisme dalam memandang Alkitab dan menjalani hidup kekristenannya. Kedua kutub ini selalu ada dalam perjalanan sejarah gereja, sejak dulu hingga sekarang. Rasionalisme yang berlebihan menekankan rasio dalam menalar isi Alkitab, seakan-akan hasil eksplorasi terhadap Alkitab yang menghasilkan sistematika teologi, doktrin, dan berbagai ajaran mereka menentukan kemurnian, keaslian kekristenan. Kelompok ini sangat rajin menggali Alkitab dari berbagai perspektifnya. Mereka menggunakan nalar semaksimal mungkin untuk menghasilkan format-format, rumusan-rumusan, dan bebagai definisi terhadap pokok-pokok atau tema-tema pengajaran Alkitab. Mereka berpikir, dengan sistematika teologi yang argumentatif, orang dapat mengenal Allah dengan benar, dan hal tersebut sudah cukup menjadi kapital untuk bisa membangun kekristenan secara murni sesuai dengan yang diajarkan Alkitab.
Kutub yang lain adalah mistisisme, yaitu cara berpikir yang menekankan pengalaman pribadi, spontan, dan subjektif. Mereka tidak atau kurang terlalu tertarik mengeksplorasi Alkitab sesuai kaidah hermeneutik dan eksegesis. Mereka tidak terlalu merasa perlu membutuhkan hermeneutik dan eksegesis secara mendalam. Mereka berkeyakinan bahwa Roh Kudus sudah cukup bisa menuntun atau memimpin mereka untuk mengenal kebenaran, sehingga mereka bisa menemukan kekristenan yang sejati. Di dalam sepanjang sejarah gereja, selalu ada kelompok ini. Kelompok mistisis ini adalah kelompok yang sekarang sering disebut sebagai orang-orang yang “nge-roh.” Selalu menyaksikan pengalaman pribadi dengan Allah.
Diberi istilah “nge-roh” sebab mereka melandaskan pengalaman-pengalamannya berdasarkan pada pekerjaan Roh Kudus atau alam roh. Jadi, mereka biasanya mengatasnamakan Roh Kudus atas berbagai pengalaman pribadinya. Tentu kita tidak bisa dengan mudah membuktikan kebenarannya, tetapi hendaknya, kita juga tidak dengan sembarangan menuduh mereka sesat. Satu sisi, kita harus berhati-hati dalam menyikapi fenomena “alam Roh,” tetapi kita tidak boleh gegabah menganalisa, menilai, menuduh, dan menghakimi secara sembarangan terhadap fenomena tersebut. Allah adalah Allah yang transenden dan transempiris. Kita harus selalu memberi ruangan untuk realita yang transenden dan yang transempiris. Kalau segala sesuatu harus diverifikasi secara logika dan empiris, maka menempatkan kita pada kenaifan atau kepicikan. Sikap yang paling bijaksana adalah diam. Sementara itu, kita mengajarkan kebenaran yang kita pahami Alkitabiah kepada jemaat yang menjadi tanggung jawab kita.
Kelompok mistisis ini, kalau membuka Alkitab, mengklaim bahwa apa yang mereka pahami dan ajarkan adalah kebenaran yang benar-benar tuntunan dari Roh Allah, bahkan tidak jarang mereka mengatakan Allah sendiri yang mengajar mereka secara langsung. Kelompok mistisis ini tidak ragu-ragu atau tidak segan-segan berbicara atas nama Tuhan atau bernubuat, dan menyaksikan bagaimana Allah berbicara, memberikan perintah kepada mereka. Mereka juga sering memberikan kesaksian-kesakasian tentang pengalaman dalam penglihatan, mimpi, dan hal-hal yang bersifat transenden; melampaui akal. Kelompok mistisis bisa transempiris, artinya mengemukakan hal-hal yang melampaui pengalaman yang sudah ada. Tetapi kelompok rasionalis lebih menggunakan empirisme, pengalaman yang sudah terjadi, lalu merumuskannya menjadi pemahaman atau ilmu yang diakui sebagai standar.
Kutub mistisis ini biasanya terdapat pada orang-orang Kharismatik, Pentakosta, dan beberapa gereja yang lebih cenderung menekankan pengalaman subjektif. Tentu tidak semua orang Kharismatik dan Pentakosta bersifat mistisis. Sebagian kelompok yang mistisis adalah orang-orang yang biasanya memiliki pengalaman jam doa di ruang doa atau di menara doa untuk menerima pewahyuan-pewahyuan dari Allah. Dari kelompok ini, juga muncul praktik-praktik pelayanan yang sulit diterima d...