
Sign up to save your podcasts
Or


Ketika kesusastraan pada 1920-an berada di bawah kontrol pemerintah kolonial dan rezim Balai Pustaka, kemunculan karya-karya sastrawan Tionghoa Peranakan yang ditulis dengan bahasa Melayu Pasar dianggap sebagai “bacaan liar”. Di episode ini Didi Kwartanada (sejarawan) dan Ayu Utami (sastrawan) membahas serba-serbi karya-karya penulis Tionghoa Peranakan yang juga turut membentuk keindonesiaan. Simak juga pembacaan petikan novel Drama di Boven Digoel karya Kwee Tek Hoay oleh Rizal Iwan (Kelas Akting Salihara).
By Komunitas Salihara Arts CenterKetika kesusastraan pada 1920-an berada di bawah kontrol pemerintah kolonial dan rezim Balai Pustaka, kemunculan karya-karya sastrawan Tionghoa Peranakan yang ditulis dengan bahasa Melayu Pasar dianggap sebagai “bacaan liar”. Di episode ini Didi Kwartanada (sejarawan) dan Ayu Utami (sastrawan) membahas serba-serbi karya-karya penulis Tionghoa Peranakan yang juga turut membentuk keindonesiaan. Simak juga pembacaan petikan novel Drama di Boven Digoel karya Kwee Tek Hoay oleh Rizal Iwan (Kelas Akting Salihara).