Kekristenan adalah ajakan untuk mempersiapkan diri hidup di langit baru dan bumi yang baru, bukan untuk hidup bumi ini, sebab bumi ini pasti berakhir. Sebagaimana Allah adalah Allah yang kekal, Allah menghendaki manusia sebagai makhluk kekal dapat bersama dengan diri-Nya juga di kekekalan. Pada umumnya, atau hampir semua manusia melakukan segala sesuatu hanya untuk kehidupannya di bumi ini, dari sekolah, kuliah, berkarier, bekerja, menikah, dan segala sesuatu yang dikerjakan hanya untuk kehidupannya di bumi, atau masa depan anak-anaknya, atau orang yang dikasihi. Cara berpikir ini sudah mengakar dalam diri semua orang, bahwa tidak ada dunia lain yang dapat dinikmati selain dunia hari ini. Mereka berpikir bahwa dunia di balik kubur adalah dunia misteri yang tidak terpahami sama sekali. Biasanya, mereka sangat takut terhadap kematian. Itulah sebabnya mereka berusaha sejauh mungkin menghindari kematian. Padahal, kematian pasti akan mereka temui.
Pernyataan Yesus dalam Yohanes 17:16, sangat sinkron dengan tulisan Paulus dalam Filipi 3:20, bahwa karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Kata “menantikan” dalam teks aslinya adalah apekdekhometha, yang berarti menanti dengan sangat kuat atau bersemangat sekali. Filipi 3:20 sebenarnya lebih tepat diterjemahkan: “Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari hal tersebut atau berangkat dari hal ini, maka kita juga menantikan dengan sangat kuat Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” Orang yang menghayati bahwa dirinya adalah warga negara Kerajaan Surga pasti sangat menantikan kedatangan Tuhan atau hari kematiannya.
Memindahkan hati ke surga artinya menjalani hidup dengan prinsip bahwa hidup yang sesungguhnya adalah nanti di langit baru dan bumi yang baru. Hidup yang dijalani hari ini bukanlah hidup untuk dinikmati sama seperti orang-orang tidak mengenal Kristus, yaitu yang digairahkan oleh barang-barang dunia. Inilah kehidupan Yesus yang diucapkan dengan menggunakan sebuah ilustrasi bahwa serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia (Yesus) tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Luk. 9:58). Sejatinya, hidup kita seharusnya hanya diisi dengan perjuangan untuk memenuhi rencana Bapa dalam hidup ini. Rencana Bapa adalah terus mengalami perubahan untuk menjadi seperti Yesus yang berarti bermoral agung seperti Tuhan atau kudus seperti Allah dan mengambil bagian dalam pelayanan, yaitu menyelamatkan jiwa-jiwa. Menyelamatkan jiwa-jiwa dalam bentuk menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk mengubah manusia lain menjadi seperti Yesus. Oleh sebab itu, kita harus terlebih dahulu menjadi seperti Yesus, baru bisa menulari orang lain.
Banyak orang Kristen merasa sudah menjadi anak-anak Allah dan sudah memiliki jaminan masuk surga. Mereka tidak merasa perlu berjuang bagaimana bisa menghayati bahwa dirinya bukan berasal dari dunia ini dan bisa menujukan fokusnya kepada perkara-perkara yang di atas. Seorang Kristen yang tidak memperjuangkan hal tersebut, gaya hidupnya pasti sama seperti anak-anak dunia lainnya. Mereka orang-orang yang tidak siap meninggalkan dunia, mereka merasa bahwa dunia ini rumahnya. Tentu saja mereka tidak menantikan kedatangan Tuhan. Hal ini terjadi, sebab mereka tidak bertumbuh dalam kebenaran, sehingga mereka tidak mampu menghayati bahwa mereka adalah warga Kerajaan Surga. Walaupun mereka percaya bahwa diri mereka adalah anak-anak Allah, tetapi mereka tidak memandangnya sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh sangat berharga. Orang Kristen seperti ini tidak akan berusaha untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela, dan tidak akan mencari tempat untuk membela pekerjaan Tuhan. Sebenarnya, mereka telah memarkir jiwa mereka di bumi ini. Mereka tidak memindahkan hati ke surga.
Pada dasarnya, banyak orang tidak pernah mengerti atau tidak pernah mau mengerti dan menerima bahwa kehidupan yang sesungguhnya yang dirancang Tuhan untuk dinikma...