
Sign up to save your podcasts
Or


(Taiwan, ROC) --- Emmanuel Macron berhasil dipilih menjadi Presiden Prancis, setelah mengalahkan pesaingnya dalam pemilu tahun lalu, dengan total dukungan suara 66%. Suara yang cukup tinggi ini, menjadikannya sebagai Presiden termuda yang pernah memimpin Prancis. Segudang harapan dari masyarakat Prancis pun disematkan atas dirinya. Namun hari ini, bintang politik Emmanuel Macron tengah menghadapi ujian yang bertubi-tubi. Masalah internal, eksternal, dan “Aksi Rompi Kuning” yang baru-baru ini terjadi, membuat dirinya harus berpikir dan berjuang lebih keras lagi.
Emmanuel Macron merupakan pemimpin muda, dirinya baru saja menginjak usia 41 tahun. Energik di panggung internasional, tampan menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari dirinya. Sikapnya yang blak-blakan dan apa adanya juga membekas dibenak setiap masyarakat Prancis. Salah satunya adalah dengan momen saat Prancis memenangkan Piala Dunia, Emmanuel Macron diketahui sangat antusias untuk bertemu dengan salah seorang imigran gelap yang pernah menyelamatkan bocah berusia 4 tahun. Selain itu, dirinya juga dengan lantang menyampaikan pendapatnya atas Presiden Donald Trump untuk menjadikan “Bumi Kita Jaya Kembali”. Dengan penuh percaya diri, Emmanuel Macron akan membentuk aliansi Eropa. Upaya dan inovasi yang terus dicetusnya, berhasil membuat Prancis keluar dari bayang-bayang pemerintahan Presiden sebelumnya, yakni Francois Hollande.
Keputusan untuk mempromosikan reformasi hukum perburuhan, membuat Emmanuel Macron dan Serikat buruh terlibat perbedaan pendapat yang cukup sengit. Sikapnya yang keras dan berbicara blak-blakan, mengritik pihak lawan bahwa mereka “Tidak Menghasilkan Langkah yang Berarti”. Emmanuel Macron sebelumnya yang menjabat sebagai Menteri Ekonomi pernah mengomentari para demonstran “Jika ingin mampu membeli jas, maka harus bekerja”. Ayahnya yang seorang Dosen Universitas, ibunya merupakan seorang Dokter, Emmanuel Macron sebelumnya diketahui juga pernah berprofesi sebagai bankir. Sedari kecil dia hidup dalam keluarga yang berkecukupan, ia juga diketahui ahli dalam memainkan piano. Emmanuel Macron dinilai oleh pihak luar sebagi sosok yang memandang rendah kaum buruh. Ia juga tidak pernah menyesal akan perkataan kontroversial yang pernah dicetusnya, dirinya merasa negara tidak akan maju, jika tidak mengatakan fakta sebenarnya.
Emmanuel Macron pun dicap sebagai pribadi yang angkuh, video dirinya tengah meminta salah satu siswa SD memanggilnya Presiden pun tersebar luas di jaringan media sosial. Ia juga disebut-sebut sebagai Presidennya orang kaya, Emmanuel Macron pernah memesan 1.200 piring, guna mengganti piring-piring lama di Palais de l'Élysée. Bulan Juli lalu, ia juga pernah diserang gosip yang kurang menggenakkan, semakin menambah ciri khas dari gaya kepemimpinan Emmanuel Macron. Salah satu politikus Prancis Gerard Collombpada Bulan Oktober lalu pernah mengritik pemerintahan Emmanuel Macron yang angkuh, ia juga menambahkan Presiden Prancis saat ini mudah sekali melontarkan kalimat yang dianggap tidak pantas di muka umum.
Sebulan berselang sesaat Gerald Collomb menyampaikan pendapatnya, peristiwan “Rompi Kuning” pun pecah. Kumpulan massa mengenakan rompi berwarna kuning turun ke jalan-jalan pada 17 November 2018. Mereka memprotes akan kenaikan pajak bahan bakar yang terjadi secara terus menerus. Mereka yang tergabung dalam aksi Rompi Kuning, diketahui tidak terkoordinir secara struktural, mengakibatkan pemerintah Prancis kewalahan saat hendak melakukan pembicaraan dengan salah satu perwakilan dari kumpulan massa tersebut.
Aksi demonstran kian panas, beberapa aksi anarki pun terjadi. Para pengunjuk rasa diketahui membakar mobil di jalan, memecahkan toko-toko dan bahkan merampok para pedagang. Aksi ini bagai bom waktu yang meledak, mereka memprotes pemerintah Prancis saat ini terlampau arogan. Suara meminta Emmanuel Macron pun terdengar sangat lantang. Peristiwa kerusuhan pun tidak terelakkan, 1 Desember 2018 keributan besar pecah di Prancis. Arc de Triompheyang merupakan salah satu objek wisata dunia, harus menjadi sasaran dari amukan massa. Keributan 1 Desember dipercayai sebagai yang terparah dalam 50 tahun terakhir.
Melihat dampak keributan yang semakin meluas, Emmanuel Macron untuk pertama kalinya menetapkan kebijakan yang lunak. Ia mengumumkan untuk membatalkan kebijakan pajak bahan bakar, yang direncanakan akan naik pada tahun 2019.
By Yunus Hendry, Rti(Taiwan, ROC) --- Emmanuel Macron berhasil dipilih menjadi Presiden Prancis, setelah mengalahkan pesaingnya dalam pemilu tahun lalu, dengan total dukungan suara 66%. Suara yang cukup tinggi ini, menjadikannya sebagai Presiden termuda yang pernah memimpin Prancis. Segudang harapan dari masyarakat Prancis pun disematkan atas dirinya. Namun hari ini, bintang politik Emmanuel Macron tengah menghadapi ujian yang bertubi-tubi. Masalah internal, eksternal, dan “Aksi Rompi Kuning” yang baru-baru ini terjadi, membuat dirinya harus berpikir dan berjuang lebih keras lagi.
Emmanuel Macron merupakan pemimpin muda, dirinya baru saja menginjak usia 41 tahun. Energik di panggung internasional, tampan menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari dirinya. Sikapnya yang blak-blakan dan apa adanya juga membekas dibenak setiap masyarakat Prancis. Salah satunya adalah dengan momen saat Prancis memenangkan Piala Dunia, Emmanuel Macron diketahui sangat antusias untuk bertemu dengan salah seorang imigran gelap yang pernah menyelamatkan bocah berusia 4 tahun. Selain itu, dirinya juga dengan lantang menyampaikan pendapatnya atas Presiden Donald Trump untuk menjadikan “Bumi Kita Jaya Kembali”. Dengan penuh percaya diri, Emmanuel Macron akan membentuk aliansi Eropa. Upaya dan inovasi yang terus dicetusnya, berhasil membuat Prancis keluar dari bayang-bayang pemerintahan Presiden sebelumnya, yakni Francois Hollande.
Keputusan untuk mempromosikan reformasi hukum perburuhan, membuat Emmanuel Macron dan Serikat buruh terlibat perbedaan pendapat yang cukup sengit. Sikapnya yang keras dan berbicara blak-blakan, mengritik pihak lawan bahwa mereka “Tidak Menghasilkan Langkah yang Berarti”. Emmanuel Macron sebelumnya yang menjabat sebagai Menteri Ekonomi pernah mengomentari para demonstran “Jika ingin mampu membeli jas, maka harus bekerja”. Ayahnya yang seorang Dosen Universitas, ibunya merupakan seorang Dokter, Emmanuel Macron sebelumnya diketahui juga pernah berprofesi sebagai bankir. Sedari kecil dia hidup dalam keluarga yang berkecukupan, ia juga diketahui ahli dalam memainkan piano. Emmanuel Macron dinilai oleh pihak luar sebagi sosok yang memandang rendah kaum buruh. Ia juga tidak pernah menyesal akan perkataan kontroversial yang pernah dicetusnya, dirinya merasa negara tidak akan maju, jika tidak mengatakan fakta sebenarnya.
Emmanuel Macron pun dicap sebagai pribadi yang angkuh, video dirinya tengah meminta salah satu siswa SD memanggilnya Presiden pun tersebar luas di jaringan media sosial. Ia juga disebut-sebut sebagai Presidennya orang kaya, Emmanuel Macron pernah memesan 1.200 piring, guna mengganti piring-piring lama di Palais de l'Élysée. Bulan Juli lalu, ia juga pernah diserang gosip yang kurang menggenakkan, semakin menambah ciri khas dari gaya kepemimpinan Emmanuel Macron. Salah satu politikus Prancis Gerard Collombpada Bulan Oktober lalu pernah mengritik pemerintahan Emmanuel Macron yang angkuh, ia juga menambahkan Presiden Prancis saat ini mudah sekali melontarkan kalimat yang dianggap tidak pantas di muka umum.
Sebulan berselang sesaat Gerald Collomb menyampaikan pendapatnya, peristiwan “Rompi Kuning” pun pecah. Kumpulan massa mengenakan rompi berwarna kuning turun ke jalan-jalan pada 17 November 2018. Mereka memprotes akan kenaikan pajak bahan bakar yang terjadi secara terus menerus. Mereka yang tergabung dalam aksi Rompi Kuning, diketahui tidak terkoordinir secara struktural, mengakibatkan pemerintah Prancis kewalahan saat hendak melakukan pembicaraan dengan salah satu perwakilan dari kumpulan massa tersebut.
Aksi demonstran kian panas, beberapa aksi anarki pun terjadi. Para pengunjuk rasa diketahui membakar mobil di jalan, memecahkan toko-toko dan bahkan merampok para pedagang. Aksi ini bagai bom waktu yang meledak, mereka memprotes pemerintah Prancis saat ini terlampau arogan. Suara meminta Emmanuel Macron pun terdengar sangat lantang. Peristiwa kerusuhan pun tidak terelakkan, 1 Desember 2018 keributan besar pecah di Prancis. Arc de Triompheyang merupakan salah satu objek wisata dunia, harus menjadi sasaran dari amukan massa. Keributan 1 Desember dipercayai sebagai yang terparah dalam 50 tahun terakhir.
Melihat dampak keributan yang semakin meluas, Emmanuel Macron untuk pertama kalinya menetapkan kebijakan yang lunak. Ia mengumumkan untuk membatalkan kebijakan pajak bahan bakar, yang direncanakan akan naik pada tahun 2019.