
Sign up to save your podcasts
Or


Pasca-Reformasi, 20 tahun terakhir, peran politik perempuan di Indonesia mengalami “kemajuan.” Aspek yang paling nyata adalah soal representasi. Sekitar 30 persen perempuan kini duduk di DPD, 20 persen di DPR RI, 17 persen di DPRD provinsi dan kabupaten, termasuk meningkatnya jumlah perempuan yang terpilih sebagai kepala daerah. Pertanyaannya apakah peningkatan kuantitas itu merefleksikan kualitas? Apakah posisi politik perempuan berkolerasi dengan upaya advokasi untuk perbaikan kondisi perempuan? Bagaimana dengan soal masih maraknya ketidakadilan gender, ketimpangan akses, dan masih tingginya angka kematian perempuan? Dan apakah peran politik identik dengan institusi formal, sekedar soal posisi jabatan di eksekutif atau legislatif?
Narasumber: Ani Soetjipto, Dewan Pengurus Yayasan Tifa
By TIFA FOUNDATIONPasca-Reformasi, 20 tahun terakhir, peran politik perempuan di Indonesia mengalami “kemajuan.” Aspek yang paling nyata adalah soal representasi. Sekitar 30 persen perempuan kini duduk di DPD, 20 persen di DPR RI, 17 persen di DPRD provinsi dan kabupaten, termasuk meningkatnya jumlah perempuan yang terpilih sebagai kepala daerah. Pertanyaannya apakah peningkatan kuantitas itu merefleksikan kualitas? Apakah posisi politik perempuan berkolerasi dengan upaya advokasi untuk perbaikan kondisi perempuan? Bagaimana dengan soal masih maraknya ketidakadilan gender, ketimpangan akses, dan masih tingginya angka kematian perempuan? Dan apakah peran politik identik dengan institusi formal, sekedar soal posisi jabatan di eksekutif atau legislatif?
Narasumber: Ani Soetjipto, Dewan Pengurus Yayasan Tifa