
Sign up to save your podcasts
Or


Lima tahun terakhir sikap perkubuan kuat mewarnai politik akar-rumput di Indonesia. Uniknya perkubuan itu bukan berbasis pada ideologi atau platform partai, melainkan pada figur politisi. Di Indonesia perkubuan politik berpusar pada figur: pro-Jokowi, pro-Prabowo, pro-SBY, pro-Anies, dan seterusnya. Muncul julukan atau ejekan yang unik bagi penganut fanatik perkubuan ini: cebong, kampret, kadrun, dan sejenisnya. Fenomena politik tribalisme ini merujuk pada sikap loyalitas total pada sosok “kepala suku” (chieftain, satu konsep kepemimpinan tradisional) ketimbang pada gagasan atau platform ideologi modern. Apakah ini Indikasi politik di Indonesia mengarah ke situasi emosional dan irasional? Sikap pemujaan paternalistik pada figur politik ini akankah mengancam prinsip demokrasi? Adakah solusi?
Narasumber: Daniel Dhakidae, pemimpin redaksi majalah PRISMA, Dewan Pembina Yayasan Tifa.
By TIFA FOUNDATIONLima tahun terakhir sikap perkubuan kuat mewarnai politik akar-rumput di Indonesia. Uniknya perkubuan itu bukan berbasis pada ideologi atau platform partai, melainkan pada figur politisi. Di Indonesia perkubuan politik berpusar pada figur: pro-Jokowi, pro-Prabowo, pro-SBY, pro-Anies, dan seterusnya. Muncul julukan atau ejekan yang unik bagi penganut fanatik perkubuan ini: cebong, kampret, kadrun, dan sejenisnya. Fenomena politik tribalisme ini merujuk pada sikap loyalitas total pada sosok “kepala suku” (chieftain, satu konsep kepemimpinan tradisional) ketimbang pada gagasan atau platform ideologi modern. Apakah ini Indikasi politik di Indonesia mengarah ke situasi emosional dan irasional? Sikap pemujaan paternalistik pada figur politik ini akankah mengancam prinsip demokrasi? Adakah solusi?
Narasumber: Daniel Dhakidae, pemimpin redaksi majalah PRISMA, Dewan Pembina Yayasan Tifa.