Betapa jahatnya ajaran yang mengesankan bahwa tanpa usaha atau proses pendewasaan yang benar, atau tanpa usaha untuk mengalami perubahan kodrat, seseorang bisa memiliki pendamaian yang ideal dengan Allah. Yesus memang mati untuk semua orang, tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan untuk diperdamaikan dengan Allah dalam harmonisasi hubungan yang eksklusif antara Allah sebagai Bapa dan orang percaya sebagai anak, sesuai rancangan Allah semula. Harus ada perjuangan untuk mengalami perubahan yang memadai guna mencapai kehidupan yang diperdamaikan dengan Allah. Alkitab juga mengatakan, hanya orang yang suci yang akan melihat Allah, artinya yang diperdamaikan dengan Allah. Keselamatan yang di dalamnya ada pendamaian dengan Allah disediakan gratis tanpa usaha dan jasa manusia sama sekali. Tetapi, memiliki dan mengenakan keselamatan—sehingga memiliki perdamaian dan persekutuan yang benar dengan Allah—bukan sesuatu yang gratis, melainkan harus ada perjuangan yang mempertaruhkan segenap hidup.
Perdamaian adalah persekutuan dengan Allah Bapa dan Tuhan Yesus. Itulah sebabnya Yesus berdoa yang ditulis di dalam Yohanes 17:20-21, sebagai berikut: “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Bisa ada di dalam persekutuan dengan Bapa. Dalam pendamaian itu, orang percaya bisa tinggal di dalam Bapa. Ini adalah suatu hal yang sangat luar biasa.
Sesungguhnya, inilah yang dimaksud oleh Yesus dalam pernyataan-Nya: “Tidak seorang pun sampai kepada Bapa, kecuali melalui Aku” (Yoh. 14:6). “Sampai kepada Bapa,” dalam bahasa aslinya erchomai (ἔρχομαι) yang artinya to come into or unto; datang untuk masuk. Banyak orang Kristen memahami pernyataan Yesus tersebut sekadar bahwa di luar Kristus tidak ada keselamatan. Kalau hanya untuk menjelaskan bahwa di luar Kristus tidak ada keselamatan, Kisah Rasul 4:12 menyatakan bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada nama yang di dalamnya manusia beroleh keselamatan. Dalam hal ini, Yesus memikul semua dosa manusia. Tetapi di dalam Yohanes 14:6, ayat ini menunjuk hubungan yang khusus dengan Allah. Kalau ibarat sebuah visa, orang asing bisa mendapat visa untuk masuk ke Indonesia, tapi bukan atau belum tentu bisa masuk istana guna bertemu dengan presiden. Kalau masuk istana, tidak cukup hanya visa, tapi ia harus menjadi keluarga presiden atau orang penting presiden, atau yang bertalian dengan pekerjaan istana.
Memang benar di luar Kristus tidak ada keselamatan, tetapi Yohanes 14:6 tidak cukup hanya dipahami sekadar bahwa di luar Yesus tidak ada keselamatan. Ayat ini juga menunjuk adanya hubungan atau persekutuan yang eksklusif antara Bapa, Anak, dan orang percaya (Yoh. 17:20-21). Inilah maksud pendamaian yang disediakan Allah melalui kurban Putra-Nya. Sejatinya, orang percaya bukan hanya mendapat “visa” untuk dapat langit baru dan bumi yang baru atau masuk masuk surga, tetapi juga masuk Rumah Bapa sebagai anggota keluarga Kerajaan dan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian, Rumah Bapa bisa tidak sama dengan sekadar diperkenan hidup di langit baru dan bumi yang baru. Rumah Bapa bisa menunjukkan tempat khusus atau eksklusif untuk mereka yang telah mengalami perdamaian dengan Allah.
Perlu ditambahkan di sini, bahwa orang yang berbuat baik—yaitu mereka mengasihi sesama seperti diri sendiri—bisa masuk dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat. Tetapi kalau masuk istana atau Rumah Bapa menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, itu hal yang berbeda dari sekadar diperkenan masuk dunia yang akan datang. “Sampai kepada Bapa” (to come into) adalah persekutuan yang eksklusif. Persekutuan dengan Allah adalah inti hidup kekristenan yang benar.