
Sign up to save your podcasts
Or


(Taiwan, ROC) --- Melalui akun twitternya, Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa fase pertama negosiasi perdagangan dengan Daratan Tiongkok hampir selesai dilaksanakan. Setelah pesan twitter tersebut diunggah, indeks Dow Jones langsung memperlihatkan respons positif. Saham di Wall Street juga dilaporkan mencatat rekor tertinggi. Naiknya indeks saham Amerika Serikat, jelas memperlihatkan sentimen pasar yang berharap pada berhentinya konflik perdagangan kedua negara adidaya tersebut.
Pasar saham di Benua Asia juga memperlihatkan sentimen yang serupa. Indeks Nikkei Jepang dan Hangsheng Hongkong dilaporkan menguat pada pembukaan dengan poin 2,2 dan 1,9. Hal yang sama juga terjadi pada pasar saham Shanghai, yang dibuka menguat sebesar 1%.
Wakil Kepala Dagang Amerika Serikat, Myron Brilliant, mengemukakan bahwa ini adalah permulaan yang baik. Hal tersebut diutarakannya sesaat setelah dirinya menemui para pejabat Gedung Putih.
Menurut pemberitaan, pada tanggal 12 Desember 2019 sebuah pertemuan antara pihak petinggi Gedung Putih dengan para pelaku usaha telah berlangsung. Dalam pertemuan tersebut, telah diisyaratkan bahwa negosiasi konflik perdagangan fase pertama telah berjalan dengan baik dan kini tengah menunggu ditandatangani oleh Presiden Donald Trump.
Seperti yang diketahui oleh pihak luar, jika negosiasi tidak berjalan mulus, maka pada tanggal 15 Desemeber 2019 Amerika Serikat akan memberlakukan tarif baru terhadap produk-produk Daratan Tiongkok
Masing-Masing harus Mundur Selangkah
Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah menemui para penasehat perdagangan Gedung Putih dan pejabat senior terkait, sebelum merilis cuitan di twitter. Penguasa Negeri Paman Sam tersebut menyuitkan “Mereka ingin mencapai tahap negosiasi. Begitu juga dengan kami!”
Untuk mencapai kesepakatan kali ini, pihak Amerika Serikat telah membuat konsensi terhadap pihak Daratan Tiongkok, yakni dengan mengurangi tarif pajak. Saat ini, Amerika Serikat memberlakukan pajak 25% atas produk Daratan Tiongkok yang memiliki total nilai sebesar US$ 35 miliar. Di samping itu, pihak Daratan Tiongkok dikabarkan juga akan meningkatkan pembelian mereka atas produk pertanian Amerika Serikat.
Meskipun Amerika Serikat telah memperlihatkan sinyal positif, namun poin-point dalam fase pertama negosiasi masih belum benar-benar menyentuh isu-isu krusial dalam konflik perdagangan itu sendiri. Misalnya polemik pelanggaran jangka panjang yang dilakukan otoritas Daratan Tiongkok, dengan menyokong perusahaan milik negara, yang notabene hal tersebut jelas melanggar aturan perdagangan internasional.
Para pakar lebih lanjut menganalisis, di tengah upaya pemakzulan yang dilakukan Kongres Amerika Serikat terhadap Donald Trump, prestasi saat ini jelas akan memberikan keberhasilan simbolik bagi Presiden ke 45 tersebut.
Peneliti senior Hubungan Luar Negeri Amerika Serikat, Jenniger Hilman menyampaikan, bahwa kesepakatan yang dicapai sejauh ini tidak layak dianggap sebagai perjanjian formal, karena sebagian besar tujuan awal yang diusulkan oleh pihak Amerika Serikat belum membuahkan hasil signifikan.
Melalui akun twitternya, Jennifer Hilman menuliskan “Ini lebih pantas disebut perjanjian jual beli, ketimbang perjanjian perdagangan”.
Batas Waktu yang Kian Dekat
Sebelumnya, otoritas Amerika Serikat mengancam memberlakukan tarif baru 15% pada tanggal 15 Desember 2019. Terutama terhadap US$ 160 miliar produk Daratan Tiongkok yang belum dikenakan pajak.
Barang-barang tersebut meliputi komoditas konsumen seperti ponsel, pakaian dan produk olahraga. Jika tarif tersebut diberlakukan, dengan kata lain seluruh produk Daratan Tiongkok yang diekspor ke Negeri Paman Sam dikenakan pungutan pajak.
Sebelum genderang kesepakatan ditabuh oleh Amerika Serikat, otoritas Daratan Tiongkok pada pekan lalu mengumumkan akan mencabut penetapan pajak atas produk Negeri Paman Sam, meliputi kacang kedelai dan daging babi.
Kelanjutan dari Fase Pertama
Perang perdagangan antar 2 negara adidaya tersebut telah berlangsung selama 17 bulan. Negosiasi perdagangan fase pertama antar kedua belah pihak berhasil tercapai, sebelum penetapan tarif berikutnya yang rencananya akan diberlakukan pada tanggal 15 Desember 2019.
Seperti halnya semua negosiasi di dunia, kedua belah pihak pun bersedia melakukan beberapa kompromi.
Namun demikian, beberapa pakar kembali mempertanyakan kelangsungan dari negosiasi kali ini, Berapa lama perjanjian ini dapat bertahan?
Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jin-ping diketahui pernah bertemu dalam berbagai foum penting dunia, sebut saja Osaka Summit 2019. Dalam pertemuan tersebut, keduanya tampak akrab dan saling berjabat tangan. Siapa yang menyangka kalau di balik sapaan dan jabatan tangan, tersimpan konflik ekonomi yang berkepanjangan.
Ke depannya, Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok akan memasuki fase kedua negosiasi perdagangan. Hal tersebut tentu akan membahas isu-isu yang lebih serius dan struktural.
By Yunus Hendry, Rti(Taiwan, ROC) --- Melalui akun twitternya, Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa fase pertama negosiasi perdagangan dengan Daratan Tiongkok hampir selesai dilaksanakan. Setelah pesan twitter tersebut diunggah, indeks Dow Jones langsung memperlihatkan respons positif. Saham di Wall Street juga dilaporkan mencatat rekor tertinggi. Naiknya indeks saham Amerika Serikat, jelas memperlihatkan sentimen pasar yang berharap pada berhentinya konflik perdagangan kedua negara adidaya tersebut.
Pasar saham di Benua Asia juga memperlihatkan sentimen yang serupa. Indeks Nikkei Jepang dan Hangsheng Hongkong dilaporkan menguat pada pembukaan dengan poin 2,2 dan 1,9. Hal yang sama juga terjadi pada pasar saham Shanghai, yang dibuka menguat sebesar 1%.
Wakil Kepala Dagang Amerika Serikat, Myron Brilliant, mengemukakan bahwa ini adalah permulaan yang baik. Hal tersebut diutarakannya sesaat setelah dirinya menemui para pejabat Gedung Putih.
Menurut pemberitaan, pada tanggal 12 Desember 2019 sebuah pertemuan antara pihak petinggi Gedung Putih dengan para pelaku usaha telah berlangsung. Dalam pertemuan tersebut, telah diisyaratkan bahwa negosiasi konflik perdagangan fase pertama telah berjalan dengan baik dan kini tengah menunggu ditandatangani oleh Presiden Donald Trump.
Seperti yang diketahui oleh pihak luar, jika negosiasi tidak berjalan mulus, maka pada tanggal 15 Desemeber 2019 Amerika Serikat akan memberlakukan tarif baru terhadap produk-produk Daratan Tiongkok
Masing-Masing harus Mundur Selangkah
Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah menemui para penasehat perdagangan Gedung Putih dan pejabat senior terkait, sebelum merilis cuitan di twitter. Penguasa Negeri Paman Sam tersebut menyuitkan “Mereka ingin mencapai tahap negosiasi. Begitu juga dengan kami!”
Untuk mencapai kesepakatan kali ini, pihak Amerika Serikat telah membuat konsensi terhadap pihak Daratan Tiongkok, yakni dengan mengurangi tarif pajak. Saat ini, Amerika Serikat memberlakukan pajak 25% atas produk Daratan Tiongkok yang memiliki total nilai sebesar US$ 35 miliar. Di samping itu, pihak Daratan Tiongkok dikabarkan juga akan meningkatkan pembelian mereka atas produk pertanian Amerika Serikat.
Meskipun Amerika Serikat telah memperlihatkan sinyal positif, namun poin-point dalam fase pertama negosiasi masih belum benar-benar menyentuh isu-isu krusial dalam konflik perdagangan itu sendiri. Misalnya polemik pelanggaran jangka panjang yang dilakukan otoritas Daratan Tiongkok, dengan menyokong perusahaan milik negara, yang notabene hal tersebut jelas melanggar aturan perdagangan internasional.
Para pakar lebih lanjut menganalisis, di tengah upaya pemakzulan yang dilakukan Kongres Amerika Serikat terhadap Donald Trump, prestasi saat ini jelas akan memberikan keberhasilan simbolik bagi Presiden ke 45 tersebut.
Peneliti senior Hubungan Luar Negeri Amerika Serikat, Jenniger Hilman menyampaikan, bahwa kesepakatan yang dicapai sejauh ini tidak layak dianggap sebagai perjanjian formal, karena sebagian besar tujuan awal yang diusulkan oleh pihak Amerika Serikat belum membuahkan hasil signifikan.
Melalui akun twitternya, Jennifer Hilman menuliskan “Ini lebih pantas disebut perjanjian jual beli, ketimbang perjanjian perdagangan”.
Batas Waktu yang Kian Dekat
Sebelumnya, otoritas Amerika Serikat mengancam memberlakukan tarif baru 15% pada tanggal 15 Desember 2019. Terutama terhadap US$ 160 miliar produk Daratan Tiongkok yang belum dikenakan pajak.
Barang-barang tersebut meliputi komoditas konsumen seperti ponsel, pakaian dan produk olahraga. Jika tarif tersebut diberlakukan, dengan kata lain seluruh produk Daratan Tiongkok yang diekspor ke Negeri Paman Sam dikenakan pungutan pajak.
Sebelum genderang kesepakatan ditabuh oleh Amerika Serikat, otoritas Daratan Tiongkok pada pekan lalu mengumumkan akan mencabut penetapan pajak atas produk Negeri Paman Sam, meliputi kacang kedelai dan daging babi.
Kelanjutan dari Fase Pertama
Perang perdagangan antar 2 negara adidaya tersebut telah berlangsung selama 17 bulan. Negosiasi perdagangan fase pertama antar kedua belah pihak berhasil tercapai, sebelum penetapan tarif berikutnya yang rencananya akan diberlakukan pada tanggal 15 Desember 2019.
Seperti halnya semua negosiasi di dunia, kedua belah pihak pun bersedia melakukan beberapa kompromi.
Namun demikian, beberapa pakar kembali mempertanyakan kelangsungan dari negosiasi kali ini, Berapa lama perjanjian ini dapat bertahan?
Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jin-ping diketahui pernah bertemu dalam berbagai foum penting dunia, sebut saja Osaka Summit 2019. Dalam pertemuan tersebut, keduanya tampak akrab dan saling berjabat tangan. Siapa yang menyangka kalau di balik sapaan dan jabatan tangan, tersimpan konflik ekonomi yang berkepanjangan.
Ke depannya, Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok akan memasuki fase kedua negosiasi perdagangan. Hal tersebut tentu akan membahas isu-isu yang lebih serius dan struktural.