Semua gereja pasti mengajarkan tentang Yesus, dan masing-masing pasti mengklaim bahwa Yesus yang mereka ajarkan adalah Yesus yang benar. Yesus diakui oleh semua gereja sebagai Juruselamat, tetapi apa yang mereka ajarkan mengenai Dia, ternyata berbeda-beda. Dengan demikian, sosok Yesus yang diajarkan sangat besar kemungkinan juga tidak sama. Tidak sedikit gereja yang ternyata mengajarkan Yesus yang tidak sama dengan Yesus yang ditulis dalam Perjanjian Baru. Ini berarti mereka menciptakan sosok Yesus yang lain (2Kor. 11:3-4). Ironisnya, mereka yang mengajar adalah orang-orang yang dipandang ahli mengenai Perjanjian Baru atau Alkitab secara umum. Dalam hal ini, kita tidak boleh tertipu oleh mereka yang cakap berbicara, seakan-akan mereka orang yang bisa memberi penjelasan yang benar mengenai Yesus. Dan tidak terpikat dengan buku-buku tebal yang mereka tulis mengenai Yesus, bahkan paparan teolog masa lalu pun tidak boleh secara membabi buta kita percayai.
Frasa mengenai “Yesus yang lain,” dalam teks aslinya adalah allon Iesoun (ἄλλον Ἰησοῦν). Kata allon berasal dari akar kata allos yang artinya “berbeda, tetapi masih sejenis.” Kata yang sejajar dengan kata allos adalah heteros (ἕτερος) yang artinya “yang lain” dengan keberadaan berbeda jenis dan bentuk. Penggunaan kata allos di sini hendak menunjukkan bahwa “Yesus yang lain” bukanlah Yesus yang diperkenalkan oleh agama-agama lain, melainkan Yesus yang dibaca dalam Alkitab dan diperkenalkan oleh teolog-teolog Kristen; “seakan-akan” sejenis, padahal sebenarnya berbeda. Hal ini bisa terjadi karena pemahaman yang salah terhadap Yesus yang ditulis di dalam Alkitab. Kata allos mengindikasikan kemiripan antara “Yesus yang lain” dan Yesus yang asli. Namun, semirip apa pun, “Yesus yang lain” tetaplah palsu. “Yesus yang lain” bisa merupakan buah pikiran dari berbagai doktrin yang dibangun sejak ratusan tahun oleh teolog-teolog masa lalu. Teolog-teolog tersebut selalu memiliki argumentasi terhadap semua hal mengenai Yesus dan yang berkenaan dengan teologi Kristen. Ajaran mengenai Yesus tersebut dirumuskan memenuhi halaman buku yang dipajang di perpustakaan-perpustakaan, khususnya perpustakaan seminari atau sekolah tinggi teologi.
Para akademisi yang belajar teologi secara formal di seminari atau sekolah tinggi teologi beranggapan bahwa tulisan para teolog dalam buku-buku di perpustakaan itu sudah cukup melukiskan wajah Yesus dan segala hal yang terkait dengan teologi Kristen. Dengan demikian, mereka merasa sudah menemukan Yesus dan mengunci dengan sikap bahwa pemahaman mereka mengenai Yesus sudah final. Mereka merasa sudah menemukan Yesus yang benar, tetapi realitanya, Yesus yang mereka ajarkan tidak mengubah jemaat menjadi orang percaya yang berkodrat ilahi. Ini berarti Yesus yang lain. Kalau doktrin gereja tidak mengubah jemaat, berarti harus dikoreksi atau direvisi, atau paling tidak dilengkapi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa teologi yang benar memiliki implementasi yang jelas dan mendesak untuk diperagakan, yang kemudian pasti membangun kecerdasan rohani untuk mengerti kehendak Allah serta memberi spirit atau gairah yang membangun kodrat ilahi.
Banyak gereja dan seminari atau sekolah tinggi teologi yang menjadikan kekristenan sekadar kegiatan olah nalar untuk merumuskan dan melestarikan doktrin atau sistematika teologi dari pandangan teolog masa lalu. Dengan demikian, kekristenan yang seharusnya menekankan peragaan hidup seperti yang telah diperagakan oleh Yesus, telah berubah menjadi kegiatan “menalar” Allah saja. Ada orang-orang yang dianggap sebagai pengajar yang baik karena melewati jenjang pendidikan teologi, namun ternyata mereka hanya mengolah Firman Tuhan secara nalar sebagai salah satu bidang disiplin ilmu pengetahuan semata-mata. Di antara mereka, dengan arogansinya bersikap seolah-olah Allah dengan mudah dapat diformulasikan. Mereka mempertahankan pola pikir akademisi yang mereka peroleh selama bertahun-tahun di bangku sekolah tinggi teologi,