Ciri dari orang yang ada dalam pengaruh kuasa gelap atau setan adalah tidak memiliki fokus hidup kepada langit baru dan bumi yang baru. Mereka tidak mampu menyadari dan menghayati bahwa dunia ini bukan rumahnya. Banyak ayat dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa dunia ini memang bukan rumah kita. Yesus berkata bahwa kita bukan berasal dari dunia ini, seperti Dia bukan berasal dari dunia ini. Itulah sebabnya Yesus berkata, “kumpulkan harta di surga bukan di bumi; di mana hartamu berada, di situ hatimu berada.” Yesus berkata bahwa Ia pergi menyediakan tempat bagi kita, dan kalau Dia sudah menyediakan tempat bagi kita, Dia akan datang kembali dan menjemput kita, supaya di mana Dia berada, kita juga berada. Paulus mengatakan bahwa kewargaan kita ada di surga, bukan di dunia. Itulah sebabnya, Paulus juga mengatakan bahwa kita harus memikirkan dan mencari perkara-perkara yang “di atas.” Petrus berkata bahwa harta kita bukan di bumi, melainkan di surga, maka ia menasihati agar kita menaruh seluruh pengharapan pada penyataan kedatangan Yesus. Selanjutnya, Petrus juga menyatakan bahwa di bumi ini kita hanya menumpang. Semua ini jelas menunjukkan bahwa orientasi berpikir kita harus kepada langit baru dan bumi yang baru.
Orang Kristen yang ada dalam pengaruh kuasa gelap, hatinya benar-benar terpisah dari Kerajaan Surga. Tetapi hal itu dipandangnya sebagai sesuatu yang wajar karena hampir tidak ada manusia yang sungguh-sungguh memiliki orientasi berpikir kepada dunia yang akan datang atau langit baru dan bumi yang baru. Mereka adalah orang-orang Kristen yang telah teracuni oleh cara berpikir duniawi seperti kehidupan manusia pada umumnya. Kehidupan seperti ini pastilah kehidupan yang materialistis dan sekularistis. Fokus dan orientasi hidup mereka hanyalah kepada hal-hal yang bersifat materiel atau bendani. Inilah yang dimaksud dengan duniawi. Pasti mereka terjebak dalam kehidupan yang terikat dengan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.
Bagi mereka, yang namanya kehidupan hanyalah terletak di bumi ini, tidak ada di dunia lain. Langit baru dan bumi yang baru tidaklah sama dengan kehidupan seperti yang mereka miliki dan rasakan di bumi. Sejujurnya, langit baru dan bumi yang baru bagi mereka adalah dunia yang asing, yang kebanyakan orang tidak berani meyakininya sebagai kehidupan yang wajar. Seakan-akan kehidupan di langit baru dan bumi yang baru adalah kehidupan yang tidak cocok dengan makhluk yang disebut manusia. Dengan pikiran seperti ini, sebenarnya mereka tidak yakin dengan adanya kebangkitan orang mati. Kebangkitan orang mati adalah kehidupan kembali atau kehidupan pulang bagi orang yang pernah hidup di bumi ini, untuk memasuki kehidupan di dunia lain, yang tentu saja tidak berbeda dengan kehidupan di bumi sekarang ini. Perbedaannya adalah di langit baru dan bumi yang baru, di mana tidak ada kuasa gelap dan dosa.
Tentu saja mereka tidak berkerinduan bertemu dengan Yesus. Biasanya, mereka berpikir bahwa kesempatan hidup hanya satu kali di bumi ini, dan tidak ada kesempatan untuk hidup di dunia lain. Bagi mereka, surga adalah kehidupan yang berbeda, yang walaupun diyakini indah, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh ingin memasukinya. Dengan pikiran duniawinya, mereka tidak ingin memiliki kehidupan seperti di surga, yang tidak sesuai dengan selera yang mereka miliki. Surga hanya menjadi tempat pembuangan yang tidak menyakitkan. Seharusnya, orang percaya sejak hidup di bumi ini sudah mulai mengubah selera jiwa mereka. Untuk itu, orang percaya harus memindahkan fokus hidup, dari fokus hidup di bumi ini menjadi fokus kepada kehidupan di langit baru dan bumi yang baru. Kehidupan yang hanya 70 tahun harus dijadikan kesempatan untuk persiapan diri agar layak masuk Rumah Bapa. Sehingga sejak kita menjadi orang percaya, hidup di bumi ini hanya untuk berkemas-kemas dalam rangka pulang ke Rumah Bapa. Orang percaya hanyalah musafir.
Orang yang hidup di bawah pengaruh kuasa gelap pasti tidak mengingini pula...