Berulang-ulang dalam Alkitab dikatakan bahwa “orang benar akan dibenarkan oleh iman.”Pernyataan ini dikemukakan berulang-ulang dalam Alkitab, khususnya di dalam kitab Roma 3 dan 4. Harus dimengerti bahwa, “iman” yang dimaksud di situ adalah iman seperti yang diperagakan oleh Abraham. Oleh sebab itu,untuk mengerti iman yang dimaksud oleh Alkitab, kita harus memerhatikan kehidupan Abraham, sehingga kita memiliki pengertian “iman” yang benar.Dalam Roma 4:8-13 tertulis: Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepadaTuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran. dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat. Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.
Pengertian “dibenarkan” dalam arti yang sempit adalah “dianggap benar,” ini bukan berarti orang yang dibenarkan benar-benar sudah berkeadaan benar. Seorang yang percaya kurban Yesus berpotensi untuk menerima pembenaran secara lengkap. Dalam arti yang luas, “dibenarkan” artinya diterima oleh Allah atau diperkenan oleh Allah, sebab telah diakui oleh Dia sebagai telah berkeadaan benar. Dalam hal ini,pembenaran memiliki beberapa dimensi. Dimensi pertama adalah ianggap benar, walaupun belum sungguh-sungguh berkeadaan benar. Ini disebut sebagai pembenaran secara pasif. Dimenasi kedua, proses dalam kehidupan orang percaya untuk mengalami perubahan, dari keadaan tidak benar menjadi manusia yang berkeadaan benar sesuai dengan rancangan Allah semula. Proses ini dikerjakan oleh Allah melalui Roh Kudus atas orang-orang yang memberikan respons yang memadai terhadap pembentukan-Nya (Rm. 8:28). Ini adalah pembenaran secara aktif. Ketiga, pernyataan Allah suatu hari di pengadilan Allah atas orang-orang yang telah mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar dan benar-benar memiliki kehidupan serupa dengan Yesus, bahwa mereka benar (Luk. 18:8).Dalam hal ini orang percaya harus memiliki ketekunan untuk bisa setia sampai akhir.
Satu hal yang sangat penting harus diperhatikan adalah pernyataan bahwa “dibenarkan bukan karena perbuatan” bukan berarti tidak ada tindakan. Maksud kata “perbuatan” dalamayat di atas adalah “perbuatan berdasarkan hukum Taurat.” Abraham dibenarkan bukan karena “perbuatan” melakukan hukum Taurat, karena memang pada waktu zaman Abraham belum ada hukum Taurat. Tetapi Abraham dibenarkan oleh tindakannya, yaitu dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Penurutan terhadap kehendak Allah inilah yang dimaksud dengan “iman.” Jadi iman adalah sebuah tindakannyata, bukansekadar“aktivitas nalar atau pikiran.”Kalau iman dipahami sekadar aktivitas nalar atau pikiran, maka tidak perlu dipergumulan dengan berat. Bila demikian,tentu saja Yesus tidak perlu berkata: “Bekerjalah untuk makanan yang tidak dapat binasa.”Ketika dipertanyakan oleh murid-murid, “Pekerjaan apakah itu?”Yesus menjawab pekerjaan itu adalah“percaya kepada Dia yang telah diutus oleh Bapa” (Yoh. 6:26-29). Ini berarti percaya atau beriman adalah suatu perjuangan.
Banyak orang Kristen merasa tenang dengan kehidupan kekristenan mereka yang mereka yakini telah benar, sebab mereka merasa telah dibenarkan. Berdasarkan penjelasan dari format-format definisi kalimat akademis yang dinalar saja, mereka merasa sudah berpusat kepada Tuhan, padahal mereka hanya berpusat pada diri sendiri; yaitu hanya pada pikiran mereka dengan pengertian-pengertianya dari format-format definisi kalimat akademis. Itulah sebabnya mereka tidak mengalami Tuhan secaranyata. Kehidupan kekristenan seperti ini tidak akan membuat kekristenan menjadi bertahan.