Pernahkah kita mendengar perkataan semacam ini: ‘kamu perlu memperhatikan orang lain yang sukses supaya itu memotivasi kamu untuk bekerja lebih keras. Kalau mereka bisa sukses, mengapa kamu tidak?’ Mungkin ini terdengar nasihat yang bijak, tapi ternyata belum tentu.
Nasihat seperti ini bisa membuat kita mudah iri hati, minder bahkan frustrasi jika kita tidak mengalami apa yang dikatakan. Namun sebaliknya, jika itu memang terjadi maka mudah juga bagi kita untuk merasa tinggi hati bahkan lupa diri dan merendahkan orang lain.
Lalu, bagaimana Injil memberi jawaban dan jalan keluar atas kedua ‘tension’ ini? Bagaimana Injil menolong kita untuk memiliki konsep identitas diri yang sehat dan dimampukan untuk keluar dari jerat perasaan iri hati dan tinggi hati?