Saat berdiri di ambang tahun yang baru, perasaan kita sering kali campur aduk. Ada harapan, tetapi juga kecemasan.Ada semangat untuk memulai kembali, tetapi juga kelelahan karena pola lama yang terus berulang.Di dunia modern, waktu sering terasa seperti treadmill tanpa akhir. Kita terus berlari mengejar pencapaian, kesuksesan, atau sekadar bertahan hidup. Namun ironisnya, semakin cepat kita berlari, semakin sering kita kehilangan rasa tujuan yang sejati.Sebagian orang berkata,“Tahun baru, aku yang baru. Aku adalah penentu takdirku sendiri. Tahun ini pasti akan berbeda.”Yang lain lebih sinis berkata,“Semua ini hanyalah kebetulan biologis dalam alam semesta yang acak.”Namun keduanya sama-sama meninggalkan satu pertanyaan besar yang tak terjawab:Apakah hidup ini sungguh berarti? Dari mana kita berasal?Dan untuk apa kita ada?Melalui Kejadian 1, kita akan melihat bagaimana Injil menjawab kecemasan, harapan, dan kekosongan manusia modern dengan membawa kita kembali kepada Sang Awal, Allah yang mencipta, menopang, dan menebus.