Ibadah Minggu Paskah ke 3 GKI Sarua Indah 26 Aprik 2020
Hidup Yang Dibarui Oleh Sang Firman
Setiap orang Kristen pada umumnya merindukan pertumbuhan iman. Pertumbuhan
iman diyakini dapat diperoleh melalui ketekunan belajar Kitab Suci. Di Sekolah Minggu
misalnya, kita sering diajar untuk bernyanyi: “Baca Kitab Suci, Doa tiap hari, kalau mau
tumbuh.” Melalui ketekunan membaca Kitab Suci, iman anak-anak diharapkan dapat
bertumbuh. Beranjak dewasa, aktivitas gereja pun banyak menekankan pembelajaran Kitab
Suci melalui kegiatan seperti persekutuan, Pemahaman Alkitab, Bible Study, khotbah, dsb.
Kegiatan tersebut bertujuan agar kita semakin diperlengkapi dalam pengetahuan tentang
firman Tuhan. Namun pertanyaannya: apakah dengan pengetahuan tentang firman Tuhan,
otomatis kehidupan rohani kita akan bertumbuh? Belum tentu! Hal ini karena setiap orang
yang memiliki pengetahuan tentang firman Tuhan belum tentu memiliki pengalaman
mengenai firman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Perselisihan, perpecahan, rasa tidak
percaya bisa terjadi di tengah-tengah gereje/keluarga orang percaya yang akrab dengan
Terkait hal di atas, menjadi menarik memperhatikan pernyataan Benjamin S. Bloom,
seorang tokoh psikologi pendidikan. Bloom membagi ranah atau domain pendidikan
manusia ke dalam tiga ranah:
1. Ranah kognitif, menekankan aspek intelektual, pengetahuan, keterampilan berfikir.
2. Ranah afektif, menekankan aspek perasaan dan emosi menyangkut moral, nilai-nilai,
budaya, agama, seperti sikap antusias, apresiasi, belas kasih dan lain-lain.
3. Ranah psikomotorik, menekankan aspek perilaku/aktivitas/keterampilan motorik seperti
bercerita, menulis, mengetik, berolahraga dan sebagainya
Ketiga ranah tersebut di atas adalah ranah pembelajaran yang sesungguhnya tidak
dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam hal pembelajaran terkait firman Tuhan, memahami
maksud dan rencana Tuhan secara kognisi perlu diimbangi dengan ranah afeksi. Hal
tersebut berarti bahwa kita tidak hanya tahu tetapi juga belajar merasa disentuh atau ditegur
oleh firman Tuhan. Merasa disentuh atau ditegur oleh firman Tuhan adalah hal yang baik,
tetapi harus dilengkapi dengan pembelajaran dalam ranah psikomotorik. Pembelajaran
dalam ranah psikomotorik berarti melakukan aksi nyata terkait firman Tuhan.
Seseorang mungkin bisa pandai dalam pengetahuan Alkitab, tetapi tanpa pengolahan
batin dan perilaku, maka pertumbuhan orang tersebut hanya berhenti pada pemahaman
semata. Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita akan melihat bahwa pengalaman perjumpaan
dengan Tuhan seharusnya terjadi secara menyeluruh (holistik) yaitu melibatkan aspek
kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketika seseorang mengalami perjumpaan dengan Sang
Firman secara holistik, maka hidupnya akan dibarui dan diubahkan.
(Pdt. Guratan, GKI Gejayan-Yogyakarta
Dian Penuntun/RKL/BPMS-GKI/29/2020)