Sering kita mendengar dan juga mungkin mengucapkan kalimat “hidup di hadirat Allah.” Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hadirat Allah itu? “Hadirat” berasal dari kata “hadir,” yang artinya datang atau keberadaan. Secara umum, pengertian kata “hadirat” berarti kehadiran atau keberadaan. Hadirat bisa juga memiliki kesamaan arti dengan “di hadapan” atau “di dalam kehadiran.” Jadi, kalau dikatakan “di hadirat Allah” berarti suatu tempat atau suasana dimana Allah hadir. Dalam pengertian luas, “di hadirat Allah” berarti keadaan dimana seseorang mengalami kehidupan yang berinteraksi dengan Allah. Berinteraksi artinya hubungan timbal balik, dimana ada percakapan yang dalam dan saling memengaruhi perasaan masing-masing. Orang yang memiliki percakapan dengan Allah, bukan hanya banyak berdoa atau mengucapkan kata-kata kepada Allah, melainkan Allah juga berkata-kata kepada orang tersebut. Dalam hal ini, bukan hanya Allah yang mendengar perkataan kita, melainkan kita juga mendengar perkataan-Nya. Dalam interaksi, perasaan Allah dapat disukakan atau didukakan.
Dalam bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama, kata “di hadirat Allah” terjemahan dari le paniym Elohim yang artinya “di muka Allah.” Paniym artinya muka atau wajah, berbentuk jamak. Kalau diterjemahkan secara harfiah, paniym berarti muka-muka atau wajah-wajah. Hal ini mengesankan banyak muka atau banyak wajah. Apakah ini berarti Allah banyak muka-Nya atau Allah berjumlah lebih dari satu? Tentu tidak. Maksudnya adalah bahwa Allah ada di mana-mana, yang oleh karenanya bisa dijumpai dan umat dapat berinteraksi dengan Dia. Dalam Perjanjian Baru, kalimat “di hadirat Allah” diterjemahkan enopion tou theo (ἐνώπιον τοῦ θεοῦ); in face of God (Kis. 14:4). Dalam bahasa Inggris diterjemahkan before God. Dalam Perjanjian Baru, kalimat “di hadirat Allah” juga tertulis to prosopoin tou theou (τῷ προσώπῳοιν τοῦ θεοῦ), artinya di dalam kehadiran Allah. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan in the presence of God (Ibr. 9:24).
Memang Allah Mahahadir, sejak dahulu juga hadir dimana-mana (omnipresent), tidak ada tempat di mana Allah tidak hadir. Dalam Mazmur 139:17-10 tertulis: “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.” Ayat ini mengemukakan bahwa Allah bukan saja eksis, melainkan juga Mahahadir.
Karena Allah Mahahadir, apakah berarti secara otomatis semua orang hidup di hadirat Allah? Ternyata tidak. Allah memang Mahahadir, tetapi kehadiran-Nya tidak dirasakan semua orang, sehingga banyak orang tidak mengalami-Nya. Tidak semua orang memiliki interaksi dengan Allah. Hal ini sama artinya bahwa tidak semua orang hidup di hadirat Allah. Mereka tidak hidup di hadirat Allah bukan karena Allah tidak hadir dalam hidup mereka, melainkan karena mereka tidak mau berurusan dengan Allah secara benar. Dalam dunia yang fasik, semakin banyak orang yang tidak hidup di hadirat Allah. Tanpa sadar atau secara tidak langsung, walaupun percaya Allah ada, perlakuannya terhadap Allah menunjukkan seakan-akan Allah seperti sebuah mitos dan mereka tidak merasa perlu menghormati-Nya, apalagi berurusan dengan Dia.
Hidup di hadirat Allah adalah pengalaman nyata atau riil, konkret, dan natural. Nyata atau riil, dan konkret artinya bisa dibuktikan, bukan sesuatu yang abstrak. Natural artinya sesuatu yang berlangsung secara alami, bukan dibuat-buat atau berunsur kepura-puraan. Bagi orang percaya yang mengalami hidup di hadirat Allah, hidup seperti ini sudah otomatis mengalir dalam hidupnya, tanpa ia rekayasa. Dalam Alkitab, kita menemukan begitu banyak kisah mengenai orang yang hidup di hadirat Allah, yang sama dengan hidup di hadapan Allah. Bagi mereka, pengalaman hidup di hadapan Allah adalah sesuatu yang berlang...