Semakin kita memiliki karakter seperti Yesus, semakin kita dapat menyatu dengan Allah. Inilah sebenarnya isi dan tujuan hidup kita sebagai umat pilihan. Inilah tujuan kita bergereja dan tujuan seluruh kegiatan pelayanan ini. Dalam 1 Korintus 6:17 firman Tuhan mengatakan, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Menjadi satu Roh berarti suatu persekutuan yang harmoni dan ideal dengan Dia. Hal ini sesuai dengan doa Yesus di Lukas 17:21 yang tertulis demikian: “… supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Banyak lagi ayat yang menunjukkan bahwa orang percaya harus bersekutu dengan Allah sesuai dengan standar Allah, oleh karenanya kita harus juga memiliki kesucian dengan standar Dia. Dalam hal ini, banyak orang Kristen yang tidak memedulikan standar kesucian tersebut.
Hendaknya kita berhati-hati dan waspada, jangan sampai kesibukan dalam kegiatan gereja secara teknis dan penyusunan program-program kegiatan gereja membuat kita menyimpang dari hal yang terpenting dalam hidup ini, yaitu memiliki karakter Kristus. Program gereja memang harus ada dan kegiatan secara teknis harus diselenggarakan secara profesional, perhitungan anggaran harus akurat, dan lain sebagainya yang bersifat manajemen, tetapi jangan sampai semua itu menyimpangkan kita dari tujuan kita dalam mengiring Yesus; yaitu dikembalikan ke rancangan semula Allah. Harus diingat, bahwa agenda kita satu-satunya adalah dikembalikan ke rancangan Allah semula. Oleh sebab itu, lebih dari kegiatan pelayanan gereja seorang pendeta atau siapa pun, kita harus lebih mengutamakan perubahan karakter untuk menjadi semakin seperti Yesus.
Fakta yang tidak dimegerti banyak orang, mengapa ada pendeta-pendeta yang giat dalam pelayanan tetapi tidak memiliki kehidupan moral yang baik, masih bisa melakukan pelanggaran moral, materialistis, suka berdebat untuk meninggikan diri, berebut kedudukan, mencari popularitas, dan banyak lagi yang bisa menjadi batu sandungan bagi jemaat awam? Penulis sebagai pendeta mengerti benar jawaban dari persoalan ini. Kegiatan pelayanan gereja seorang pendeta tidak secara otomatis dan signifikan mengubah karakter. Jadi, hendaknya kita tidak berpikir bahwa dengan kegiatan pelayanan, seseorang dapat menjadi suci atau hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Sebaliknya, kegiatan pelayanan gereja bisa menyimpangkan perhatian seorang pendeta kepada hal-hal teknis di luar dirinya, tetapi tidak memerhatikan keadaan batiniahnya sendirin (ke dalam). Biasanya, orang-orang seperti ini merasa bangga dan terhormat dengan gelar dan jabatan yang disandangnya. Padahal, semua itu tidak memiliki nilai apa-apa di hadapan Allah kalau tidak digunakan bagi kemuliaan Allah dengan tulus.
Tanpa disadari, ketika seorang pendeta yang belum memiliki karakter Kristus mengambil bagian dalam pelayanan, kegiatan pelayanannya menjadi sarana untuk memuaskan ambisi pribadi dan kepentingan-kepentingan yang tidak dipersembahkan bagi Allah dan Kerajaan-Nya. Pelayanan menjadi media hanya untuk “mencari nafkah.” Pendeta-pendeta seperti ini bukan berarti tidak bisa bisa berkhotbah. Mereka bisa memiliki gelar kesarjanaan yang tinggi, cakap berapologetika, berdebat, bahkan menilai orang lain dengan berani. Tetapi, mereka tidak memiliki roh yang lemah lembut dan tenteram yang berharga di mata Allah. Kalau dalam waktu panjang pendeta seperti itu tidak mengalami pembaharuan pikiran (metanoia) atau pertobatan, ia tidak akan pernah bisa diubah sampai mati. Hal ini akan sangat merugikan pelayanan pekerjaan Tuhan. Tetapi yang juga tidak kalah mengerikan adalah pendeta-pendeta seperti ini nanti akan tertolak dari hadirat Allah (Mat. 7:21-23). Aspek lain yang bisa terjadi, orang-orang yang disentuh oleh kegiatan pelayanan mereka kemungkinan besar banyak yang binasa di api kekal,