Konsep doa sangat dipengaruhi oleh pengertian mengenai siapa dan bagaimana Allah, serta bagaimana seharusnya manusia menempatkan diri di hadapan Allah dan membangun relasi atau hubungan dengan Dia. Oleh karena banyak orang Kristen memiliki konsep yang kurang tepat atau meleset mengenai Allah, maka mereka gagal mengenakan kehidupan Kristen yang dikehendaki oleh Tuhan. Tidak jarang pemahaman orang-orang Kristen tertentu dipengaruhi oleh ajaran agama lain, sebagai akibatnya, pengertian doanya pun tidak benar. Pengertian mengenai doa juga sangat memengaruhi kehidupan kekristenan secara menyeluruh dari segala aspek. Mengapa demikian? Sebab doa adalah bagian penting dalam kehidupan orang beragama atau bertuhan. Doa merupakan sarana orang beragama untuk berinteraksi dengan Allah. Kalau pengertian seseorang mengenai doa sudah salah, kualitas kehidupan imannya pasti rendah.
Hakikat doa dalam kekristenan pada dasarnya adalah suatu dialog atau relasi yang terus-menerus terjalin antara Allah dan umat dalam segala keadaan, dalam segala persoalan, dan di mana pun orang percaya berada. Jadi, kalau Alkitab dalam 1 Tesalonika 5:17 mengemukakan mengenai “doa tiada berkeputusan,” itu bukan berarti kita terus-menerus melipat tangan, menekuk lutut, atau melakukan sembahyang atau seremonial (upacara agama) dalam berurusan dengan Allah di ruang doa atau tempat-tempat tertentu. Melainkan hubungan dengan Allah yang terus-menerus, sehingga kita bisa memiliki sebuah fellowship, dialog, dan persekutuan yang tiada henti dengan Allah.
Kalau kita masuk ke wilayah kehidupan doa yang benar ini, kita bisa merasakan kegentaran akan Allah dan memasuki pengalaman kesucian hidup yang belum pernah kita alami sebelumnya, serta meningkat kualitasnya. Kegentaran dan takut akan Allah yang konsisten membuahkan kekuatan batin yang konsisten dalam menghadapi segala sesuatu. Yang pada puncaknya, kita dapat memahami bahwa di dalam hidup ini ternyata kita tidak boleh memiliki kepentingan apa pun, selain menyenangkan hati Allah, karena memang manusia diciptakan hanya untuk kepuasan hati Allah. Orang yang berdoa kepada Allah—dalam arti berdialog dan terus-menerus dalam interaksi dengan Allah—harus melepaskan segala kepentingan. Sehingga, dalam hidup ini hanya memiliki satu kepentingan, yaitu melakukan kehendak Allah dalam segala hal. Dengan demikian, barulah ia dapat berinteraksi dengan Allah secara benar. Allah tidak berurusan dengan mereka yang tidak menyediakan diri melayani perasaan Allah. Dengan demikian, seseseorang tidak akan bisa berdoa dengan benar.
Memang ketika seseorang masih dipandang kanak-kanak rohani oleh Allah atau baru menjadi Kristen, Tuhan tidak menuntutnya untuk dapat sepenuh hati hidup dalam pengabdian kepada-Nya. Tuhan memberi ruangan kepadanya untuk berinteraksi dengan Dia dalam doa, walaupun ia belum memiliki hati yang sepenuhnya dalam pengabdian kepada Allah. Tetapi ketika dipandang oleh Tuhan seseorang harus sudah dewasa, Tuhan menuntut orang percaya tersebut memiliki kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah. Jika tidak dilakukan, Allah tidak akan berurusan dengan orang-orang yang tidak hidup dalam pengabdian kepada-Nya secara penuh. Itu berarti orang tersebut tidak bisa membangun interaksi dengan Allah atau tidak memiliki ruangan di hadapan Allah untuk berdialog atau interaksi secara benar, sebab Allah menghendaki agar seseorang hanya mengabdi kepada satu tuan (Mat. 6:24).
Kita harus menerima dan mengakui bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat penuh atas hidup kita, secara absolut Allah mendominasi hidup kita. Jika kita mengakui dan menerima hal ini, kita tidak akan menujukan hidup kita kepada apa pun dan siapa pun. Kita hidup hanya untuk mengabdi kepada Allah secara penuh. Demikianlah sesungguhnya maksud dan tujuan manusia diciptakan oleh Allah. Sebagai makhluk ciptaan, kita harus menerima bahwa kita tidak memiliki hak sama sekali.