Tuhan Yesus mengajar mengenai kehidupan beribadah yang benar, yaitu ibadah yang tidak dipertontonkan atau ditunjukkan di depan orang lain. Dalam beberapa bagian di Alkitab Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menyinggung mengenai ibadah ini. Ibadah yang dipercakapkan Tuhan Yesus adalah memberi sedekah atau menolong orang dan berdoa (Mat. 4:23; 6:2). Memberi persembahan juga merupakan ibadah kepada Tuhan. Memberi persembahan juga tidak boleh sengaja dipertontonkan atau ditunjukkan di depan orang.
Tidaklah salah kalau orang tahu atau melihat apa yang kita lakukan dengan persembahan uang yang kita bawa kepada Tuhan. Tetapi menjadi salah, kalau persembahan yang kita bawa kepada Tuhan, sengaja kita tunjukkan supaya banyak orang dapat melihat atau mengetahuinya. Hal ini jelas merupakan upaya untuk mendapatkan kehormatan dari manusia. Tuhan mengecam praktik ibadah semacam ini.
Jemaat yang dewasa adalah jemaat yang diajar untuk memiliki pemahaman mengenai hidup Kristen yang benar, seperti yang diurai di bab-bab sebelumnya; bahwa segenap hidup kita adalah milik Tuhan. Tidak mengakui hal ini berarti menolak penebusan Tuhan. Dengan dimiliki oleh Tuhan, maka kita harus bersedia mengembalikan harta atau uang kita kepada Tuhan. Oleh karena porsi yang diberikan Tuhan kepada masing-masing kita berbeda, maka jumlah persembahan uang yang kita persembahkan pun juga berbeda. Harus dipahami bahwa jumlah bukanlah ukuran kesetiaan. Seorang janda yang memberi persembahan dua peser diakui Tuhan Yesus sebagai memberi lebih banyak (Luk. 21:1-4).
Jadi, persembahan yang benar bagi orang percaya adalah persembahan yang diberikan dengan kesadaran bahwa seluruh tubuh, nyawa, harta dan uang kita adalah milik Tuhan. Semua yang kita miliki harus dijadikan sebagai sarana pengabdian bagi Tuhan. Tentu harus seratus persen atau segenapnya. Dalam Alkitab Perjanjian Baru, kita dapat melihat contoh Zakheus yang memberikan setengah dari harta yang dimiliki (Luk. 19:8). Di zaman Kisah Para Rasul, orang percaya memberikan seluruh hartanya bagi Tuhan untuk kepentingan semua anggota komunitas orang percaya (Kis. 2:45; 4:36-37). Tetapi yang terpenting dalam memberi persembahan adalah kita tidak sengaja mempertontonkan kepada orang lain demi mendapat pujian atau sanjungan.
Sebaliknya, dari pihak gereja hendaknya tidak menyanjung-nyanjung orang tertentu karena persembahan uangnya dalam jumlah besar. Penghargaan gereja kepada mereka yang memberi persembahan tidak boleh menyesatkan. “Keramahtamahan” yang berlebihan kepada mereka yang memberi persembahan uang dalam jumlah besar, tidak mendidik jemaat. Keramahtamahan yang berlebihan tersebut memberi kesan seakan-akan ia berjasa bagi Tuhan. Karena hal tersebut, maka banyak orang kaya memberi persembahan karena sekadar hendak memperoleh pujian. Perlu dicatat di sini, bahwa ada orang-orang kaya yang haus kehormatan, mereka sudah memperoleh kehormatan di dunia sekuler di luar gereja, sekarang mereka mau memperoleh kehormatan di lingkungan gereja. Mereka berharap Tuhan pun menghormati mereka. Dalam hal ini pendeta dianggap mewakili Tuhan. Oleh sebab itu, pendeta harus memiliki integritas agar “tidak bisa dibeli” oleh orang-orang berduit banyak tersebut.
Jemaat harus diajar untuk memberi persembahan dengan benar. Bukan karena hendak mendapat pujian dan keramahtamahan yang berlebihan dari gereja atau motif lain yang salah. Jemaat harus memberi persembahan dengan prinsip bahwa dirinya sendiri sedang berurusan dengan Tuhan. Itulah sebabnya adalah baik kalau persembahan bisa disalurkan melalui mesin EDC yang tertutup, ATM yang tidak dilihat orang atau transfer antar bank. Jemaat bisa diajar agar mereka mempersiapkan persembahan sejak dari rumah. Jika perlu amplopnya pun sudah disiapkan oleh mereka sendiri. Hal ini adalah untuk mengajar jemaat memiliki sikap hati yang benar dalam memberi persembahan bagi Tuhan. Pihak gereja dapat menempatkan kotak persembahan di pintu masuk gereja,