Tidak ada cara lain untuk mengikut Yesus kecuali meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Kalau ditawarkan kekristenan tanpa meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, itu adalah jalan yang sesat. Sesat di sini bukan berarti membuat orang menjadi jahat, melainkan tidak akan membuat orang tersebut mencapai maksud keselamatan itu diadakan, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Orang Kristen yang masih mencintai dunia bukan berarti menjadi orang yang jahat, bejat, rusak, melanggar norma umum atau sekelas dengan penjahat yang layak dimasukkan penjara, melainkan tetap bisa menjadi orang beragama yang baik, rajin ke gereja, mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gereja, bahkan menjadi rohaniwan. Biasanya, orang-orang seperti tidak merasa perlu bertobat setiap hari. Mereka merasa puas dan nyaman dengan standar moral yang mereka miliki.
Banyak orang Kristen yang mengalami pergumulan dimana selama bertahun-tahun menjadi orang Kristen, tetapi merasa selalu gagal untuk menyenangkan hati Allah. Bertahun-tahun merindukan sebuah kehidupan yang sempurna, tetapi selalu gagal dan merasa tidak akan bisa menjangkaunya. Sampai suatu hari, setelah sekian puluh tahun jatuh bangun, baru dapat menemukan satu formula kehidupan yang mengubah hidup ini. Formula itu adalah “dhel.” Itulah sebabnya Allah harus memisahkan mereka dari agama Yahudi, agar kekristenan tidak bercampur dengan pola pikir agama Yahudi yang belum mengenal anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus. Dalam hal ini, Allah memisahkan mereka dari Yudaisme (agama Yahudi) agar orang percaya terpisah dari masyarakat yang agamais yang tidak memiliki kualitas hidup yang sesuai standar kesucian Allah.
Allah juga memisahkan orang-orang Kristen dari dunia secara umum melalui penganiayaan oleh kekaisaran Romawi. Orang percaya yang setia kepada Yesus akan ditangkap, dibakar hidup-hidup, menjadi makanan binatang buas, disalib, digoreng di belanga panas, dipancung, dan lain sebagainya. Kenyamanan hidup di dunia tertutup bagi orang percaya. Mereka tidak memiliki celah sekecil apa pun untuk meraih dunia dan menikmati kehidupan di bumi ini, kecuali kalau mereka bersedia menyangkal Yesus. Tetapi ternyata mereka lebih memilih menjadi martir—yaitu mati demi mempertahankan atau membela iman—daripada menyangkal Yesus. Pemisahan dari dunia mengondisikan mereka untuk tidak membuka hati mencintai dunia. Hal ini menyelamatkan mereka dari percintaan dunia. Kehidupan Kristen orang percaya pada abad mula-mula menjadi pola kekristenan yang benar, yaitu menjadi orang percaya harus melepaskan segala sesuatu. Allah meletakkan dasar kekristenan yang benar pada jemaat mula-mula yang masih “bayi.” Mengikut Yesus berarti hidup seperti Yesus hidup.
Kesalahan banyak orang Kristen hari ini adalah ketika mereka berpikir bahwa untuk tidak mencintai dunia tidak perlu mengalami tindakan “dhel.” Mereka hanya meyakini adanya proses untuk dapat terlepas dari percintaan dunia. Padahal, orang percaya harus memutuskan dan menetapkan hati untuk meninggalkan dunia sedini mungkin. Hal ini harus berangkat dari tekad dalam diri sendiri sebagai komitmen. Yesus sendiri yang mengajarkan kepada orang percaya untuk secara radikal meninggalkan dunia. Berarti harus ada keputusan atau ketetapan hati betindak “dhel.” Proses adalah pengalaman yang pasti dialami orang percaya untuk bertumbuh menjadi dewasa, tetapi harus ada tindakan “dhel.” Tindakan “dhel” dan usaha untuk setiap hari memperbarui langkah “dhel” dapat memulai dan mempercepat proses pendewasaan guna menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
Banyak orang berpikir bahwa kita harus melewati proses tertentu untuk bisa masuk episentrum atau pusat pusaran kebenaran tanpa komitmen yang bulat. Mereka berpikir bahwa yang penting “mengalir saja.” Cara berpikir ini tidak menggiring orang percaya menjadi “kokoh” dalam mengikut Yesus. Yesus sendiri,