Banyak orang Kristen yang disesatkan oleh pikirannya yang tidak mengerti kebenaran Alkitab secara tepat. Mereka merasa kalau sudah percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat yang mati di kayu salib, mengangkut dosa, dan menjadi Pendamai antara Allah dan manusia, maka mereka secara otomatis sudah berkeadaan diperdamaikan dengan Allah. Padahal, faktanya mereka belum berdamai dengan Allah. Memang Yesus membawa pendamaian, namun banyak orang Kristen yang belum memberi dirinya diperdamaikan dengan Allah. Secara nalar, mereka merasa sudah diperdamaikan dengan Allah, tetapi kenyataannya, dari perilaku hidupnya menunjukkan bahwa mereka adalah seteru atau musuh Allah.
Dalam Filipi 3:18-19 tertulis, Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. Walaupun sudah menjadi orang Kristen, tetapi kalau masih duniawi, maka mereka berkeadaan sebagai musuh Allah, karena orang yang mengasihi dunia ini menjadikan dirinya musuh Allah (Yak. 4:4). Mengasihi dunia artinya orang yang hidupnya masih bisa dibahagiakan oleh dunia ini, sehingga terikat dengan materi dunia dan perbuatan yang tidak sesuai dengan kesucian Allah.
Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya belum berdamai dengan Allah, sebab mereka masih mencintai dunia dan tidak hidup dalam kekudusan Allah. Itulah sebabnya, tidak ada usaha yang sungguh-sungguh untuk membangun perdamaian dengan Allah. Pada waktu merayakan Natal pada bulan Desember, semua orang Kristen mengatakan bahwa Yesus telah datang ke dunia, kedatangan-Nya menyelamatkan manusia. Semua mengucap syukur, dalam suasana euforia merayakan kedatangan Sang Juruselamat. Dari kehebohan dan hingar bingar serta kemeriahan Natal yang dirayakan, dikesankan bahwa semua mereka telah memiliki keselamatan atau diperdamaikan dengan Allah. Padahal, faktanya banyak dari mereka yang belum berdamai dengan Allah atau tidak memberi diri untuk diselamatkan.
Banyak orang Kristen berpikir bahwa keselamatan diterima secara otomatis ketika seseorang mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat. Kemudian mereka merasa sudah berdamai dengan Allah karena mengakui Yesus adalah sarana pendamaian antara Allah dengan manusia. Doktrin dalam sistematika teologi pada umumnya memformat demikian, sehingga jemaat terformat dalam pikirannya bahwa mengakui Yesus sebagai sarana pendamaian antara Allah dengan manusia berarti sudah berkeadaan berdamai dengan Allah. Ini sebuah pengajaran yang menyesatkan. Banyak teolog dan jemaat yang mendengar ajarannya berpandangan demikian. Keadaan ini menempatkan mereka menjadi orang yang beragama Kristen tanpa perdamaian dengan Allah atau tanpa keselamatan. Keadaan ini mengondisi mereka tidak mengerjakan keselamatan, sehingga kehidupan mereka tidak dikembalikan ke rancangan Allah semula. Sangat mengerikan, seolah-olah Allah sendiri diam atau senyap. Jadi, kalau seseorang tidak bertindak sungguh-sungguh untuk memeriksa diri dan bertobat, maka ia tidak menyadari keadaan tersebut.
Kita harus melihat bahwa perdamaian dengan Allah memiliki dua aspek. Pertama, ketika kita masih belum mengenal Yesus, Yesus sudah mati bagi kita. Ini pendamaian aspek secara pasif. Kedua, ada tanggung jawab dari pihak kita untuk memberi diri didamaikan dengan Allah dengan usaha mengubah diri, yaitu tidak mencintai dunia dan hidup dalam kekudusan Allah. Ini adalah aspek aktif. Kenyataan yang kita saksikan dalam kehidupan banyak orang Kristen, mereka tidak mengerti adanya tanggung jawab ini. Banyak orang Kristen merasa sudah diperdamaikan dengan Allah, sehingga tidak ada usaha yang sungguh-sungguh di dalam mengisi hidup kekristenannya untuk melakukan perdamaian dengan Allah. Padahal,